Minggu, 16 Oktober 2011

Pendidikan Matematika SD: MAKALAH PENDIDIKAN MATEMATIKA SD IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD BERDASARKAN TEORI GAGNE

MAKALAH PENDIDIKAN MATEMATIKA SD
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD
BERDASARKAN TEORI GAGNE
A. Teori Belajar Gagne
Gagne mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus-menerus, bukan hanya disebabkan oleh pertumbuhan saja. Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatannya mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari sebelum ia mengalami situasi dengan setelah mengalami situasi tadi. Belajar dipengaruhi oleh faktor dalam diri dan faktor dari luar siswa di mana keduanya saling berinteraksi.
Komponen-komponen dalam proses belajar menurut Gagne dapat digambarkan sebagai S - R. S adalah situasi yang memberi stimulus, R adalah respons atas stimulus itu, dan garis di antaranya adalah hubungan di antara stimulus dan respon yang terjadi dalam diri seseorang yang tidak dapat kita amati, yang bertalian dengan sistem alat saraf di mana terjadi transformasi perangsang yang diterima melalui alat dria. Stimulus ini merupakan input yang berada di luar individu dan respon adalah outputnya, yang juga berada di luar individu sebagai hasil belajar yang dapat diamati. Menurut Gagne belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung. objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki, kemampuan memecahkan masalah, ketekunan, ketelitian, disiplin diri, bersikap positif terhadap matematika. Sedangkan objek tak langsung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip. Fakta adalah konvensi (kesepakatan) dalam matematika seperti simbol-simbol matematika. Fakta bahwa 2 adalah simbol untuk kata ”dua”, simbol untuk operasi penjumlahan adalah ”+” dan sinus suatu nama yang diberikan untuk suatu fungsi trigonometri. Fakta dipelajari dengan cara menghafal, drill, latiahan, dan permainan. Keterampilan(Skill) adalah suatu prosedur atau aturan untuk mendapatkan atau memperoleh suatu hasil tertentu. contohnya, keterampilan melakukan pembagian bilangan yang cukup besar, menjumlahkan pecahan dan perkalian pecahan desimal. Para siswa dinyatakan telah memperoleh keterampilan jika ia telah dapat menggunakan prosedur atau aturan yang ada dengan cepat dan tepat.keterampilan menunjukkan kemampuan memberikan jawaban dengan cepat dan tepat. Konsep adalah ide abstrak yang memunkinkan seseorang untuk mengelompokkan suatu objek dan menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak tersebut.
Contoh konsep himpunan, segitiga, kubus, lingkaran. siswa dikatakan telah mempelajari suatu konsep jika ia telah dapat membedakan contoh dan bukan contoh. untuk sampai ke tingkat tersebut, siswa harus dapat menunjukkan atribut atau sifat-sifat khusus dari objek yang termasuk contoh dan yang bukan contoh. Prinsip adalah pernyataan yang memuat hubungan antara dua konsep atau lebih. Prinsip merupakan yang paling abstrak dari objek matematika yang berupa sifat atau teorema. Contohnya, teorema Pytagoras yaitu kuadrat hipotenusa pada segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat dari dua sisi yang lain. Untuk mengerti teorema Pytagoras harus mengetahui konsep segitiga siku-siku, sudut dan sisi. Seorang siswa dinyatakan telah memahami prinsip jika ia dapat mengingat aturan, rumus, atau teorema yang ada; dapat mengenal dan memahami konsep-konsep yang ada pada prinsip tersebut; serta dapat menggunakannya pada situasi yang tepat. Berdasarkan analisisnya tentang kejadian-kejadian belajar, Gagne menyarankan kejadian-kejadian instruksi. Menurut Gagne, bukan hanya guru yang dapat memberikan instruksi kejadian-kejadian belajarnya dapat juga diterapkan baik pada belajar penemuan, atau belajar di luar kelas, maupun belajar dalam kelas. Tetapi kejadian-kejadian instruksi yang dikemukakan Gagne ditunjukkan pada guru yang menyajikan suatu pelajaran pada sekelompok siswa-siswa. Kejadian-kejadian instruksi itu adalah :1. Mengaktifkan motivasi (activating motivation)2. Memberi tahu tujuan-tujuan belajar3. Mengarahkan perhatian (directing attention)4. Merangsang ingatan (stimulating recall)5. Menyediakan bimbingan belajar6. Meningkatkan retensi (enhancing retention)7. Melancarkan transfer belajar Robert M. Gagne membedakan pola-pola belajar siswa ke delapan tipe belajar, dengan tipe belajar yang rendah merupakan prasyarat bagi lainnya yang lebih tinggi hierarkinya. Hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut:Belajar Isyarat (Signal Learning)Signal learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya. Dalam tipe ini terlibat aspek reaksi emosional di dalamnya. Kondisi yang diperlukan buat berlangsungnya tipe belajar ini adalah diberikannya stimulus (signal) secara serempak, stimulus-stimulus tertentu secara berulang kali. Respon yang timbul bersifat umum dan emosional, selainnya timbulnya dengan tak sengaja dan tidak dapat dikuasai.Rantai atau Rangkaian hal (Chaining)Tipe belajar ini masih mengandung asosiasi yang kebanyakan berkaitan dengan keterampilan motorik. Chaining ini terjadi bila terbentuk hubungan antara beberapa S-R, oleh sebab yang satu terjadi segera setelah yang satu lagi, jadi berdasarkan ”contiguity”. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe balajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prinsip kesinambungan, pengulangan, dan reinforcement tetap penting bagi berlangsungnya proses chaining.Asosiasi Verbal (Verbal Association)Asosiasi verbal adalah rangkaian dari stimulus verbal yang merupakan hubungan dari dua atau lebih tindakan stimulus respon verbal yang telah dipelajari sebelumnya. Tipe paling sederhana dari belajar rangkaian verbal adalah asosiasi antara suatu objek dengan namanya yang melibatkan belajar rangkaian stimulus respon dari tampilan objek dengan karakteristiknya dan stimulus respon dari pengamatan terhadap suatu objek dan memberikan tanggapan dengan menyebutkan namanya.Belajar Diskriminasi (Discrimination Learning)Discrimination learning atau belajar menmbedakan sejumlah rangkaian, mengenal objek secara konseptual dan secara fisik. Dalam tipe ini anak didik mengadakan seleksi dan pengujian di antara dua peransang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respon yang dianggap sesuai. Kondisi utama bagi berlangsungnya proses belajar ini adalah anak didik sudah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta pengalaman (pola S-R). Contohnya: anak dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lain; juga tanaman, binatang, dan lain-lain. Guru mengenal anak didik serta nama masing-masing karena mampu mengadakan diskriminasi di antara anak-anak.Belajar konsep (Concept Learning)Belajar konsep adalah mengetahui sifat-sifat umum benda konkrit atau kejadian dan mengelompokan objek-objek atau kejadian-kejadian dalam satu kelompok. Dalam hal ini belajar konsep adalah lawan dari belajar dari diskriminasi. Belajar diskriminasi menuntut siswa untuk membedakan objek-objek karena dalam karakteristik yang berbeda sedangkan belajar konsep mengelompokkan objek-objek karena dalam karakteristik umum dan pembahasan kepada sifat-sifat umum.Belajar Aturan (Rule Learning)Belajar aturan (Rule learning) adalah kemampuan untuk merespon sejumlah situasi (stimulus) dengan beberapa tindakan (Respon). Kebanyakan belajar matematika adalah belajar aturan. sebagai contoh, kita ketahui bahwa 5 x 6 = 6 x 5 dan bahwa 2 x 8 = 8 x 2; akan tetapi tanpa mengetahui bahwa aturannya dapat dinyatakan dengan a x b = b x a. Kebanyakan orang pertama belajar dan menggunakan aturan bahwa perkalian komutatif adalah tanpa dapat menyatakan itu, dan biasanya tidak menyadari bahwa mereka tahu dan menerapkan aturan tersebut. Untuk membahas aturan ini, harus diberikan verbal(dengan kata-kata) atau rumus seperti “ urutan dalam perkalian tidak memberikan jawaban yang berbeda” atau “untuk setiap bilangan a dan b, a x b = b x a.Pemecahan Masalah (Problem solving)Tipe belajar ini menurut Gagne merupakan tipe belajar yang paling kompleks, karena di dalamnya terkait tipe-tipe belajar yang lain, terutama penggunaan aturan-aturan yang disertai proses analisis dan penarikan kesimpulan. Pada tingkat ini siswa belajar merumuskan memecahkan masalah, memberikan respon terhadap ransangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik. Tipe belajar ini memerlukan proses penalaran yang kadang-kadang memerlukan waktu yang lama, tetapi dengan tipe belajar ini kemampuan penalaran siswa dapat berkembang. Dengan demikian poses belajar yang tertinggi ini hanya mungkin dapat berlangsung apabila proses belajar fundamental lainnya telah dimiliki dan dikuasai.B. Implementasi Pembelajaran Matematika SD Berdasarkan Teori GagneTeori belajar Gagne dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di Indonesia. Ada beberapa pendekatan dan langkah-langkah agar bisa menerapkan teori tersebut dalam proses pembelajaran.Materi yang akan diambil adalah pembelajaran mengenai mengenai pengenalan operasi penjumlahan serta pengurangan pada siswa kelas rendah. Alat peraga berupa gambar lambang bilangan, gambar lambang operasi bilangan dan media kongkrit (misal: permen, apel, pensil, wafer)Berdasarkan konsep Sembilan Kondisi Intruksional Gagne maka kita bisa menyusun rancangan kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:1. Memperoleh PerhatianKegiatan ini merupakan proses guru dalam memberikan stimulus kepada siswa dengan cara meyakinkan siswa bahwa mempelajari materi tersebut itu penting. Hal ini bisa dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan ringan seputar materi yang akan disajikan.Contoh : mengajak siswa berkenalan dengan bilangan dan mengetahui lambang bilangan dengan cara memulai komunikasi dengan siswa. Guru menunjukkan alat peraga berupa gambar-gambar lambang bilangan serta media-media yang menarik agar siswa memfokuskan diri untuk memulai pelajaran.2. Memberikan Informasi Tujuan PembelajaranDalam hal ini guru harus mengupayakan untuk memberitahu siswa akan tujuan pembelajaran. Sehingga siswa mengetahui tujuan dari materi pembelajaran yang dipelajarinya. Ini sangat penting dilakukan agar siswa lebih termotivasi untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran.Contoh: guru memberikan informasi menarik bahwa pembelajaran kali ini kita akan belajar mengenai operasi bilangan. Guru juga mengucapkan bahwa setelah pelajaran ini siswa dapat berhitung, sehingga besok bisa menghitung jumlah barang yang ia (siswa) miliki baik dari pemberian barang oleh orang lain ataupun barang yang sebelumnya sudah ia miliki.3. Merangsang siswa untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajariUpaya merangsang siswa dalam mengingat materi yang lalu bisa dilakukan dengan cara bertanya tentang materi yang telah diajarkan.Contoh: guru menanyakan tentang nama bilangan yang guru tunjukkan. Dalam hal ini guru sudah menyiapkan media berupa gambar lambang bilangan.4. Menyajikan stimulusMenyajikan stimulus bisa dilakukan dengan cara guru menyajikan materi pembelajaran secara menarik dan menantang. Sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung.Contoh: guru membagi siswa kedalam 4 kelompok. Dalam pembagian kelompok ini guru juga mengajak siswa untuk menghitung berapa jumlah teman dalam satu kelomponya. Pada tiap-tiap kelompok, guru membagikan masing-masing 10 permen. Dalam hal ini tentu siswa sudah bertanya-tanya, keadaan ini semakin dirangsang oleh guru dengan mengatakan bahwa kegiatan kali ini adalah lomba menghitung. Aturan mainnya tiap anggota kelompok bekerjasama menjawab pertanyaan guru mengenai penjumlahan dan pengurangan yang guru lakukan menggunakan media benda. Apabila kelompok tersebut salah maka kelompok tersebut wajib mensodaqohkan satu buah permennya kepada kelompok lain.5. Memberikan bimbingan kepada siswaSeyogyanga guru harus membimbing siswa dalam proses belajarnya. Sehingga siswa dapat terarah dalam pembelajarannya.Contoh: dalam proses penghitungan/pemberian soal yang diberikan oleh guru, siswa satu kelompok diminta untuk menghitungnya sembari guru menunjukkan jumlah bilangan tersebut.6. Memancing KinerjaMemantapkan apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari itu.Contoh: guru memancing kinerja berupa mengajak berhitung siswa satu kelas tentang hasil penghitungan yang dilakukan oleh kelompok lain.7. Memberikan balikanMemberikan feedback atau balikan dengan memberitahukan kepada murid apakah hasil belajarnya benar atau tidak.Contoh: guru menanyakan kepada siswa sudah benar atau belum. Hal ini juga semakin memantapkan hasil penghitungan yang dilakukan oleh siswa.8. Menilai hasil belajarMenilai hasil-belajar dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengetahui apakah ia telah benar menguasai bahan pelajaran itu dengan memberikan beberapa soal.Contoh: meminta siswa menulis hasil penjumlahan yang dilakukan dalam permainan tadi menggunakan lambang bilangan yang benar.9. Mengusahakan transferMengusahakan transfer dengan memberikan contoh-contoh tambahan untuk menggeneralisasi apa yang telah dipelajari itu sehingga ia dapat menggunakannya dalam situasi-situasi lain.Contohnya: ajak siswa memecahkan masalah yang diceritakan oleh guru sebelum pelajaran selesai

Sabtu, 15 Oktober 2011

Tips Aman Menggunakan Internet

Tips Aman Menggunakan Internet- Pengguna internet di Indonesia sekarang ini terus meningkat. Berdasarkan informasi dari Kementrian Komunikasi dan Informatika yang dihimpun  detikinet jumlah pengguna internet di Indonesia sampai tahun 2010 mencapai 45 juta orang dengan akses ponsel dan komputer. Pengunaan Internet dewasa ini untuk berbagai keperluan. ada yang sekedar untuk area chating, beriteraksi dalam sosial network seperti facebook-an, twitter-an dan ada yang sekedar berselancar tanpa tujuan jelas. Namun sekarang ini internet juga semakin banyak digunakan untuk pencarian informasi bahkan bisnis internet pun makin menggeliat di Indonesia. Ini merupakan perkembangan yang menggembirakan, karena internet digunakan untuk kegiatan positif dan produktif.
Internet dapat diibaratkan sebuah kota, dengan beragam motivasi dan kegiatan para penggunanya, ada yang baik tapi tidak sedikit pula yang jahat. Untuk itu saat kita menggunakan kecanggihan teknologi siap saji ini kita hendaknya berhati-hati agar dapat terhindar dari jebakan dan kejahatan yang sengaja dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ketidak pahaman melindungi diri para pengguna internet mengakibtkan berbagai hal yang kontraproduktif. Niat mencari informasi terkait dengan tugas, pekerjaan, bisnis, tekologi, agama yang sangat positif bisa-2 malah terjebak pada informasi atau gambar yang negatif. Karena memang di internet semua informasi dan gambar tersedia bebas dan mudah diakses, cukup tulis kata di google dan enter maka akan muncul banyak informasi.
Banyak penguna internet tanpa menyadari ternyata komputernya telah menjadi sarang virus. Belum lagi jebakan para hecker yang sengaja membuat pishing dengan menggunakan cara dan bahasa yang sangat profesional. Oleh karena itu selayaknya anda para penguna internet selalu waspada pada saat di internet.

Tips berikut ini mungkin berguna bagi para pengguna internet;

1. Pasang / install program antivirus di komputer anda dan usahakan selalu update
2. Aktifkan fitur firewall ( dinding pengaman ) di komputer anda
3. Jangan membuka email yang tidak jelas sumbernya, masukkan ke spam atau hapus saja email tersebut
4. Gunakan kombinasi angka, huruf, dan simbol saat membuat password agar sulit ditebak. Jangan menggunakan tgl lahir, nama anggota keluarga dan hal lain pada akun pendaftaran.
5. Jangan menggunakan password yang sama pada semua akun anda di internet
6. Untuk orang tua sebaiknya sering-sering memeriksa anaknya ketika mengunakan komputer/internet
7. Jangan meletakkan komputer di kamar anak, agar orang tua mudah mengontrol/mengawasi.
Nah dengan tips ringan tersebut semoga dapat meminimalisir dampak negatif saat menggunakan internet.

Media Pembelajaran: Pemilihan Media Pembelajaran




Pembelajaran yang efektif memerlukann perencanaan yang baik. Media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa seorang guru memilih salah satu media dalam kegiatannya di kelas atas dasar pertimbangan antara lain:
a)      Ia merasa sudah skrab dengan media itu, yaitu papan tulis atau proyektor.
b)      Ia merasa bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri, misalnya diagram pada flip chart, atau
c)      Media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian siswa, serta menuntunnya pada penyajian yang lebh terstruktur dan terorganisasi.
Pertimbangan ini diharapkan oleh guru dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencapai tujuan yang telah ia terapkan.

            Heinich, dan kawan-kawan (1982) mengajukan model perencanaan penggunaan media yang efektif yang dikenal dengan istilah ASSURE. (ASSURE adalah singkatan dari Analyze learner characteristics, State objective, Select, or modify media, Utilize, Require learner response, and Evaluate). Model ini menyarankan 6 kegiatan utama dalam perencanaan pembelajaran sebagai berikut:
(A)  Menganalisis karakteristik umum kelompok sasaran, apakah mereka siswa sekolah lanjutan atau perguruan tinggi, anggota organisasi pemuda, perusahaan, usia, jenis kelamin, latar belakang budaya dan sosial ekonomi, serta menganalisis karakteristik khusus mereka yang meliputi antara lain pengetahuan, keterampilan, dan sikap awal mereka.
(S) Menyatakan atau memutuskan tujuan pembelajaran, yaitu perilaku atau kemampuan baru apa (pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang diharapkan siswa miliki dan kuasai setelah proses belajar-mengajar selesai. Tujuan ini akan mempengaruhi pemilihan media dan urut-urutan penyajian dan kegiatan belajar.
(S) Memilih, memodifikasi, atau merancang dan mengembangkan materi dan media yang tepat. Apabila materi dan media pembelajaran yang telah tersedia akan dapat mencapai tujuan, materi dan media itu sebaiknya digunakan untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Di samping itu perlu pula diperhatikan apakah materi dan media itu akan mampu membangkitkan minat siswa, memiliki ketepatan informasi, memiliki kualitas yang baik, memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi, telah terbukti efektif  jika prnah diujicobakan, dan menyiapkan petunjuk untuk berdiskusi atau kegiatan follow-up. Apabila materi dan media yang ada tidak cocok dengan tujuan atau tidak sesuai dengan sasaran partisipan, materi dan media itu dapat dimodifikasi. Jika tidak memungkinkan untuk memodifikasi yang telah tersedia, barulah memilih alternatife ketiga yaitu merancang dan mengembangkan materi dan media yang baru. Tentu saja kegiatan ini jauh lebih mahal dari segi biaya, waktu dan tenaga. Namun demikian, kegiatan ini memungkinkan untuk menyiapkan materi dan media yang tetap dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
(U) Menggunakan materi dan media, yaitu memilih materi dan media yang tepat, prakrik dan latihan menggunakan media, persiapan ruangan, mempersiapkan fasilitas yang diperlukan seperti meja, listrik, layar dll.
(R) Meminta tanggapan dari siswa, guru sebaiknya mendorong siswa untuk memberikan  tanggapan atau umpan balik mengenai keefektifan proses belajar mengajar sehingga siswa akan ikut berpartisipasi yang lebih besar.
(E) Mengevaluasi proses belajar, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa mengenai tujuan pembelajaran, keefektivan media, pendekatan, dan guru.
Dalam memilih media harus memperhatikan faktor-faktor berikut:
1.      Hambatan pengembangan dan pembelajaran. Meliputi faktor dana, alat dan fasilitas yang tersedia, waktu yang tersedia, sumber-sumber yang tersedia.
2.      Persyaratan isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Misalnya penghafalan, penerapan keterampilan, penalaran dan pemikiran tingkatan yang lebih tinggi. Setiap kategori pembelajaran menuntut perilaku yang berbeda-bedasehingga memerlukan teknik dan media penyajian yang berbeda.
3.      Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan    ketrampilan awal, seperti membaca, mengetik, menggunakan komputer dll.  
4.      Pertimbangan lainnya adalah tingkat kesenangan (preferensi lembaga, guru, dan pelajar) dan keefektifan biaya.
5.      Pemilihan media sebaiknya mempertimbangkan pula :
a.       Kemampuan mengakomodasikan penyajian stimulus yang tepat (visual dan / atau audio)
b.      Kemampuan mengakomodasikan respons siswa yang tepat (tertulis, audio,dan/ atau kegiatan fisik)
c.       Kemampuan mengakomodasikan umpan balik
d.      Pemilihan media utama dan media sekunder untuk penyajian informasi atau stimulus, dan untuk latihan dan tes (sebaiknya latihan dan tes menggunakan media yang sama). Misalnya, untuk tujuan belajar yang melibatkan penghafalan
6.      Media sekunder harus mendapat perhatian karena pembelajaran yang berhasil  menggunakan media yang beragam
Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut :
1.      Motivasi. Harus ada kebutuhan, minat, atau keinginan untuk belajar dari pihak siswa sebelum meminta perhatiannya untuk mengerjakan tugas dan latihan. Oleh karena itu, perlu untuk melahirkan minat itu dengan perlakuan yang memotivasi dari informasi yang terkandung dalam media pembelajaran itu.
2.      Perbedaan Individual. Siswa belajar dengan cara dan tingkat kecepatan yang berbeda-beda.  Faktor-faktor seperti kemampuan intelegensia, tingkat pendidikan, kepribadian dan gaya belajar mempengaruhi kemampuan dan kesiapan siswa untuk belajar.
3.      Tujuan Pembelajaran. Jika siswa diberitahukan apa yang diharapkan mereka pelajari melalui media pembelajaran itu, kesempatan untuk berhasil dalam pembelajaran semakin besar. Di samping itu pernyataan mengenai tujuan belajar yang ingin dicapai dapat menolong perancang dan penulis materi pelajaran. Tujuan ini akan menentukan bagian isi yang mana yang harus mendapatkan perhatian pokok dalam media pembelajaran.
4.      Organisasi Isi : Ketrampilan fisik yang akan di pelajari di atur dalam urut – urutan yang bermakna.
5.      Persiapan sebelum belajar : Menguasai secara baik pelajaran dasar atau memiliki pengalaman yang di perlikan secara memadai yang mungkin merupakan prasyarat untuk menggunakan media dengan sukses.
6.      Emosi : Pembelajaran yang melibatkan emosi dan perasaan pribadi serta kecakapan anak berpengaruh dan bertahan,
7.      Partisipasi : Agar pembelajaran berlangsung dengan baik, seorang siswa harus menginternalisasikan informasi, tidak sekedar diberitahukan kepadanya.
8.      Upan Balik : Hasil belajar dapat meningkat apabila secara berkala siswa di informasikan kemajuan belajar.
9.      Penguatan ( reinforcement ) : Apabila siswa berhasil belajar, ia di dorong untuk terus belajar.
10.  Latihan dan Pengulangan : Sesuatu hal baru jarang sekali dapat di pelajari secara efektif hanya dengan sekali jalan.
11.  Penerapan : Hasil belajar yang di inginkan adalah meningkatkan kemampuan seseorang untuk menerapkan atau mentrasferkan hasil belajar pada masalah atau situasi baru.
Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan media yaitu antara lain:
1.      Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Yaitu tujuan secara kognitif, afektif, dan psikomotor. Dapat dilakukan dengan cara menghafal, melakukan kegiatan yang melibatkan kegiatan fisik atau pemakaian prinsip-prinsip, melakukan tugas yang melibatkan pemahaman konsep-konsep atau hubungan-hubungan perubahan dan membutuhkan pemikiran yang lebih tinggi.
2.      Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi. Agar dapat membantu proses pembelajaran secara efektif media harus selaras dan sesuai dengan kebutuhan tugas pembelajaran dan kemampuan mental siswa.
3.      Praktis, luwes dam bertahan.  Guru seharusnya memilih media yang ada, mudah diperoleh, atau mudah dibuat sendiri oleh guru. Media sebaiknya dapat digunakan dimanapun kapanpun dengan peralatan yang ada disekitarnya, serta mudah dipindahkan dan dibawa kemana-mana.
4.      Guru terampil menggunakannya. Apapun medianya guru harus mampu dan teampil menggunakanya karena nilai dan nmanfaat media amat ditentukan oleh guru yang menggunakanya.
5.      Pengelompokan sasaran. Media harus disesuaikan dengan ukuran kelompok yaitu kelompok besar, kecil, atau untuk ukuran sedang bahkan perorangan.
6.      Mutu teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotograf harus memenuhi persyaratan teknis tertentu. Misal ketika kita membuat slide maka kita harus mengutamakan isi dari pesan yang akan kita sampaikan jangan sampai pesan yang akan kita sampaiakan terganggu oleh elemen lain yang berupa latar belakang maupun animasi gambarnya.

Cara Kirim Saldo Paypal Bebas Biaya

Mengirim Saldo PayPal bebas biaya-PayPal merupakan alat pembayaran online terbesar diantara alat pembayaran online lainya. Bagi pebisnis online yang sudah lama malang melintang di bisnis dunia maya pasti ga asing lagi dengan PayPal. Selain Paypal ada juga yang menggunakan Alertpay ataupun Liberty Reserve dalam bertransaksi online. Dengan menggunakan alat pembayaran digital online tersebut maka para pebisnis dengan mudah menerima dan mengirimkan pembayaran ke seantero dunia.
Bila Anda belum memiliki akun Paypal silahkan baca cara membuat akun Paypal dan verifikasi paypal, baca juga cara memverifikasi Alertpay. Bila bisnis makin berkembang maka intensitas dan kuantitas transaksi juga akan semakin meningkat. Sejalan dengan itu biasanya juga diikuti dengan bertambahnya biaya yang dikeluarkan, kerennya orang sebut biaya operasional, so pasti hasilnya lebih besar dunk. Dalam Ilmu ekonomi berlaku hukum ekonomi dengan biaya minimal mencapai hasil optimal, maksudnya biaya yang dikeluarkan wajar mana yang bisa diperkecil maka diperkecil, mana yang bisa ditiadakan maka perlu dihilangkan.Misalnya biaya dalam pengiriman saldo paypal.
Jika akun Paypal Anda statusnya masih premier maka anda masih dapat menghindari biaya kirim. Pihak Paypal akan mengenakan/memotong sejumlah biaya pengiriman kepada penerima saldo. Meskipun biaya itu dibebankan kepada penerima dan saldo anda tidak dikurangi dengan biaya, tetapi dalam rangka menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan mitra bisnis anda maka sewajarnya anda memberi service yang baik/memuaskan.
Untuk menghindari biaya pengiriman saldo paypal dapat ditempuh dengan cara;

1. Login ke akun Paypal Anda
2. Klik Send Payment 
3. Tulislah email paypal mitra bisnis yang akan anda kirim  pada kotak To (email)
4. Tulislah jumlah uang yang akan kirimkan  pada kotak Amount
5. Klik Personal Payment
5. Klik Other
6. Klik Continu

Maka akan ditampilkan catatan lengkap data transaksi yang baru saja anda buat. disana akan terlihat bahwa biaya pengiriman : $0,00. Dengan cara tersebut maka Mitra bisnis Anda akan menerima utuh sejumlah uang  yang Anda kirim tanpa potongan biaya sedikit pun. OK semoga info ini bermanfaat dan selamat berbisnis Online.

 

CERITA DI BALIK STUDI LANJUT

 Oleh : Ibrahim*
 
Pasca Sarjana (bukan paska) berarti setelah sarjana. Dalam dunia akademik, pasca merujuk pada dua level: S2 (Magister) dan S3 (Doktor). Seperti piramida, kondisi pendidikan kita di negeri ini memang masih menempatkan sarjana di lapis bawah, magister di lapis kedua, dan doktor di lapis yang mengerucut paling atas dengan jumlah yang terbatas.

Namun perlahan-lahan, tampaknya piramida itu akan mulai tidak membentuk siku-siku karena saat ini trend untuk mengambil S2 dan S3 sedang mendera negeri ini. Apalagi Undang-Undang Sisdiknas mengatur bahwa seorang dosen minimal bergelar S2. Ternyata bukan hanya kalangan dosen saja yang mulai mengikuti kecenderungan itu, gelar magister dan doktor nyatanya kini menjadi semacam gengsi, banyak politisi dan pejabat yang sekarang memburunya, walau dengan berbagai rupa cara yang acapkali tak "prosedural".

Jika mengikuti prosedur yang baku, meraih gelar magister dan doktor tentulah tidak mudah. Bukan saja berhadapan dengan substansi keilmuan yang ingin diraih, tetapi juga berkaitan dengan teknis dan pembiayaan yang kadang tidak bisa diajak kompromi. Setiap orang pun punya cerita dan masalah sendiri-sendiri.

Senior saya, Dr. Edy Nurtjahya mengatakan tidak ada masalah ketika mengambil S2 di Inggris karena mendapatkan beasiswa, namun ketika S3 di IPB, ia menemui masalah. Masalahnya adalah beasiswa BPPS hanya tiga tahun, padahal ia belum selesai ketika beasiswa sudah berakhir. Cerita Pak Dedih Sapjah, S.T., M.Sc lain lagi. Selama studi di Belanda ia harus berpisah dengan sang istri dan anak-anaknya. Alhasil, ketika mendapatkan tawaran mengambil S3 di Inggris beberapa waktu lalu, sang istri tak membolehkan lagi.

Rektor saya di UBB punya kisah yang lebih unik. Selama 11 bulan menuntut ilmu di Filipina, ia meninggalkan istri yang sedang merawat anak yang masih kecil. Dalam sebuah kesempatan, istri pak rektor bertutur: "Wah dulu bapak itu waktu studi di Filipina sering sekali berkirim surat. Sebentar-sebentar kirim surat untuk memastikan kondisi anak-anak. Kadang surat satu belum sampai, terus bapak udah ngirim surat lagi. Bapak kan sayang banget sama anak-anaknya".

Kisah Pak Made, Dosen Polman juga unik, ketika studi di Belanda mengambil gelar master, dia meninggalkan juga anak istrinya. Ketika ada teman saya yang iseng bertanya bagaimana dengan urusan biologis, sambil tersenyum kecut Pak Made menjawab: "Yah, bisa-bisa kita mengendalikannya".

Kisah teman saya Zainudin lain lagi. Setelah tertatih-tatih menyelesaikan pendidikan sarjananya di Filsafat UGM, dia bingung harus bagaimana, namun tekadnya untuk melanjutkan ke pendidikan magister sangat menggebu. Setelah lulus, diapun bergegas pulang ke kampung halamannya di Bima. Setengah memaksa ia meminta orangtuanya menjual sebidang tanah yang mereka miliki. Hasilnya ia gunakan untuk mendaftar di S2 Politik UGM, sisanya ia membuka usaha rental komputer. Dari situ ia kemudian membiayai pendidikannya dan juga mampu membiayai kedua adiknya. Setelah lulus magister, ia melamar ke banyak tempat, dan lamarannya nyantol di Depdagri. Kini ia menjadi orang kepercayaan deputi di departemennya. Ini berkat kegigihannya untuk meraih tekad, meski dengan keras dan jalan terjal.

Teman saya, Norman Ary di Bioteknologi UGM kini mandek dalam studinya. Harusnya tahun ini ia sudah bisa merampungkan disertasinya dan akan menjadi lulusan ke-8 jurusan bioteknologi UGM, namun ketiadaan dana untuk membantunya membeli alat ukur eksperimen ikannya senilai 25 juta sebanyak 4 buah menyebabkan ia tak bisa mengalami kemajuan studi. Setiap bertemu saya, dari kejauhan ia sudah memukul keningnya dengan telapak tangan pertanda bahwa ia belum menemukan solusi.

Cerita Pak Tarmizi, guru saya, yang mengambil magister di UNY ketika saya akan menyelesaikan S1 lebih dramatis. Setelah nekat melepaskan jabatannya di sebuah sekolah bergengsi demi studi lanjut, ia masih harus berjuang dengan pembiayaan. Ia tidak mendapatkan sponsor darimanapun, dari institusinya pun tidak. Dengan gajinya yang terbatas, ia harus mampu membagi antara dirinya, anaknya, dan istrinya yang terpaksa ditinggalkan demi studi. Secara rutin kami bertemu, karena kos beliau yang ukuran 2,5 x 3 meter berada tepat di depan kos kami.

Masih tentang guru saya, Pak Paizal, ia mengambil program magister atas sponsor dari LPPM. Ketika ia bermaksud menghadap bupati menjelang penelitian untuk tesisnya, ia berhadapan dengan kalimat yang kurang menyenangkan: "Pada prinsipnya saya akan mengirimkan orang untuk studi berdasarkan kebutuhan, jadi saya tidak bisa bantu banyak". Bukannya berterima kasih karena salah satu stafnya dibantu oleh institusi lain, malah justru sang bupati terkesan kurang simpatik.

Saya sendiri, sejak awal sudah berprinsip bahwa saya tidak akan mungkin mampu mengambil doktor tanpa dukungan dari sponsor. Saya mengirimkan aplikasi beasiswa ke banyak negara tujuan. Respon yang bagus datang dari beberapa negara, seperti Prof. Knut di Norwegia, Prof Hans di Jerman, Profesor John Keane di Inggris, Prof. Gerald di Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya. Sambil itu, saya pun mengikuti seleksi di The Habibie Center yang setiap periode seleksinya memilih 5 orang seluruh Indonesia. Hasilnya, saya dinyatakan diterima di The Habibie Center dan memulai studi pada pertengahan tahun 2009 di UGM. Tentu saya harus cuti dari mengajar dan dikembalikan ke gaji pokok. Dengan mengandalkan tunjangan beasiswa dan gaji pokok, saya harus pintar-pintar memenej alokasi untuk studi, kebutuhan anak istri, dan kebutuhan tak terduga lainnya. Ini adalah konsekuensi dari pilihan yang harus dijalani dengan konsisten.

Kisah-kisah di atas adalah kisah orang-orang yang menghadapi masalah karena pilihan yang diputuskannya sendiri. Selain berhadapan dengan sulitnya mencari pendanaan, meninggalkan anak dan istri, mereka juga umumnya berjibaku dengan mekanisme pendidikan yang full dan tak kenal kompromi. Oleh tempat belajar, mereka ditempa secara maksimal untuk menguasai substansi keilmuan.

Tetapi di balik kisah-kisah itu, ada banyak kisah-kisah orang yang mendapatkan kemudahan ketika studi lanjut. Hanya dengan kuliah di hotel-hotel mewah tanpa meninggalkan jabatan dan anak istri. Atau dengan kuliah hanya akhir pekan saja. Atau kuliah sambil tetap mengajar dan menjabat. Atau dengan beramai-ramai naik pesawat ke kota tertentu untuk pertemuan secara berkala saja. Yah, begitulah dua sisi dunia. Yin dan Yang istilahnya jika dalam filosofi Cina.
 
*Dosen FISIP UBB Sedang Studi Doktoral di Ilmu Politik UGM

Jobs, Mahasiswa Drop Out yang Merevolusi Jagat Teknologi

Steve Jobs adalah mahasiswa gagal. Dia tidak pernah menyelesaikan kuliahnya. Namun meski mengalami masa-masa susah kala memutuskan drop out, Jobs menyatakan keluar dari kuliah adalah salah satu keputusan terbaiknya.

Tahun 1972, Jobs masuk kuliah di Reed College di Portland, Oregon. Dia memutuskan drop out setelah baru 6 bulan kuliah. Jobs merasa tidak cocok dan tidak mau menghamburkan uang orang tua untuk ongkos kuliah.

"Aku secara naif memilih universitas yang ongkosnya hampir semahal Stanford dan semua tabungan orang tua dihabiskan untuk biayanya. Setelah 6 bulan, aku tak bisa melihat manfaatnya. Aku tak punya ide apa yang ingin kulakukan dengan hidupku dan bagaimana universitas akan membantu menemukannya. Aku menghabiskan semua uang yang ditabung orang tua selama hidup mereka," kata Jobs dalam pidato upacara wisuda di Stanford University tahun 2005.

"Jadi aku putuskan drop out dan percaya semuanya akan baik-baik saja. Cukup menakutkan waktu itu, namun ketika melihat ke belakang itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat," ucapnya seperti detikINET kutip dari Washington Post, Kamis (6/10/2011).

Masa-masa Susah

Jobs mengenang bahwa sesudah drop out adalah masa-masa susah. Jobs terpaksa menggelandang karena tak punya kamar. Ia tidur di lantai kos temannya. Dia menjual botol minuman untuk mendapat uang agar bisa makan. Namun Jobs mengaku menikmatinya.

Dia juga mengambil kelas seni kaligrafi untuk mengasah intuisinya dalam masa-masa awal drop out. Jobs mengaku pelajaran itu membantunya mendesain susunan tipografi di komputer Mac.

Sesudah DO, perjalanan hidup Jobs berliku-liku. Dia pernah ditendang dari Apple pada tahun 1984. Padahal, Apple adalah perusahaan yang didirikannya bersama Steve Wozniak. Namun ia kembali sukses dengan menjadikan studio film Pixar bertaji di industri film animasi. Dia kembali pada Apple tahun 1997, lalu menjadikannya begitu jaya.

Ya, meski berstatus mahasiswa DO dan berulangkali ditimpa kesulitan, Jobs akhirnya sukses besar. Ia merevolusi dunia teknologi dengan kehadiran iPod, iPhone dan tentunya iPad. Produk-produk tersebut laku keras dan memaksa kompetitor bekerja keras melawan sepak terjang Apple.

Inilah nasehatnya untuk para lulusan Stanford pada akhir pidatonya tersebut:

"Waktu Anda terbatas, jangan sia-siakan untuk menjalani kehidupan seperti orang lain. Jangan terjebak pada dogma, yang adalah hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan opini orang lain menenggelamkan suara di dalam Anda. Yang paling penting, beranilah mengikuti hati dan intuisimu yang entah bagaimana sudah tahu sesungguhnya Anda ingin menjadi apa,"

Jumat, 14 Oktober 2011

Perencanaan Pembelajaran: RUMUS ABCD (tujuan pembelajaran)



Rumus ABCD on Disnal,,,Seru lho…

  
Dalam kegiatan belajar mengajar,salah satu bagian terpenting yang harus diperhatikan adalah mempersiapkan si peserta didik dengtan matang.Untuk itulah ada salah satu rumusan tujuan pembelajaran yang saya suka,memmang siiii rumusan ini termasuk klasik,tetapi mudah diterapkan lhoo…..rumusan itu bernama Rumusan ABCD
hmpp..apa itu rumusan ABCD???

ABCD adalah singkatan dari:
A:Audience
maksudnya adalah sebagai pendidik harus bisa memahami karakteristik si peserta didik secara detail.
B:Behaviour
Dalam behaviour ini dapat dikatakan sebagai penggunaan kata kerja..yup bagaimana tidak karena dalam B kita mengembangkan perilaku belajar,,dengan menggunakan kata kerja seperti:menggunakan,menjelaskan,menyusun,dll.
C:Condition
Dalam belajar tentu diperlukan kondisi atau suasana belajar yang baik dan untuk mencapai itu kita memerlukan media,metode,dan sumber belajar.
D:Degree
maksud dari kata D ini adalah:Tingkat pencapaian dari tujuan pembelajaran,dalam D ini kita mengupas tentang proses hasil belajar yang telah dicapai.

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes