Tampilkan postingan dengan label Cita-Cita dan Masa Depan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cita-Cita dan Masa Depan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 September 2010

Pembelajaran dari Film Sang Pencerah


Saya ini bukan termasuk anak muda yang sering menonton film. Bahkan film yang saya tonton di bioskop pun mungkin bisa dihitung dengan jari. Film-film seperti harus melalui seleksi ketat sebelum mendapat kehormatan saya tonton. Maka berungtunglah sutradara yang filmnya saya tonton. Karena film itu berarti film yang berkualitas. Kali ini saya ingin bercerita tentang film yang baru saja selesai saya tonton: Sang Pencerah. Sebuah kisah tentang perjuangan KH. Ahmad Dahlan.

Berawal dari kabar di internet dan trailer di youtube, saya pun memantapkan diri untuk menonton film Sang Pencerah. Jelas, hal ini adalah berkat trailer yang begitu menggugah hati. Entah kenapa, saat menonton trailer tersebut saya seperti terhipnotis oleh sajian gambar bergerak dan suara latar yang begitu mengagumkan. Dan benar saja, ketika saya menonton Sang Pencerah, memang saya mendapatkan beberapa pembelajaran yang sukses membuat saya menumpahkannya dalam posting ini. Apa sajakah itu?

1. Merantaulah... Cari Ilmu di Luar Sana...
Tebak! Apa yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan muda ketika melihat keganjilan yang ada di lingkungannya? Ia pergi haji sekaligus menuntut ilmu di Mekkah. Ia merantau ke negeri lain, keluar dari lingkungan nyamannya, berhadapan dengan tantangan baru, dengan satu harapan: mendapat ilmu baru. Karena dunia ini begitu luas. Jika kita hanya berkutat di tempat yang itu-itu saja, pemikiran kita akan sempit, stagnan, tidak berkembang. Selain itu, kita pun akan menyia-nyiakan umur yang telah diberikan oleh-Nya. Merantaulah... Walau hanya sebentar, setidaknya kita tahu bagaimana kehidupan di luar sana.

2. Ilmu Haruslah Membumi
"Jika setelah pulang kau tidak membawa perubahan, percuma kau pergi haji dan menuntut ilmu di sana." Meski tidak persis, kira-kira seperti itulah pesan paman Ahmad Dahlan kepadanya sebelum berangkat ke Mekkah. Saya jadi teringat dengan 12 tahun hidup saya di sekolah formal yang katanya tempat mencari ilmu. Bener sih, tapi sayang, ilmu itu tidak membumi, tidak 'siap pakai'. Sehingga ilmu yang saya dapat dalam 12 tahun itu seakan-akan hanya untuk ujian saja. Tidak lebih dari itu. Melihat hal tersebut, saya jadi semakin terpacu untuk terus berusaha menyambungkan antara teori yang saya dapat dengan realitas di lapangan. Karena ilmu sebagaimana pun itu takkan berarti jika tidak membawa perubahan nyata di masyarakat.

3. Terbuka untuk Bekerja Sama
Agak aneh, jika melihat seorang santri dari kampung, ternyata bergabung dengan perkumpulang kaum terpelajar yang dikenal elit, Budi Utomo. Tapi Ahmad Dahlan melakukannya. Ia berusaha adaptif dan terbuka terhadap kerja sama dengan pihak manapun. Tentunya selama kerja sama itu tetap berpijak pada dua hal: asas saling menguntungkan dan penghormatan terhadap prinsip masing-masing. Untuk itu, janganlah ragu untuk bekerja sama dengan siapa pun, termasuk orang-orang yang berbeda paham dengan kita, selama dua syarat di atas terpenuhi. Kita harus berdiri di tengah-tengah. Tidak terlalu tertutup terhadap kerja sama, tetapi tidak pula terlalu terbuka hingga menggadaikan prinsip dan identitas kita.

4. Perubahan Butuh Perjuangan
Inilah mungkin inti pesan dari film ini: Perubahan dan Perjuangan. Bagaimana seseorang ketika melihat keganjilan dalam lingkungannya tidak apatis dan permisif. Bagaimana seseorang bergerak dan bertindak untuk membereskan keganjilan tersebut. Bagaimana seseorang teguh dalam perjuangan demi kebenaran yang diyakininya. Bagaimana seseorang tetap sabar dalam perjuangannya di tengah dinding resistensi yang mengelilinginya. Terlihat terlalu wah mungkin. Akan tetapi, perubahan dan perjuangan itu tidak hanya soal yang besar-besar kok. Karena sejatinya, di sekeliling kita tersaji banyak masalah dengan beragam tipe dan skala, tinggal kita nih: Apakah kita menganggapnya masalah dan mau berusaha menyelesaikannya?

Entah mengapa, setelah saya selesai menonton film ini, kata-kata seperti perubahan, pergerakan, perjuangan berkecamuk dalam benak saya. Hati ini seperti tergebu-gebu untuk segera beraksi nyata. Pikiran saya pun seketika dipenuhi dengan gagasan-gagasan tentang perubahan dan rencana-rencana aksi untuk mengaktualisasikannya. Meski belum mampu saya eksekusi sekarang, setidaknya posting ini telah menjadi langkah kecil dari rangkaian perjuangan saya. Sekaligus menjadi rekam perasaan yang bisa kembali membangkitkan semangat saya ketika turun suatu saat nanti.

Salam Kreatif - Kritis,
Pratama

Minggu, 16 Mei 2010

Inilah Cita-Cita Mereka


Entah mengapa, saya lebih suka menyebutnya cita-cita daripada mimpi. Meski mimpi memiliki efek lebih dramtis, cita-cita terkesan lebih konkret dan lebih dekat dengan maksud yang sebenarnya: hasrat tentang masa depan. Itu pun yang mendasari saya menamai kategori ini dengan nama Cita-Cita dan Masa Depan.

Karena kehabisan ide untuk posting, akhirnya saya iseng membuat status Facebook yang menanyakan cita-cita teman-teman saya dan hal apa yang melatarbelakanginya. Alhamdulillah, ada tiga orang teman yang komentar dan mengutarakan cita-citanya. Selain membahas cita-citanya, saya juga akan membahas pandangan saya tentang karakter mereka masing-masing. Saya harap, posting ini secara khusus bisa menambah semangat mereka untuk meraih cita-citanya.

Penasaran? Inilah cita-cita-mereka:

1. Azizah Febrianti Fasha
Bercita-cita menjadi seorang birokrat. Cita-citanya itu didasari oleh rasa keprihatinannya terhadap sistem birokrasi yang belum mampu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Azizah menjadikan kualifikasi baik dan bermoral sebagai karakter diri yang akan membawanya dalam misi pelayanan sekaligus melakukan reformasi untuk sistem pelayanan yang lebih baik tentunya.

Saya lihat, Azizah memang sosok yang berkualitas, rajin, ulet, dan bermoral. Selain selalu meraih peringkat pertama di kelasnya semasa SMA, setahu saya dia juga tidak pernah mendapatkannya dengan cara yang tidak halal seperti menyontek. Dengan modal karakter itu, PR Azizah tinggal meningkatkan wawasannya tentang dunia sosial-politik dan kebijakan publik. Oya, satu lagi, saya harap Azizah juga bisa seperti Bu Sri Mulyani. Tidak hanya cerdas dan bermoral, tetapi juga berani menghadapi tantangan.

2. Poppy Kampani
Bercita-cita menjadi seorang pengusaha ekspor. Dia ingin sekali ada banyak barang-barang di luar negeri, khususnya Prancis katanya, yang berlabel “Made in Indonesia”. Saya lihat, Poppy memang sosok yang gaul, komunikatif, dan sociable. Sebuah modal karakter yang sangat berharga untuk menjadi pengusaha. Tetapi, saya sendiri kurang tahu, apakah dia sudah punya lingkaran pergaulan yang bercita rasa pengusaha. Karena pengusaha adalah profesi yang seninya adalah mencoba sehingga lingkungan yang mendukung adalah salah satu syaratnya. Semoga, Poppy bisa memperlebar lingkaran pergaulannya khususnya di kalangan pengusaha. Oya, jangan lupa, baca juga buku-buku tentang bisnis dan biografi orang-orang sukses di bidang bisnis. Modal karakter memang penting, tetapi memperkayanya dengan wawasan itu lebih penting.

3. Zulfikar
Bercita-cita menjadi seorang entrepreneur. Agak mirip dengan Poppy, tetapi Zulfikar lebih memilih perekonomian Islam sebagai tema utamanya. Didasari oleh keprihatinannya pada bangsa Indonesia yang seperti dijajah oleh para entrepreneur barat dan timur asing, dia menjadikan persatuan entrepreneur muslim yang memang mayoritas di bangsa ini sebagai alat untuk meruntuhkan dominasi entrepreneur asing di bangsa ini.

Saya lihat, Zulfikar itu sosok yang sociable dan berani mencoba. Modal karakter yang seperti hanya tinggal menunggu waktu saja untuk merintis bisnisnya. Zulfikar hanya membutuhkan satu ide yang ia yakini akan berhasil, maka dia pun akan segera memulai. Untuk itulah, Zulfikar harus memperkaya wawasannya demi mendapati ide tersebut. Baca buku bisnis dan biografi pebisnis sukses nampaknya sebuah pilihan yang menarik. Oya, karena Zulfikar menjadi perekonomian Islam sebagai tema utama, dia pun harus memperkaya wawasannya dalam bidang tersebut.

Ya! Itulah cita-cita mereka. Misi mulia seorang anak Bangsa yang harus kita perhatikan. Kenapa? Karena tanpa kita sadari, penambahan umur membuat kita tak lagi se-imajinatif dulu. Kita menjadi semakin tak peduli dengan cita-cita. Kita hanya menjalani saja, tanpa tahu apa yang kita tuju. Pikiran kita menjadi semakin pendek. Tidak lagi ada cita-cita setinggi langit. Padahal, cita-cita itu memang seharusnya tinggi dan sulit dicapai. Agar energi jiwa yang dihasilkannya pun akan lebih besar dan kuat.

Untuk itulah, saya berusa mendokumentasikan cita-cita teman saya tersebut ke dalam sebuah tulisan. Agar cita-cita mereka menjadi lebih konkret dan jelas. Lebih dari itu, mereka pun akan merasa seperti berjanji dengan dituliskannya cita-cita mereka di posting ini dan semangat untuk meraih cita-cita itu pun akan semakin besar dan kuat. Ayo kejar cita-citamu!

Salam Kreatif - Kritis,
Pratama

Sabtu, 16 Januari 2010

4 Alasan Mengapa Anda Harus Berbisnis

Sebagian besar pelajar yang pernah saya temui selalu 'menyambungkan' pilihan jurusan kuliahnya dengan pilihan karir dan profesinya. Hal ini memang tidak salah, tapi jika mereka memilih jurusan kuliah dengan pertimbangan akan mendapat gaji yang besar ketika telah lulus dan bekerja pada wilayah karir yang sesuai dengan basis jurusannya tersebut. Apa tidak salah tujuan tuh? Tujuan utama kita kuliah kan sebenarnya studi, bukan siap-siap diri buat dapet gaji. Meski uang menggiurkan, bakat dan minat diri haruslah tetap dijadikan refensi utama dalam penentuan jurusan.

Nah... Kalau anda khawatir dengan nasib masa depan anda, sehingga harus mengorbankan bakat dan minat anda sebenarnya. Saya punya solusinya. Berbisnislah! Karena semua orang dengan basis jurusan apapun pasti bisa melakukannya. Ialah salah satu alternatif cita-cita masa depan anda. Pertimbangkanlah!

Ada beberapa alasan mengapa anda harus mempertimbangkan berbisnis sebagai cita-cita masa depan anda.

1. Wilayah Peluang yang Begitu Luas
Ketika lowongan pekerjaan telah semakin sedikit, sebaliknya peluang bisnis justru tetap terbuka dengan seluas-luasnya, bahkan hampir tidak terbatas. Karena pada dasarnya berbisnis adalah usaha memenuhi kebetuhan orang lain dan orang lain menggantinya dengan sejumlah uang. Sehingga terlihat jelas adanya asas saling tolong menolong dalam berbisnis. Makanya, saya seringkali kesal ketika ada pebisnis yang justru memiliki sifat serakah dan hanya mementingkan keuntungan pribadi. Pebisnis seperti itu telah mengkhianati esensi dari bisnis itu sendiri.

Dalam konsepsi Islam, pintu rezeki dari berbisnis pun dikatakan memiliki 19 pintu dari 20 pintu yang ada. Jelas konsepsi ini pun mampu kita universalitaskan, seperti konsepsi-konsepsi Islam lainnya (Tentunya selain Aqidah dan Ibadah loh). Mungkin kalau kita simpulkan: Jika ingin kaya, maka bisnislah jalannya!

2. Waktu Kerja yang Bisa Diatur
Saya sering mendengar, katanya pegawai dan orang bergaji lainnya seringkali kesal. Karena waktu kerja yang telah mereka curahkan tidak sebanding dengan gaji yang mereka dapatkan. Bahkan ujung-ujungnya mereka seringkali stress. Tapi yang paling parah adalah ketika waktu kerja yang telah mengikat itu mematikan kreativitas dan kompetensi diri hasil dari hobi yang dulu sering kita lakukan. Waduh, berasa jadi robot tuh!

Di sisi lain, bisnis justru hadir dengan waktu kerja yang bisa diatur. Karena dalam bisnis yang dihargai bukanlah skill kita, tapi ide dan inovasi kita. Kita punya ide, kita organisasikan, hingga akhirnya kita implementasikan.

3. Bebas Dipilih Oleh Siapa pun
Jika pekerjaan pegawai atau orang bergaji lainnya biasanya mensyaratkan basis jurusan tertentu, maka bisnis justru sebaliknya. Semua orang bebas menjadi pebisnis. Siapu pun ia. Karena berbagai skill yang dibutuhkan dalam bisnis biasanya mampu kita kuasai hanya dengan membaca buku atau bahkan learning by doing. Karena sifatnya memang lebih praktikal dibanding teoritis. Salah satu pelajaran wajib yang tidak akan pernah dilewati oleh setiap pebisnis: KEGAGALAN. Karena dengan gagal, kita akan tahu mana yang benar.

4. Tak Lekang Oleh Zaman
Ketika banyak profesi yang naik turun tingkat kebutuhannya di masyarakat, bisnis hadir dengan segala kefleksibelitasannya. Bisnis tak lekang oleh zaman. Lihat saja! ketika zaman berubah menjadi zaman informasi terlebih dengan adanya internet. Bisnis menyesuaikan dirinya dan lahirlah bisnis online. Sungguh tak ada habisnya peluang untuk berbisnis di dunia ini.

Tapi ingat! Esensi bisnis tidak hanya untuk memperkaya diri, tetapi juga untuk memakmurkan orang lain. Oleh karena itu, uang yang kita dapat harus terus kita alirkan tentunya dalam kegiatan yang positif. Bantulah orang lain! Karena kebaikan anda pasti kembali pada diri anda sendiri. Apapun bentuknya.

Jangan ragu lagi! Jutaan peluang bisnis telah menanti anda untuk segera menjemput mereka dan melahirkan mereka ke dunia demi kemakmuran kita bersama. Sudahkan anda menentukan cita-cita anda? Nampaknya menjadi pebisnis pilihan yang sulit ditolak deh.

Kamis, 14 Januari 2010

4 Langkah Cerdas Menentukan Cita-Cita

Cita-cita bukanlah kata baru bagi diri kita. Bahkan kita telah mendengar dan mengucapkannya saat kita masih kanak-kanak. Dulu, ketika kita ditanya, "Apa cita-cita kalian anak-anak?" Entah kenapa sebagian besar dari kita pasti menjawab: dokter, pilot, insinyur, dsb. Mungkin karena saat itu profesi itulah yang terlihat keren bagi kita. Oh tidak, bukan keren, tapi koureen (melambangkan kelebayan yang sudah kronis).

Nah... Itulah yang membedakan dulu dan kini. Dulu kita cenderung spontan dan reaktif, apa saja yang terlihat koureen pasti kita langsung menjadikkannya sosok ideal dan kita cita-citakan. Tapi kini, kita telah semakin beranjak dewasa, cara berpikir dan bersikap pun sudah seharusnya menjadi semakin bijak. Termasuk dalam menentukan cita-cita.

Oleh karena itu, kita harus tahu, cita-cita apa yang paling tepat bagi diri kita, keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia (Wuih, sampe mendunia gitu). Berikut saya berikan beberapa langkahnya:

1. Menyadari Misi Hidup
Inilah langkah awal yang pertama kali harus kita lakukan. Sebenarnya untuk apa sih kita hidup di dunia ini? Kalau dalam Islam, misi hidup adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Sehingga segala usaha dan daya upaya kita di dunia harus tertuju pada-Nya. Tapi... Konsep ini juga bisa diuniversalitaskan kok, agar bisa diterima oleh semua pemuluk agama, yakni menjadi bermanfaat bagi setiap orang dan maju bersama dalam kedamaian.

Hal ini jugalah yang seringkali membedakan antara kesuksesan yang satu dengan kesuksesan yang lain. Misal, si A merasa sukses karena berkuasa dan memiliki harta, tetapi si B justru merasa sukses karena setiap yang dia punya mampu bermanfaat bagi orang lain. Karena kesuksesan tidak dinilai dari jumlah (kuantitas) tapi dari daya kebermanfaatannya (kualitas).

Untuk itu, cita-cita apapun yang kita inginkan haruslah tetap berada pada trek ini: trek kebermanfaatan.

2. Mengenali Kompetensi Diri
Setelah tahu trek mana yang harus kita jadikan jalan, selanjutnya adalah mobil apa yang akan kita pakai. Ialah kompetensi diri. Karena kesuksesan cita-cita seseorang sangat bergantung pada ketercocokan antara kompetensi diri dengan peran yang berusaha ia ambil.

Coba pikirkanlah! kira-kira kompetensi apa yang kita punya sekarang dan kira-kira peran apa yang cocok untuk kita. Tapi ingat! kompetensi adalah integrasi dari bakat dan minat. Bisa saja anda merasa tidak berbakat menulis, tapi anda berminat. Maka anda harus melatihnya, agar minat bisa ter-follow up menjadi kompetensi.

3. Melihat Kebutuhan Masyarakat
Karena trek kita adalah trek kebermanfaatan, maka kita pun harus menyesuaikan kompetensi diri kita dengan kebutuhan masyarakat. Contoh: Si A merasa mampu menjadi seorang panglima perang, tetapi negara sedang dalam keadaan damai. Seberepa bermanfaatkah ia? Pasti takkan sebesar jika negara sedang terancam.

Selain itu, kita juga harus mampu jeli melihat peluang. Bukan masalah uang, tapi kebaikan. Kira-kira peluang kebaikan apa yang masih banyak orang lain lirik. Maka pilihlah itu.

Lihatlah! Mulai dari hal sekitar. Kira-kira, apa yang sedang lingkungan butuhkan, sesuaikan dengan kompetensi diri kita, dan BOOM! Ledakan kebermanfaatan akan segera terjadi.

4. Tentukan Cita-Cita Anda Sekarang Juga!
Tak ada waktu lagi. Tentukanlah cita-cita anda sekarang juga. Jangan takut salah. Karena seiring dengan berjalannya waktu cita-cita itupun akan terus mengalami berbagai penyesuaian dan penyelarasan mengingat kompetensi diri yang terus berkembang dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Setelah cita-cita telah kita tentukan, tulislah karena itu akan mengikatnya, lalu ceritakanlah pada teman-teman anda karena saran dan kritik dari mereka akan sangat berguna bagi masa depan anda.

Ingat! Di perjalanan kita nanti, cita-cita akan berfungsi sebagai penjaga nafas tekad. Di kala tekad kita tidak stabil dan fluktuatif, pengingatan kembali cita-cita besar dan mulia akan melahirkan energi jiwa: Dorongan Tekad yang Menyegarkan dan Menggerakkan.

Jumat, 20 Maret 2009

Jangan Mau Jadi Pegawai

Mungkin sebagian besar anak SMA dan anak Kuliah ingin sekali kerja di tempat yang enak, dengan jabatan yang tinggi, serta gaji yang tinggi pula. Mereka juga pasti akan mencari jurusan yang berpeluang besar mendapatkan pekerjaan dengan kriteria di atas. Apakah benar semua orang ingin jadi pegawai? Terus yang mau bayar kita siapa dong? Makanya rubah pemikiran kita tentang pekerjaan.

Pekerjaan itu tidak selalu menjadi pegawai dan cara mencari pekerjaan pun tidak hanya melamar pekerjaan. Gue sering lihat nih banyak orang yang pontang panting nyari kerja, keliling jakarta, beli koran (buat ngelihat lowongan pekerjaan) tapi hasilnya seringkali kurang memuaskan. Menurut gue pribadi ada beberapa alasan yang bikin gue bahkan anda pembaca gak mau jadi pegawai:
1. Kesempatan kerja yang semakin lama semakin sedikit
2. Sulit untuk berkembang (palingan cuma naik jabatan, itu juga prosesnya lama)
3. Mematikan kreatifitas (Improvisasi kita sering dibatasi boss)
4. Gak tahan sama boss (apalagi kalo bossnya galak)
5. Bikin bosen (karena kita menjalani rutinitas yang hampir sama setiap harinya)

Gimana? Masih mau jadi pegawai? Ayolah sudah saatnya kita beralih menjadi wirausahawan. Come on Friend!!!

Minggu, 18 Januari 2009

Memulai Bisnis Sejak Dini

Kabarnya perusahaan di Indonesia hanya mampu menyerap 2% dari tenaga kerja yang tersedia. Waduh bahaya dong?

Gak juga tuh. Sebagai generasi muda khususnya pelajar dan mahasiswa sebenarnya masih banyak peluang untuk memperoleh penghasilan. Tapi hanya sebagian orang yang sadar. Sebagian yang lain masih saja berpikiran untuk mencari pekerjaan. Sekarang mah udah gak jaman nyari kerja, sekarang itu jamannya membuat pekerjaan. Belajar bisnis yuk...

Belajar bisnis sebenarnya sih gak harus nunggu selesai kuliah, sekarang juga bisa. Asalkan ada niat dan tekad yang bulat. Malahan kalau kita masih sekolah atau kuliah peluang bisnis kita cepat berkembang lebih besar, kenapa? Karena konsumen kita sudah tersedia. Iya betul teman-teman kita.

Nih gue punya sedikit tips untuk anda-anda semua yang ingin memperoleh uang tambahan atau bahkan memulai bisnis yang nantinya akan menjadi pekerjaan kita.
  1. Gunakan hobi atau kemampuan anda untuk menghasilkan uang. Jadi kalau anda punya kemampuan tunjukkan dan manfaatkanlah
  2. Sering-sering lah menawarkan jasa atau barang anda ke teman-teman anda. Tapi jangan memaksa yah!
  3. Ajak teman-temanmu untuk menjadi agen yang nantinya akan membantumu mempromosikan dan menjual jasa atau barangmu
  4. Kalau bisnismu sudah ada ditempat lain, coba banting harga biar konsumen lebih tertarik
  5. Yang lebih ekstrem lagi, buat pamflet dan taruh di mading. Kalau boleh sama pengurus madingnya yah!
Nih gue kasih juga contoh-contoh usaha yang mungkin bisa jadi referensi anda dalam memulai bisnis.
  1. Jasa Pengetikan dan Print (Buat anda yang komputer dan printer)
  2. Jasa Bikin poster, pamflet, brosur (Buat anda yang merasa jago designing)
  3. Jasa Les/Kursus (Buat anda yang merasa pinter dan sabar)
  4. Mengajukan tulisan anda ke redaksi majalah (Buat yang suka nulis)
  5. Mengikuti Lomba sesuai hobi anda (Jangan menyerah kalau kalah)
  6. Makanan (Buat anda yang suka memasak)
  7. Pin dan Assesoris lainnya (Ini mah yang penting tahu tempat grosirannya ajah)
  8. Jasa pembuatan tugas dan makalah (Sebenarnya sih ini gak baik tapi boleh juga lah kalau cuman buat contoh)
  9. Buletin atau Majalah (Nah ini dia nih bisnis yang menurut gue paling menjanjikan). Khusus yang nomor 9 ini nanti bakalan gue jelasin lebih detail lagi mulai dari pembentukan tim sampai menjadi majalah secara utuh. Tunggu Artikel gue yang khusus membahas tentang hal ini yah!
Berlatih bisnis memang bagus, tapi tugas utama kita tetaplah 'BELAJAR'. Semangat Kawanku!

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes