Tampilkan postingan dengan label Dunia Dosen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Dosen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2011

MANUSIA BERJUDUL DOSEN



Berkatalah seorang bijak pada suatu RUANG dan WAKTU yang lalu : "Para guru adalah Arsitek Jiwa Manusia"
 
Makna yang terkandung didalam kalimat tersebut, jelas mahasiswa dan Alumni suatu perguruan tinggi akan selalu menjadi cermin yang menyatakan segala kegagalan, kesuksesan dan kekurangan dari para guru / dosennya, inilah yang dinamakan REFLEKTOR MORALITAS.

Seorang filsuf Inggris
JOHN LOCKE menyatakan hati seorang anak (calon Siswa Baru) merupakan "TABULA RASA" mempunyai arti ; Kertas kosong yang putih) dan tergantung apa yang akan diberikan kepadanya dan apa yang akan dituliskan kepadanya.

jika pernyataan ini dibaca dan dipahami dengan cermat, akan terlihat jelas setiap siswa baru akan menjadi satu alat 'pembersih dan pencuci bathin' bagi jiwa gurunya atau dosennya,sebab apa...? Karena pada saat ketika mengajar mahasiswa baru dengan segala ilmu dan seni yang belum mereka ketahui, pada saat itu juga si siswa baru mengajarkan kepada dosen akan kepolosan, keikhlasan, kejujuran dan tanpa topeng kemunafikan. Hal ini penting untuk para pendidik, sebagai sarana pencucian mata hati jiwa,
KARENA DOSEN ADALAH ARSITEK JIWA MANUSIA.

Mana yang akan anda pilih,sebuah buket kembang atau sebungkus benih? Mungkin kebanyakan diantara kita memilih buketnya. Tetapi jika anda seorang pendidik, anda menyadari keterbatasan keterbatasan dari bunga-bunga potongan, betapapun indahnya mereka, dan kemungkinan besar anda akan memilih meluangkan waktu untuk mengumpulkan, memilih dan menanam benih tersebut. Bisa saja seorang
Abraham Lincoln disambut dengan guyuran bunga andaikata ia menyerah pada tuntutan para colonial, tetapi ia memilih menanam biji kemerdekaan bagi tiap orang dan dengan demikian ia menjadi pemimpin terbesar sepanjang zaman.

Pada kesempatan berdiskusi dan saling bertukar pengalaman, dan rangkuman pengalaman mengajar , dan kiat-kiat mengajar. Diperoleh hasil rumusan mengenai kriteria mental sosok seorang pengajar yang ideal diluar persyaratan gelar yang juga merupakan suatu keharusan , tetapi rumusan ini lebih condong pada kebutuhan pertimbangan etik .


  1. DOSEN YANG PANDAI MENGAJAR
    adalah ; manusia yang mempunyai keyakinan mengajar dan percaya penuh kepada kemampuannya untuk mendidik, (bukan ditentukan pintar atau tidaknya otak pikiran seseorang, karena pintar adalah kalimat penyataan relatif didunia ini), sedangkan Dosen yang tidak baik akan terlalu banyak membuat larangan untuk anak - didiknya.
  2. DOSEN YANG BIJAK
    adalah ; manusia dosen yang harus dapat menemukan perbedaan setiap insan mahasiswanya, karena setiap orang berbeda, sehingga perlu bagi dosen untuk peka dan menemukan perbedaan-perbedaan dan keunikan setiap pribadi, lalu memimpin mereka untuk menggali keistimewaan dan keunggulan masing-masing keunikan mereka.
    Kenapa...?

    Karena dosen yang bijak bukan hendak membangun perumahan perumahan BTN yang seragam, dosen adalah ARSITEK setiap individu yang membangun dengan cara dan disain yang berbeda-beda.
  3. DOSEN YANG AGUNG
    adalah; manusia yang tidak bisa mengubah pembawaan dan kecenderungan temperamen seorang mahasiswa, namun dosen harus peka untuk melihat arah, dengan demikian dosen akan berjalan didepan mahasiswanya sebagai penuntun jalan. Pepatah mengatakan "Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari"
  4. DOSEN YANG MULIA
    adalah; Manusia yang yang dapat menciptakan 'kehausan' pada diri mahasiswanya, karena sifat dasar manusia adalah keingintahuan yang besar. Dan kala 'Kehausan' ini ada didalam jiwa mahasiswanya maka timbul ambisi untuk belajar dan inilah KEKUATAN PENDIDIKAN.
  5. DOSEN YANG TERPERCAYA
    adalah; Manusia yang melakukan kontak pribadi dengan pribadi, janganlah dosen hanya mengontak mahasiswa/i dengan hanya berpegang pada peraturan kampus atau dengan pengajaran dan kurikulum kampus, hendaklah dilakukan kontak jiwa kejiwa, hati kehati, pikiran ke pikiran dan emosi ke emosi, maka dosen akan tampil dengan pribadi yang dihormati dan dikagumi oleh mahasiswanya. Otomatis aktivitas pendidikan akan menjadi hidup dan tidak merupakan aktivitas statis.
Seorang sahabat pernah berkata;
"Keanekaragaman manusia dengan berbagai jenis disiplin ilmu membuat sudut pandang lebih objektif, dan sketsa 'kehidupan' ilmu pendidikan semakin bisa dicerna oleh setiap insan manusia.

Sumber:
Manusia Berjudul Dosen

Tips Menjadi Mahasiswa Sukses



Anda mahasiswa yang luntang-luntung kurang kerjaan? Sudah mulai mual ndengerin kuliah pak dosen? Mulai bete dengan suasana kos-kosan? Apalagi teman dekat sudah mulai pindah kos karena nggak tahan anda utangin terus hehehe. Pingin teriak sekeras-kerasnya tapi takut ditimpukin tetangga? Atau dulu punya mimpi pingin ikut mbangun republik tercinta, tapi jangankan itu, mbangun diri sendiri saja susah bo :) Apa salah jurusan yah? Padahal dulu dah baca-baca tulisan tips dan trik memilih jurusan. Bingung karena nggak dapat apa-apa di universitas. Jadi makin terseok-seok dan tanpa ruh kalau baca tulisan tentang jenis mahasiswa. Hmmm … coba deh ikuti tulisan ini, siapa tahu ada tips yang cocok dan bisa bikin semangat bangkit.

1. Bangun tidur, berdiri di depan kaca, ucapkan bahwa andalah yang terbaik di kos-kosan ini (Ya soalnya anda sendirian sekarang :D ) Kalau anda merasa itu kurang, ucapkan bahwa andalah yang terbaik di kelas anda atau terganteng di kampus anda. Yakinilah bahwa anda adalah manusia pilihan, paling tidak terpilih sebagai wakil desa anda yang bisa kuliah di universitas ini. Atau kalau lebih pede lagi, bilang bahwa andalah makhluk terbaik di muka bumi, ya memang benar, paling tidak dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan :P

2. Mandi yang bersih, sisir dan rapikan rambut anda. Ambil handphone, bikin senyuman paling manis, foto wajah anda. Ulangi lagi kalau masih kurang enak dilihat. Kalau sampai 10 kali jepretan masih juga kurang enak di lihat, ambil secara acak saja. Mungkin wajah anda memang tidak terlalu enak dilihat :)

3. Nyalakan komputer, akses internet, nggak usah ke mana-mana, langsung saja buka http://wordpress.com. Buat account blog di sana.

4. Renungi hidup anda, ingat-ingat lagi perjalanan hidup dari kecil sampai sekarang dan apa yang telah anda lakukan. Masuk ke menu administrasi http://wordpress.com, klik Write->Page. Buat tulisan dengan judul About Me, tuliskan resume, kisah hidup dan Curriculum Vitae (CV) anda. Tuliskan â€Å“apa saja” seluruh kegiatan anda di sana. Dari lahir, SD, SMP, SMA dan kuliah. Pernah jadi ketua OSIS, sekretaris, bendahara atau pesuruh OSIS? Atau pernah ikutan nyembelih kambing kurban, pernah jadi penjaga masjid, pernah bikin workshop komputer, pernah menang lomba balap karung, cerdas cermat atau lomba gambar di kampung. Tulis semuanya. Kerahkan seluruh ingatan anda, anggap saja nostalgia. Sekali lagi, tulis semua, apapun yang anda lalui di â€Å“Page” berjudul About Me tadi. Sudah puas? Klik â€Å“Publishâ€Å“. Kalau ada yang kurang tambahi lagi, kalau merasa halaman itu nggak cukup dan harus tulis dalam OO Writer atau MS Word, copy and paste saja draft tadi. Jangan lupa convert ke PDF dan upload di halaman About Me. Perbaiki terus CV anda setiap ada kegiatan yang anda lakukan, sekecil apapun. Beri juga skrinsyuut kalau diperlukan. Oh ya, foto manis anda tadi jangan lupa dipasang di halaman About Me, kalau pingin contoh, termasuk gimana nempatan CV versi PDF cek di sini deh :)

5. Sekarang ayok berdiri, jalan ke meja belajar anda. Kenangi kehidupan kampus anda, senangnya ketika diterima di universitas ini, semangatnya ikutan ospek (atau apa ya namanya sekarang?), dosen-dosen anda yang baik dan menyenangkan, nilai mata kuliah anda yang naik turun (yang pasti lebih banyak turunnya ;) ), dan mungkin juga teman-teman mahasiswi anda yang sudah menolak cinta anda :) Kenang semua. Olala, ada kenangan manis disaat anda berjaya dengan satu mata kuliah yang anda senangi, dosennya juga maknyus kalau ngajar, dan anda akhirnya anda mendapatkan berkah nilai A diantara tumpukan nilai C, D dan E.

6. Mata kuliah apa itu ya, yang dulu anda senangi? Cari buku catatan anda, obrak abrik meja belajar untuk nyari buku textbook mata kuliah itu. Ketemu? Oalah anda ternyata jagoan Rekayasa Perangkat Lunak. Ok sekarang lihat lagi tulisan di buku catatan anda yang sudah lusuh. Cocokan dengan buku textbook. Sekarang tulis kenangan anda tentang mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak itu. Jangan tulis yang lain, konsentrasi saja ke satu mata kuliah itu. Tulisan apapun asal berhubungan dengan Rekayasa Perangkat Lunak. Satu topik tulisan cukup 4-6 paragraf saja, jangan kepanjangan. Kalau belum puas, buat lagi topik lain, batasi juga 4-6 paragraf. Nulisnya di Write->Post lho ya, jangan lupa.

7. Kurang bahan? Dulu kayaknya pernah pinjem buku bagus tentang Rekayasa Perangkat Lunak di perpustakaan? Ok, kebetulan dah masuk waktu dhuhur dan makan siang. Jangan lupa mampir dulu untuk sholat dhuhur di masjid samping kos-kosan, dan makan siang di warteg andalan. Ok, genjot sepeda ke kampus, langsung ke perpus. Cari buku kenangan anda tadi. Juga cari banyak berita dan tulisan populer tentang software dan metode pengembangan. Kalau perpus ada internet, balik lagi ke http://wordpress.com anda. Lanjutkan tulisan-tulisan anda.

8. Ops nggak terasa sampai maghrib di perpus. Sholat, makan malam dan pulang. Ingat-ingat deh dulu kayaknya pernah ngerjain Tugas Mandiri berhubungan dengan software? Ok kumpulin file-filenya yuk. Dari mata kuliah apa saja lah, bisa Rekayasa Perangkat Lunak, Dasar Pemrograman, Pemrograman berorientasi Obyek, atau apapun. Kalau ada program yang dulu dibuat juga kumpulin. Dibahas saja program yang pernah dibuat, sekaligus dibagi gratis tuh codenya. Walah bisa jadi satu kategori baru tuh di blog :)

9. Sebelum tidur, baca bismillah, dan ucapkan syukur hari ini anda sudah melakukan kegiatan yang sangat baik dan produktif, kegiatan yang bisa membanggakan orang tua, teman, tetangga, dan dosen anda. Dan Insya Allah bisa menjadi bekal kontribusi anda ke republik tercinta ini.

10. Bangun pagi, nggak usah kebanyakan tidur, anda bukan bayi lagi :) Sholat shubuh dan lanjutkan petualangan hidup anda.

11. Sebelum masuk kuliah baca-baca buku dulu deh, hari ini pak dosen mau ngajari apa, siapa tahu bisa jadi bahan tulisan. Kalau ada waktu pagi bikin resume atau rangkuman bab yang pak dosen akan ajar. Insya Allah saya jamin anda akan masuk ke kelas dengan suasana yang berbeda. Anda tidak lagi tidur. Horeeee! Lho kok bisa, ya soalnya anda jadi pingin konfirmasi ke pak dosen, yang anda pahami dari rangkuman tadi bener nggak. Dan anda akan nyimak karena anda berharap bisa jadi bahan tulisan. Ada kemungkinan anda akan lebih pinter dari pak dosen, karena kadang saking sibuknya ngerjain proyek, pak dosen kadang lupa belajar … hihihi. Kalau ada pertanyaan yang nggak bisa dijawab pak dosen, anda angkat tangan saja, bilang bahwa pernah mengupas tuntas masalah itu, sebutkan URL blog anda. Bantu dosen anda jawablah, siapa tahu malah nanti diminta bantu dosen ngerjain proyek atau malah jadi asisten dosen. Cuman jangan galak-galak sama adik kelas yah, jaman dosen bangga karena nggak ngelulusin mahasiswa sudah kuno. Yang trend sekarang dosen gaul, kayak si broer sang dosen flamboyan (ngajar di semua kampus di jakarta bo) dan mbah IMW dari gundar :)

12. Lanjutkan perdjoeangan. Mudah-mudahan semester ini tumpukan nilai A anda semakin banyak. Dan Insya Allah saya jamin, anda tidak akan kesulitan ngerjain skripsi atau TA di semester akhir. Kok bisa? Ya, anda sudah terbiasa banyak baca dan nulis, ini modal penting bikin skripsi. Logikanya kalau anda banyak nulis, pasti banyak baca tho :) Jangan lupa untuk submit artikel-artikel anda di IlmuKomputer.Com, prosedurnya ada di sini nih. Ini penting karena kabarnya numpang nampang di IlmuKomputer.Com bisa bawa hoki, bisa dapat jodoh, pekerjaan, project atau ketularan gemuk dari foundernya. Yang pasti bisa bantu ningkatin traffic blog anda :)

13. Kalau kebiasaan 1-12 anda lakukan sampai anda lulus, Insya Allah anda tidak akan kesulitan mencari pekerjaan. Justru pekerjaan yang akan mencari anda. Tulisan-tulisan anda di blog sudah di-indeks oleh banyak mesin mencari. Bahkan mungkin kalau orang googling dengan keyword â€Å“Rekayasa Perangkat Lunak Indonesiaâ€Å“, yang muncul nomor satu adalah blog anda. Anda nggak perlu bawa CV ke mana-mana karena anda sudah tulis di blog anda. Tentu anda akan semakin surprise kalau ada penerbit yang nawarin membukukan tulisan-tulisan Rekayasa Perangkat Lunak yang anda telateni selama ini. Kesempatan jadi dosen bukan mimpi lagi, lha wong yang nulis bukunya anda je. Wajar tho sekalian ngajar ;) Malah anda mungkin sudah ditokohkan oleh masyarakat Indonesia di bidang Rekayasa Perangkat Lunak? Amiiin. Cuman jangan sombong, sombong itu temannya setan :)

14. Akhirnya, alhamdulillah anda telah sukses melewati kehidupan mahasiswa anda dengan baik. Bukan karena siapa-siapa, tapi karena perdjoeangan anda sendiri, karena tangan anda sendiri, dan tentu saja pertolongan dari yang DIATAS. Jangan lupa, tetap lanjutkan perdjoeangan di kehidupan baru.

Source :
http://romisatriawahono.net/2008/01/29/tips-menjadi-mahasiswa-sukses/

Jumat, 11 November 2011

Para guru butuh "mimpi"

Besar sukses Anda ditentukan oleh seberapa kuat keinginan Anda; ditentukan oleh seberapa besar mimpi Anda; dan ditentukan oleh kecakapan Anda dalam mengatasi kekecewaan yang Anda alami
(Robert T. Kiyosaki)
Jika Anda memiliki cita-cita lebih besar daripada keadaan Anda saat ini, Anda akan heran dengan kekuatan Anda yang sebenarnya
(Barack Obama)

TENTU saja mimpi yang dimaksud di sini bukan sebagai “bunga tidur”, melainkan mimpi yang kita miliki ketika kita terbangun, alias cita-cita. Ir Soekarno, presiden pertama republik ini pernah berkata, “gantungkan cita-citamu setinggi langit“. Ya…, Presiden Soekarno, menyeru pada bangsanya untuk memiliki cita-cita yang tinggi serta semangat heroik perjuangan yang tinggi untuk merengkuhnya.
Semua orang sukses pasti pada awalnya adalah mereka yang memiliki mimpi. Kekuatan mimpi inilah yang akhirnya menuntun para tokoh besar untuk meraih sukses, demikian pula saya kira amat menentukan kesuksesan seorang guru.

Mimpi yang punya kekuatan
Mimpi bagaimana yang memiliki kekuatan dahsyat, yang sudah seyogyanya dimiliki oleh para guru?
Pertama, Berorientasi Perubahan. Salah satu kriteria mimpi yang memiliki kekuatan dahsyat adalah mimpi yang berorientasi pada perubahan, tentu saja perubahan positif. Misalnya: ibu Teresa, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan juga tokoh nasional kita Ibu Kartini. Tokoh-tokoh hebat ini ternyata memiliki mimpi yang sangat berorientasi pada perubahan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi terutama bagi banyak orang. Mimpi seperti ini mendorong banyak orang juga untuk membantu para tokoh tersebut mewujudkan perubahan yang ingin mereka ciptakan.
Kedua, Fokus ke masa depan. Mimpi tentang masa lalu tidak termasuk dalam mimpi yang memiliki kekuatan untuk meraih sukses. Sebaliknya, mimpi yang berorientasi ke masa depanlah yang memiliki kekuatan menuntun seorang guru meraih sukses.
Ketiga, Jelas. Satu lagi kriteria utama yang harus dimiliki sebuah mimpi agar mampu mempunyai kekuatan dahsyat adalah kejelasan. Artinya, semakin jelas dan terperinci mimpi yang dimiliki, semakin mudah bagi seorang guru untuk mengatur rencana dan strategi untuk mewujudkannya.

Fungsi Mimpi Bagi Seorang Guru
Setelah kita mengetahui kriteria dari mimpi yang memiliki kekuatan dahsyat di atas, selanjutnya tentu kita ingin mengetahui apa saja kekuatan mimpi yang bisa para guru manfaatkan untuk meraih sukses sebagai seorang guru?
Pertama, Kekuatan Motivasi. Mimpi seorang guru idealnya mampu memberikannya motivasi untuk berencana, bertindak, dan mengatur strategi dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan memiliki mimpi juga seorang guru terpacu berusaha memulai langkah pertama menuju sukses yang ia impikan sebagai seorang guru. Tentu saja, guru yang punya semangat (karena mimpi-mimpi yang ia punya), punya peran positif dalam tumbuh kembang anak-anak didiknya.
Kedua, Kekuatan Arah. Selain mampu memberikan motivasi yang kuat untuk bertindak, mimpi yang terperinci juga mampu memberikan arah yang jelas bagi seorang guru ke mana ia harus melangkah, mengambil solusi yang tepat sehubungan dengan persoalan-persoalan pendidikan di sekolah. 
Ketiga, Kekuatan Menggulirkan Perubahan. Kekuatan yang juga sangat penting adalah kekuatan menggulirkan perubahan. Tanpa mimpi tak akan ada perubahan. Mimpilah yang membuka jendela ke perubahan positif di masa depan. Melalui mimpi kita bisa melihat masa depan yang bagaimana yang ingin kita ukir. Gambaran perubahan positif di masa depan inilah yang akhirnya mendorong kita mewujudkan perubahan tersebut. Hal ini juga yang dialami misalnya, Ibu Kartini, yang ingin mengubah derajat para wanita, dan mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui pendidikan. Ia pun lalu terdorong mendirikan sekolah bagi para remaja putri dan wanita. Ia yakin bahwa pendidikan dapat mendongkrak derajat para wanita ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, ia juga “mempromosikan” mimpinya tersebut kepada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya mampu membantunya mewujudkan mimpi tersebut. Hal ini dilakukannya dengan menuliskannya pada surat-surat yang dikirimkannya pada teman dan sahabat. Kejelasan mimpi ini telah memberi kekuatan yang dahsyat kepada Ibu Kartini dan juga tokoh lain untuk mewujudkan mimpi mereka.
 
Seorang guru tidak akan pernah mencapai sukses sebagai seorang guru, jika dia tidak bermimpi kemudian bekerja keras siang malam untuk mewujudkan impiannya tersebut, menemukan terobosan-terobosan bagus untuk masa depan anak didiknya. Kerja keras seorang guru memang perlu. Namun hanya kerja keras tidaklah cukup untuk membangun sukses yang besar. Masih dibutuhkan mimpi dan cita-cita seorang guru, kerja cerdas, serta kreativitas seorang guru untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan ide-ide besarnya.
 
Maka para guru, gantunglah cita-citamu setinggi-tingginya jika ia berupa langit. Maka, selamlah cita-citamu sedalamnya lautan jika ia berupa samudera. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah takut pada rintangan. Jangan pernah takut pada ketinggian. Dan jangan pernah menyurut nyali pada kedalaman. Jadi, para guru marilah bermimpi untuk kesuksesan pendidikan kita, pendidikan bangsa ini ke depan!.***

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com

Sabtu, 15 Oktober 2011

CERITA DI BALIK STUDI LANJUT

 Oleh : Ibrahim*
 
Pasca Sarjana (bukan paska) berarti setelah sarjana. Dalam dunia akademik, pasca merujuk pada dua level: S2 (Magister) dan S3 (Doktor). Seperti piramida, kondisi pendidikan kita di negeri ini memang masih menempatkan sarjana di lapis bawah, magister di lapis kedua, dan doktor di lapis yang mengerucut paling atas dengan jumlah yang terbatas.

Namun perlahan-lahan, tampaknya piramida itu akan mulai tidak membentuk siku-siku karena saat ini trend untuk mengambil S2 dan S3 sedang mendera negeri ini. Apalagi Undang-Undang Sisdiknas mengatur bahwa seorang dosen minimal bergelar S2. Ternyata bukan hanya kalangan dosen saja yang mulai mengikuti kecenderungan itu, gelar magister dan doktor nyatanya kini menjadi semacam gengsi, banyak politisi dan pejabat yang sekarang memburunya, walau dengan berbagai rupa cara yang acapkali tak "prosedural".

Jika mengikuti prosedur yang baku, meraih gelar magister dan doktor tentulah tidak mudah. Bukan saja berhadapan dengan substansi keilmuan yang ingin diraih, tetapi juga berkaitan dengan teknis dan pembiayaan yang kadang tidak bisa diajak kompromi. Setiap orang pun punya cerita dan masalah sendiri-sendiri.

Senior saya, Dr. Edy Nurtjahya mengatakan tidak ada masalah ketika mengambil S2 di Inggris karena mendapatkan beasiswa, namun ketika S3 di IPB, ia menemui masalah. Masalahnya adalah beasiswa BPPS hanya tiga tahun, padahal ia belum selesai ketika beasiswa sudah berakhir. Cerita Pak Dedih Sapjah, S.T., M.Sc lain lagi. Selama studi di Belanda ia harus berpisah dengan sang istri dan anak-anaknya. Alhasil, ketika mendapatkan tawaran mengambil S3 di Inggris beberapa waktu lalu, sang istri tak membolehkan lagi.

Rektor saya di UBB punya kisah yang lebih unik. Selama 11 bulan menuntut ilmu di Filipina, ia meninggalkan istri yang sedang merawat anak yang masih kecil. Dalam sebuah kesempatan, istri pak rektor bertutur: "Wah dulu bapak itu waktu studi di Filipina sering sekali berkirim surat. Sebentar-sebentar kirim surat untuk memastikan kondisi anak-anak. Kadang surat satu belum sampai, terus bapak udah ngirim surat lagi. Bapak kan sayang banget sama anak-anaknya".

Kisah Pak Made, Dosen Polman juga unik, ketika studi di Belanda mengambil gelar master, dia meninggalkan juga anak istrinya. Ketika ada teman saya yang iseng bertanya bagaimana dengan urusan biologis, sambil tersenyum kecut Pak Made menjawab: "Yah, bisa-bisa kita mengendalikannya".

Kisah teman saya Zainudin lain lagi. Setelah tertatih-tatih menyelesaikan pendidikan sarjananya di Filsafat UGM, dia bingung harus bagaimana, namun tekadnya untuk melanjutkan ke pendidikan magister sangat menggebu. Setelah lulus, diapun bergegas pulang ke kampung halamannya di Bima. Setengah memaksa ia meminta orangtuanya menjual sebidang tanah yang mereka miliki. Hasilnya ia gunakan untuk mendaftar di S2 Politik UGM, sisanya ia membuka usaha rental komputer. Dari situ ia kemudian membiayai pendidikannya dan juga mampu membiayai kedua adiknya. Setelah lulus magister, ia melamar ke banyak tempat, dan lamarannya nyantol di Depdagri. Kini ia menjadi orang kepercayaan deputi di departemennya. Ini berkat kegigihannya untuk meraih tekad, meski dengan keras dan jalan terjal.

Teman saya, Norman Ary di Bioteknologi UGM kini mandek dalam studinya. Harusnya tahun ini ia sudah bisa merampungkan disertasinya dan akan menjadi lulusan ke-8 jurusan bioteknologi UGM, namun ketiadaan dana untuk membantunya membeli alat ukur eksperimen ikannya senilai 25 juta sebanyak 4 buah menyebabkan ia tak bisa mengalami kemajuan studi. Setiap bertemu saya, dari kejauhan ia sudah memukul keningnya dengan telapak tangan pertanda bahwa ia belum menemukan solusi.

Cerita Pak Tarmizi, guru saya, yang mengambil magister di UNY ketika saya akan menyelesaikan S1 lebih dramatis. Setelah nekat melepaskan jabatannya di sebuah sekolah bergengsi demi studi lanjut, ia masih harus berjuang dengan pembiayaan. Ia tidak mendapatkan sponsor darimanapun, dari institusinya pun tidak. Dengan gajinya yang terbatas, ia harus mampu membagi antara dirinya, anaknya, dan istrinya yang terpaksa ditinggalkan demi studi. Secara rutin kami bertemu, karena kos beliau yang ukuran 2,5 x 3 meter berada tepat di depan kos kami.

Masih tentang guru saya, Pak Paizal, ia mengambil program magister atas sponsor dari LPPM. Ketika ia bermaksud menghadap bupati menjelang penelitian untuk tesisnya, ia berhadapan dengan kalimat yang kurang menyenangkan: "Pada prinsipnya saya akan mengirimkan orang untuk studi berdasarkan kebutuhan, jadi saya tidak bisa bantu banyak". Bukannya berterima kasih karena salah satu stafnya dibantu oleh institusi lain, malah justru sang bupati terkesan kurang simpatik.

Saya sendiri, sejak awal sudah berprinsip bahwa saya tidak akan mungkin mampu mengambil doktor tanpa dukungan dari sponsor. Saya mengirimkan aplikasi beasiswa ke banyak negara tujuan. Respon yang bagus datang dari beberapa negara, seperti Prof. Knut di Norwegia, Prof Hans di Jerman, Profesor John Keane di Inggris, Prof. Gerald di Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya. Sambil itu, saya pun mengikuti seleksi di The Habibie Center yang setiap periode seleksinya memilih 5 orang seluruh Indonesia. Hasilnya, saya dinyatakan diterima di The Habibie Center dan memulai studi pada pertengahan tahun 2009 di UGM. Tentu saya harus cuti dari mengajar dan dikembalikan ke gaji pokok. Dengan mengandalkan tunjangan beasiswa dan gaji pokok, saya harus pintar-pintar memenej alokasi untuk studi, kebutuhan anak istri, dan kebutuhan tak terduga lainnya. Ini adalah konsekuensi dari pilihan yang harus dijalani dengan konsisten.

Kisah-kisah di atas adalah kisah orang-orang yang menghadapi masalah karena pilihan yang diputuskannya sendiri. Selain berhadapan dengan sulitnya mencari pendanaan, meninggalkan anak dan istri, mereka juga umumnya berjibaku dengan mekanisme pendidikan yang full dan tak kenal kompromi. Oleh tempat belajar, mereka ditempa secara maksimal untuk menguasai substansi keilmuan.

Tetapi di balik kisah-kisah itu, ada banyak kisah-kisah orang yang mendapatkan kemudahan ketika studi lanjut. Hanya dengan kuliah di hotel-hotel mewah tanpa meninggalkan jabatan dan anak istri. Atau dengan kuliah hanya akhir pekan saja. Atau kuliah sambil tetap mengajar dan menjabat. Atau dengan beramai-ramai naik pesawat ke kota tertentu untuk pertemuan secara berkala saja. Yah, begitulah dua sisi dunia. Yin dan Yang istilahnya jika dalam filosofi Cina.
 
*Dosen FISIP UBB Sedang Studi Doktoral di Ilmu Politik UGM

Selasa, 26 April 2011

JENJANG JABATAN AKADEMIK DOSEN

Angka Kredit adalah :
Satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang diberikan / ditetapkan berdasarkan penilaian atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang dosen dan dipergunakan sebagai salah satu syarat dalam rangka pembinaan karier dalam jabatan fungsional / kepangkatan.
 
Syarat untuk kepangkatan dosen swasta
Yang Diperlukan Dalam Pengurusan Jenjang Jabatan Akademik :

1. Bidang : Pendidikan dan Pengajaran [ min. 30 %, diluar ijasah]
a). Fotocopy ijasah dan transkrip nilai S1, S2, dan S3 yang telah dilegalisir [calon Guru Besar, harus yang sebidang ilmu / linier S1, S2 dan S3]

Yang dimaksud ijasah dan transkrip nilai adalah ijasah dan transkrip nilai dari tingkat S1 sampai tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diikuti.  Jika ijasah dari Universitas di luar negeri, maka harus disertakan SK Penyetaraan Ijasah Luar Negeri dari DIKTI
Contoh :
Dosen yang bergelar Dr. [Doctor], maka ijasah dan transkrip nilai yang perlu dikumpulkan adalah ijasah dan transkrip nilai S1, S2 dan S3.
 
b). SK Mengajar
SK Mengajar yang dapat dinilai adalah SK Mengajar setelah menempuh gelar pendidikan S1 [lulus sebelum tahun 2007, serta SK Mengajar selama mengikuti pendidikan lanjutan dapat dinilai jika dosen ybs menempuh pendidikan di Indonesia]
 
c). Membuat Diktat Kuliah
Diktat yang dibuat untuk mengajar di Univ dosen yang bersangkutan dan memenuhi kriteria diktat kuliah [minimal 55 halaman ; kata pengantar, daftar isi, daftar pustaka minimal 3 referensi] spasi 1½, font Times New Roman, size 11, berisi teori bukan transparan]
 
d). Membimbing / Menguji Skripsi
  • Minimal memiliki Jenjang Asisten Ahli
  • Membimbing : Maksimal 3 Judul Skripsi [dibuktikan dengan Berita Acara Ujian yang meliputi ; Judul Skripsi ; Nama Dosen Pembimbing ; Nama Mahasiswa ; Hari/Tanggal/Waktu Ujian ; Nama Tim Penguji ; dan mahasiswa yang di bimbing lulus, serta surat tugas membimbing dari instansi ybs]
  • Menguji : Maksimal 3 Mahasiswa per semester [dibuktikan dengan Berita Acara Ujian yang meliputi ; Judul Skripsi ; Nama Dosen Pembimbing ; Nama Mahasiswa ; Hari/Tanggal/Waktu Ujian ; Nama Dewan Penguji ; Jabatan Penguji Utama/Pendamping, serta surat tugas menguji dari instansi ybs]

2. Bidang B : Penelitian [ Min. 25 % ]
  • Menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan dalam : 1). Majalah ilmiah internasional yang bereputasi, 2). Majalah ilmiah nasional terakreditasi mis. Jurnal yang diterbitkan oleh Binus; Jurnal Inasea [Teknik Industri], dan Piranti Warta [BBS] dll., 3). Majalah ilmiah nasional tidak terakreditasi tetapi mempunyai ISSN
  • Pembicara pada seminar / konferensi internasional / nasional [dibuktikan dengan sertifikat / surat tugas] sebagai pembicara, serta diterbitkan dalam prosiding ber ISSN / ISBN].
  • Menghasilkan karya ilmiah [laporan penelitian] yang tidak dipublikasikan :
  • Min 20 halaman, spasi 1½, font Times New Roman, size 11 [max 3 tulisan dalam 1 tahun]
  • Berisi Abstrak, Daftar Isi, Penelitian [apa yang diteliti, metode penelitian dan tujuannya], Kesimpulan, Daftar Pustaka (tersipan di dalam perpus Univ dosen yang bersangkutan)
  • Menterjemahkan / menyadur buku ilmiah yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional [ISSN / ISBN].
  • Mengedit / menyunting karya ilmiah yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional [ISSN / ISBN].
  • Membuat rancangan dan karya teknologi yang dipatenkan.

3. Bidang C : Pengabdian Kepada Masyarakat [ Min. 1 point ; Max. 15 % ]
4. Bidang D : Unsur Penunjang [ Min. 1 point ; Max. 20 % ]
  • Menjadi anggota dalam suatu panitia / badan pada perguruan tinggi atau lembaga pemerintah atau organisasi profesi
  • Mewakili perguruan tinggi / lembaga pemerintah duduk dalam panitia antar lembaga
  • Menulis buku pelajaran SLTA ke bawah yang diterbitkan secara nasional
  • Mendapat tanda jasa / penghargaan
  • Mempunyai sertifikat keikut-sertaan pada seminar
  • Dibuktikan dengan sertifikat asli / surat ucapan terima kasih asli.

CONTOH KASUS 1 [Proses Baru] :
Seorang Dosen lulus S2 pada tanggal 14 Februar1 2001, dan mulai mengajar di Binus pada semester Ganjil 2005 / 2006. Dosen ybs belum punya jenjang jabatan akademik dan telah mengajar di Binus selama 2 sem [ 8 sks / sem ], mempunyai jenjang pendidikan S2 dalam bidang ilmu yang sama atau berhubungan / berdekatan S1-nya , mempunyai satu tulisan yang terbit pada Jurnal ber ISSN sebagai penulis mandiri, pernah menjadi Instruktur dalam suatu pelatihan di Binus, pernah mengikuti 5 macam seminar sebagai peserta; maka point yang diperoleh dosen tsb adalah:
 
A. Pendidikan dan Pengajaran [ minimal 30 % dari 10 point = 3 point ]:
  • Pendidikan S1 : 100 point
  • Pendidikan S2 : 50 point
  • Mengajar : [ 8 * 0,5 point ] * 2 sem 8 point [+]
  • 158 point
B. Penelitian [ minimal 25 % dari 10 point = 2.5 point ] :
1 Publikasi Tdk Akreditasi : 1 * 8 point 8 point
 
C. Pengabdian pada Masyarakat [max. 15% dari 10 point = 1.5 point ; min. 1 point]
Instruktur dalam Pelatihan di Binus : 1 point [+]
Total A+B+C = [minimal 80% dari angka yang di syaratkan] 167 point
 
D. Penunjang Tridharma PT [ max. 20 % dari 10 point = 2 point ; min. 1 point ]
Mengikuti 5 seminar / pelatihan 5 * 1 point 2 point [+]
Total A+B+C+D = 169 point

Dengan perhitungan di atas, maka dosen ybs dapat diusulkan ke : Asisten Ahli [ 150 ] karena telah mempunyai angka kredit yang cukup, dengan jenjang pendidikannya S2 dan sebidang ilmu

CONTOH KASUS 2 : [ Proses Naik]
  • Seorang dosen mempunyai pendidikan S2 bidang arsitektur dan telah mempunyai JJA Asisten Ahli-100 dengan TMT 01 Januari 1999. Dosen ybs ingin naik ke Lektor [300].
  • Pada tanggal 10 September 2003, dosen ybs lulus S3 bidang manajemen [tidak dalam bidang ilmu yang sama atau berhubungan / berdekatan] di salah satu PT di Jakarta
  • Mengajar di Binus pada semester Genap 1999/2000 sampai semester Ganjil 2004/2005 [12 sks/sem]
  • Penguji Utama pada semester Genap 1999/2000 sampai semester Ganjil 2004/2005 [3 mhs/sem] -> jika nilai penguji utama sudah digunakan, maka sebagai penguji pendamping nilai tidak dapat dihitung jika semesternya sama.
  • 3 Jurnal ber ISSN sebagai penulis mandiri dan 1 tulisan dalam jurnal terakreditasi, pernah menjadi Instruktur dalam suatu pelatihan di Binus sebanyak 30 kali
  • Mengikuti 35 macam seminar / pelatihan sebagai peserta
Maka point yang diperoleh dosen tsb adalah :
 
A. Pendidikan dan Pengajaran [ minimal 30 % dari 200 point = 60 point ]:
Pendidikan S3 : 15 point
Mengajar : [ 10 * 0,5 point ] * 10 sem 50 point
[ 2 * 0,25 point ] * 10 sem 5 point
Penguji Utama : [ 3 * 1 point ] * 10 sem 30 point [+]
100 point
 
B. Penelitian [ minimal 25 % dari 200 point = 50 point ]
3 Publikasi Tdk Akreditasi : 3 * 8 point 24 point
1 Publikasi Akreditasi : 1 * 25 point 25 point [+] 49 point [minimal 50]
 
C. Pengabdian pada Masyarakat [max. 15% dari 200 point = 30 point ; min. 1 point]
Instruktur dalam Pelatihan di Binus : 30 * 1 point 30 point [+]
Total A+B+C = [minimal 80% dari angka kenaikan = 160 point ] 174 point
 
D. Penunjang Tridharma PT [ max. 20 % dari 200 point = 40 point ; min. 1 point ]
Mengikuti 35 seminar / pelatihan: 35 * 1 point 35 point [+]
Total A+B+C+D = 209 point
 
Dengan perhitungan diatas, maka dosen ybs belum dapat diusulkan ke : Lektor [300], karena Bidang B ybs tidak memenuhi syarat minimal.

PENTING UNTUK DIPERHATIKAN :
1.Untuk pengajuan ke Asisten Ahli dan Lektor, salah satu jurnal / majalah asli akan diberikan ke DIKTI [tidak dikembalikan], sedangkan untuk pengajuan ke Lektor Kepala dan Guru Besar, semua jurnal / majalah asli tidak akan dikembalikan .
 
2. Diktat Kuliah [Bidang A] dan Karya Ilmiah / laporan penelitian yang tidak dipublikasikan [Bidang B] harus diprint sesuai dengan format
  • Spasi 1½, font Times New Roman, size 11.3. 
  • Kenaikan jenjang jabatan akademik dapat diajukan minimal 1 [satu] tahun akademik sejak TMT SK JJA dengan syarat: karya ilmiah diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi oleh DIKTI [sebagai penulis utama / mandiri], point A, B, C, dan D terpenuhi.
  • Apabila dosen tidak mempunyai karya ilmiah yang diterbitkan pada jurnal yang telah diakreditasi oleh DIKTI, maka dosen yang bersangkutan baru bisa naik ke jenjang jabatan berikutnya setelah >= 3 [tiga] tahun akademik sejak TMT SK JJA dengan syarat : harus menulis karya ilmiah yang diterbitkan dalam majalah / jurnal ilmiah yang ber ISSN sebagai penulis utama.
  • Karya ilmiah yang belum pernah diajukan tetapi tahun penerbitannya < TMT, tidak dapat di hitung untuk kenaikan berikutnya.

Senin, 25 April 2011

GAJI DOSEN SWASTA INDONESIA

Hampir setiap hari Blog saya ini menerima enquiry “standar gaji dosen swasta Indonesia”. Karena enquiry ini bertubi-tubi, maka dengan ini saya bukakan saja standar gaji dosen swasta Indonesia yang saya kutip dari “Universitas X”

HONORARIUM PER SKS

Pendidikan S1 : Asisten Ahli Rp 50.000; Lektor/Praktisi/6 tahun pengalaman mengajar Rp 75.000

Pendidikan S2 : Asisten Ahli/sederajat Rp 75.000; Lektor/sederajat Rp 100.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 125.000; Buru Besar Rp 175.000

Pendidikan S3 : Asisten Ahli/Lektor Rp 125.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 150.000; Guru Besar Rp 175.000

HONORARIUM PEMBIMBING DAN PENGUJI SKRIPSI
Pembimbing skripsi Rp 400.000 per skripsi
Penguji skripsi baik penguji utama ataupun pembantu penguji Rp 150.000 per mahasiswa peserta ujian skripsi

UANG TRANSPORTASI
Diberikan sesuai dengan kebijakan Universitas

CATATAN
Honor dosen tersebut di lingkungan universitas swasta di Jakarta kurang lebih sama, namun bedanya, ada universitas yang menetapkan rate tersebut sebelum dipotong pajak (before tax), ada universitas lainnya yang menetapkan rate tersebut setelah dipotong pajak (after tax) – dalam hal ini tax telah dibayar oleh universitas yang bersangkutan..

Jika jumlah kelas cukup banyak di universitas swasta tersebut, dan dosen mendapat beban sks yang cukup besar, menurut hitungan kasar saya gaji dosen universitas swasta di Jakarta (setelah dipotong pajak) adalah berkisar antara Rp 2.000.000 sampai Rp 10.000.000
Berminat jadi dosen ?

Ingat jadi dosen itu selain mendapat imbalan berupa honorarium juga mendapat kepuasan pribadi karena telah mengamalkan ilmu kepada sesama, selain itu juga sesuai dan mendukung Tujuan Negara Indonesia seperti yang termaktub dalam Mukadimmah UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”
Hidup dosen !!!

Senin, 11 April 2011

Profesor Dong Tak Mau Dianggap Jika Muridnya Tak Sukses!

 Perilaku seorang profesor di China menimbulkan perdebatan. Pasalnya, profesor bernama Dong Fan ini membuat pernyataan kontroversial melalui microblog populer di China, Sina.
 
Direktur Pusat Penelitian Real Estate di Beijing Normal University ini memperingatkan mahasiswanya agar tidak mengunjunginya atau menyebutkan Dong sebagai mentor, jika mereka tidak memiliki pendapatan 40 juta yuan atau setara dengan Rp52 miliar (Rp1.324 per yuan) di usia 40 tahun.
 
”Kemiskinan bagi mereka yang mempunyai gelar pendidikan tinggi berarti rasa malu dan kegagalan,” tulis Dong di akun microblog-nya. Pernyataan Dong menarik perhatian ribuan netizen dan memicu diskusi panas tentang menjadi hamba uang dalam sistem pendidikan China.

Sebuah survei yang dihelat Ifeng.com atas pernyataan Dong menunjukkan, lebih dari 78,8 persen dari 124.882 responden menyatakan tidak akan mempertimbangkan hidup mereka masuk kategori gagal jika tidak mendapatkan 40 juta yuan.

 
Sementara 44 persen tidak melihat kekayaan sebagai satu-satunya indikator keberhasilan dan 26 persen benar-benar tidak setuju dengan pernyataan Dong. Meski memicu kontroversi, pernyataan Dong dipandang positif oleh sejumlah pihak.
 
“Ini memang kejam tapi nyata. Apa gunanya pendidikan tinggi jika tidak mampu menciptakan kekayaan dan mencari uang untuk orang yang Anda cintai?” tulis seorang netizen. Netizen lainnya yang bernama “Chaney” bertanya, “Apa salahnya mendorong orang untuk membuat keberuntungan?” seperti dikutip dari Xinhua, Senin (11/4/2011).
 
Menurut catatan situs pencarian kerja yang populer di China, Zhaopin, rata-rata pendapatan bulanan lulusan sarjana di Cina adalah 2.321 yuan atau setara dengan Rp3 juta. Lulusan pascasarjana menerima penghasilan rata-rata 3.254 yuan atau setara dengan Rp4,3 juta per bulan pada 2010.

Survei terpisah yang dilakukan atas 5.866 perusahaan, yang juga dilakukan Zhaopin menunjukkan, orang yang bekerja di real estate mendapat pendapatan tahunan rata-rata 66.700 yuan atau setara dengan Rp88.3 juta. Bekerja di bidang real estate merupakan profesi dengan bayaran tertinggi kedua.


Menanggapi keraguan dan kritik atas dirinya, Dong mengklarifikasi pernyataan yang menuai kontroversi. Menurutnya, tulisan itu merupakan alat untuk “menggoda” agar mahasiswanya mau bekerja keras saat memasuki dunia bisnis. Dan yang terpenting, pesan ini tidak berlaku untuk semua pekerjaan.

 
“Empat puluh juta yuan tidak akan menjadi standar yang tinggi untuk seorang manajer senior atau pemilik dengan gelar pascasarjana saat mahasiswa saya menjadi 40 tahun,” tulis Dong sambil menambahkan pernyataannya adalah tentang uang dan investasi di bidang real estate, bukan tentang moralitas.


Selasa, 30 November 2010

Wahai Dosen, Mana Tulisanmu?

Oleh Amin Musthofa*)

BERGERAK di dunia kepenulisan secara kritis merupakan ciri khas mahasiswa. Semangat menggelora untuk menghasilkan karya tulis yang baik terus menyala dalam diri mahasiswa. Terbukti, karya mahasiswa terus menghiasi dunia media massa. Bahkan tulisan mahasiswa kerap sangat berbeda dari tulisan lain, karena dilakukan dengan motivasi sangat tinggi. Publik pun memberikan sambutan meriah dengan kegemuruhan aktivisme mahasiswa dalam menghasilkan karya tulis yang baik dan berkualitas.

Karya tulis mahasiswa tidak hanya beredar di berbagai media massa, tetapi juga di buletin, jurnal, dan buku. Tidak sedikit karya mereka berkapasitas tinggi, bahkan sangat inspiratif dalam dunia pergolakan.

Tulisan mahasiswa makin hangat karena mendapatkan apresiasi tinggi dalam berbagai kajian dan wacana perdebatan antara dunia kampus. Jaringan lintas kampus itu yang membuat ide kritis makin menyebar dalam ragam pergerakan sosial yang terjadi.

Pertanyaannya sekarang, mana karya tulis para dosen? Kalau mahasiswa begitu aktif, sedikit sekali dosen yang aktif dalam menulis karya di media, jurnal, bahkan buku. Kerisauan ini bahkan diakui oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang melihat para dosen masih miskin tulisan dan minim kualitas tulisan dalam penelitian.

Rata-rata dosen lebih banyak mengejar setoran, tanpa ada perenungan dan pemaknaan kritis atas fakta sosial di sekeliling.

Kalau kita lihat di media massa, hanya orang-orang itu yang menghiaskan tulisan mereka di media massa. Dosen yang lain mana? Ternyata yang lain lebih banyak mengejar proyek atau sekadar kejar setoran dalam mengajar. Jebakan proyek terlihat sekali dari para dosen sehingga semangat menulis mereka menurun. Jebakan proyek yang menjanjikan kekayaan telah menyita waktu dosen dalam menganalisis keilmuan, sehingga sibuk dengan berbagai pelaporan proyek yang terus dikejar. Selesai satu proyek berganti dengan proyek lain, yang terus berganti-ganti.
 Menggiurkan Di berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, jebakan proyek memang sangat menggiurkan. Tak lain karena perguruan tinggi tekemuka begitu dekat dengan jaringan kekuasaan. Jaringan kekuasaan sangatlah mendekatkan dunia dosen untuk ikut serta dalam berbagai proyek negara. Atau, juga dengan berbagai perusahaan sehingga memanfaatkan jaringan proyek perusahaan besar.

Itu jelas menjanjikan kekayaan melimpah. Terbukti, para dosen lebih banyak berlomba-lomba membeli mobil terbaru.

Areal parkir kampus sekarang dipenuhi mobil baru para dosen yang makin waktu kian banyak.
Ada juga seorang dosen yang hanya menghabiskan waktu untuk mengajar. Mereka tipologi dosen pasif yang pasrah dengan kondisi, tanpa gejolak keilmuan dalam diri. Tipologi itu gampang-susah karena mereka memang pasif dalam dunia pemikiran dan pergerakan.

Dosen model itu masih memegang tradisi normatif bahwa mengajar mendapatkan pahala besar. Hanya dengan mengajar, mereka seolah-olah mendapatkan pahala melimpah. Model dosen itu masih ada di sebagian kampus. Walaupun rata-rata mereka adalah generasi masa lalu yang kebetulan menjadi dosen saat itu.

Melihat kondisi dosen yang miskin karya tulis itulah, layak jika kita menggugat para dosen yang begitu asyik mengajar dan memberikan tugas ke mahasiswa. Seharusnya para dosen menjadi contoh bagi mahasiswa dalam menggerakkan dunia keilmuan dan kepenulisan. Tetapi sering kali malah dosen yang harus berguru pada mahasiswa. Itulah yang harus diakui para dosen. Karena, fakta memang berbicara demikian.
Sedikit Sekali Menurut pendapat Eko Prasetyo (2008), para dosen, bahkan yang lulusan luar negeri sekalipun, sedikit sekali yang bisa mengobarkan semangat intelektualisme dan semangat kepenulisan pada mahasiswa. Eko pun merasa kesulitan mencari mitra diskusi ketika diundang dalam berbagai acara seminar di berbagai kampus terkemuka di Indonesia. Dia sedih karena kemandekan intelektualisme dan kepenulisan kampus yang mengakibatkan para mahasiswa makin lesu dalam menggerakkan dunia diskusi dan makin lumpuh dalam menggerakkan semangat pembebasan melalui media kepenulisan.

Beberapa saat terakhir ini, pada saat sertifikasi merebak, para dosen hanya mengejar tulisan untuk syarat sertifikasi. Bukan sebagai gejolak intelektual yang menjadi penyemangat mahasiswa. Itu terbukti karena setelah tulisan terbit atau beredar, tulisan para dosen itu tak lagi terdengar atau bahkan sepi dari gagasan yang pernah dilontarkan. Mereka kembali sibuk dengan berbagai proyek yang menanti. Itu menimbulkan keprihatinan mendalam.

Dalam konteks ini, menarik apa yang dilakukan dosen terkenal, Jalaluddin Rahmat. Dosen satu itu tipe pemikir dan penulis yang mengharuskan diri menulis buku, minimal terbit satu dalam setahun. Target itu selalu dia penuhi, bahkan sering melebihi target. Setahun dia bisa menulis lima buku sekaligus. Itu dia akui dalam berbagai forum diskusi di berbagai kampus di Indonesia untuk membakar semangat menulis para dosen.

Menarik pula yang dilakukan Prof Yudian, yang berani menerbitkan buku dalam bahasa Inggris untuk khalayak kampus di Yogya. Dia juga menerbitkan autobiografi intelektual yang sangat menarik, bahkan yang pertama di dunia kampus di Indonesia. Kini, saatnya dosen berguru kembali.

Menjejakkan kaki di kampus, sekali lagi, bukan untuk menumpuk kekayaan, melainkan menjadi resi keilmuan yang terus mentransformasikan nilai kemanusiaan. (51)

*) esais dan peneliti sosial, tinggal di Pati  

Jumat, 05 November 2010

"Nge-blog wajib bagi para dosen, Gimana pak Rektor ?

"Salam Pak. Terima kasih mampir. Saya setuju utk melacak dosen2 yg menggunakan publikasi personal spt blog ini sbg educational tool"
 
Abdul ghaffar, dosen UGM

Sangat menarik Penulis mendapat balasan perlu adanya forum dosen sesuai dengan bidang profesinya salah satunya usulan dari Pak Abdul Ghafar, dosen UGM. Sarana komunikasi yang saya kira jauh lebih membumi dan karya intelektual anda sebagai dosen banyak dibaca publik dunia dan siapa tahu ada penerbit yang melirik dan menghargai seluruh karya intelektual anda, salah satunya melalui sarana webblog dan media yang sangat murah lagi gratis dan tidak perlu harus memposkan tulisan anda yang dikirimkan kemedia massa dan tentu saja usulan ini belum ada tanggapan serius dari beberapa dosen senior yang saya kira kalau kita lacak jumlahnya sangat banyak, apalagi bapak rektor seluruh indonesia, gimana pak Rektor ?

Apa perlu seorang dosen ngeblog kalau dilacak ternyata banyak juga dosen non- IT yang menjadikan blog sebagai sarana media publikasi tulisannya. banyak kendala yang sering terjadi dengan kegiatan blog ini seperti pemahaman terhadap dunia IT,  tidak semua dosen mengetahui ada media publikasi umum yang gratis dan independen bisa dikelola sendiri. seiring dengan perkembangan internet yang merambah fiture HP dengan adanya jejaring sosial seperti facebook ternyata sangat berperan cepatnya pengenalan dunia blog ini dikalangan masyarakat tanpa sekat dan tanpa ada pembatasan.

Penulis sendiri mulai belajar ngeblog meneganl blog ini sejak tahun 2007 secara otodidak melalui buku-buku dan tutorial blog yang bersamaan saat pertama kali disekolah dibuka jaringan internet, semuanya didasari rasa penasaran katanya ada sejenis web gratis yang bisa diutak-atik. Blog pertama yang dipelajari penulis adalah www.blogger.com dengan blogspot-nya. Salah satunya blogger kawakan saat itu A. Fatih Suhud dengan tutorial blog-nya yang pada waktu itu sangat terkenal sebagai suhunya dikalangan blogger Indonesia sampai blog-nya diblokir karena kepopulerannya yang menurutku saat itu sangat luar biasa yang kemudian beralih ke wordpress lagi-lagi dengan tutorailnya yang juga penulis mencobanya juga sampai sekarang dengan blog "The Managemen Lecture Resume", blog pertama di wordpress dengan beragam kategori ilmu manajemen.

Untuk dosen IT siapa yang tak kenal Romi Satrio Wahono dan  Yudi Sutarso, dosen STIE Perbanas Surabaya yang menggunakan blog sebagai sarana diskusi dan komunikasi khususnya untuk mata kuliah pemasaran (marketing).  Dari beliaulah aku punya ide untuk mendokumentasikan bahan pengayaan perkuliahan yang disunting kembali dari beberapa web dan blog untuk membantu kesulitanku sebagai dosen baru yang kurang sumber materi kuliah terutama untuk mata kuliah manajemen dan metodologi riset, sehingga lahirlah beberapa weblog : manajemen penelitian, manajemen komunikasi, manajemen organisasi, Informasi Dunia Pendidikan yang saat penulis coba kembangkan kembali dan mencoba merintis hasil tulisan dan curahan sendiri dan mengambil kutipan dan instisari dari tugas mahasiswa dalam bentuk resume perkuliahan. Selain tutorial bang Isnaeni dengan Isnaeni.com-nya yang juga ikut menyoroti dalam tulisannya "Dosen ngeblog?" Selain punya dream untuk menjadikan sebuah buku dan menerbitkannya. atau dikalangan blog khusus dunia pendidikan aku sangat salut dengan tulisan Ahmad Sudrajat, MPd yang bisa berbagi ilmu secara gratis.

Bagi penulis kegiatan ngeblog ini bukan hanya sekedar ephoria saja, atau sekedar iseng saja tapi benar-benar bisa bermanfaat bagi semua digunakan sebagai :
1). Media komunikasi dengan mahasiswa saat menyampaikan perkuliahan bisa menyimpan modul perkuliahan  di blog dan bisa digunakan membantu mahasiswa yang kebetulan tidak masuk kuliah dengan meng-copy paste catatan kuliah yang ditampilkan di blog, tentu nilai komersilnya hilang tapi nilai pembelajaran anda sebagai seorang tenaga pendidika punya value aded yang luar biasa, karena anda dianggap sebagai dosen yang capable dan selalu megikuti perkembangan IT.

2). Media dokumentasi keilmuan para dosen untuk materi perkuliahan, SAP, kisi-kisi perkuliahan, bank soal UAS/UTS, termasuk modul perkuliahan selama satu semester, daripada menyimpan data perkuliahan di flashdisk atau CD yang bisa rusak, blog bisa dijadikan alternatif anda untuk dokumentasi daftar nilai dan tugas mahaiswa atau bank ilmu khususnya resume buku-buku terbaru dari tugas mahasiswa.

3).Media publikasi pemikirannya dan anggap saja draft penulisan anda artinya di blog anda harus sudah memilahkan tulisan original anda berdasarkan kategori tulisan yang spesifik dengan sumber literatur yang dicantumkan dengan tulsian hasil suntingan dari weblog lainnya dan kemungkinan tulisan anda bisa dipublikasikan dalam sebuah buku, siapa tahu kalau tulisan anda menarik dan punya nilai jual bisa dilirik penerbit dan pemerintah akan kinerja sang dosen Indonesia yang katanya sangat malas meneliti dan menulis serta bisa saja ada konsorsium yang bisa memperhatikan dosen swasta sekali, karena belum dosen tetap dan diakui oleh kopertis bahkan untuk mendapat beasiswa-pun terhambat. he..he..curhat dosen.

4). Media promosi personal, siapa tahu jadi selebriti dunia maya he..he..seperti fenomena duo "keong racun" dan terakhir bisa dijadikan sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa dan dosen serta masyarakat akan pengetahuan perkulaiahn secara gratis, saya kira banayak pihak yang akan diuntungkan sebagai pencipta brach image bagi dosen yang untung juga publikasi gratis kampus kalau dosennya eksis dikenal masyarakat dan dunia maya yang begitu luas dan media yang sangat luar biasa jangkauan melebihi televisi dan media komunikasi lainnya.

5). Media berbagi kelimuan dengan siapa saja, walaupun awal pertama hanya untuk mahasiswa sebagai bahan perkuliahan tapi ternyata lebih luas bisa berbagai dengan masyarakat umum yang ingin belajar sebuah keilmuan, siapa tahu suatu waktu pembelajaran itu hanya cukup di dunia maya saja perkuliahannya sebagaimana yang telah dipraktikan di negara lain dengan e-learningnya.

Tidak ada alasan dosen tidak ngeblog dengan melihat nilai lebih diatas dengan memiliki blog gratis dan sangat credible bagi publikasi dan meningkatkan kinerja dosen yang akhir-akhir ini disorot sedang menurun

Nah, kira-kira kenapa ya, kampus-kampus beserta para dosen di dalamnya wajib nge-blog dan mulai melirik blog sebagai media alternatif.  Alasannya yang diungkapkan Blog Fakultas Teknologi Informasi Satya Wacana Business Center yang dilansir oleh http://www.ayongeblog.com
  1. Punya blog itu GRATIS
  2. Punya blog itu MUDAH
  3. Blog COCOK untuk profesi dosen
  4. Blog memberikan ALTERNATIF dalam publikasi
  5. Blog melatih kita BERPIKIR
  6. Blog dapat dipakai untuk PENGELOLAAN pengetahuan
  7. Adanya KOMUNITAS blogger
  8. Memiliki blog dapat dikatakan MODERN
Jadi, Pak-Bu Dosen, jangan kalah ya, sama juga mahasiswanya jangan tinggal diam kita budayakan nge-blog dikampus-kampus, dan jangan mau kalah juga sama dosen lainnya yang udah jadi blogger..

Rabu, 20 Oktober 2010

Guru Inspiratif

by Rhenald Kasali

Dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen guru yang saya temui. Jumlah guru inspiratif amat terbatas, kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.

Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Sayang, sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan amat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

"Freedom Writers" Karya-karya pembaruan, baik temuan spektakuler keilmuan, produk komersial, maupun gerakan sosial, akan tampak di masyarakat. Namun tak dapat dimungkiri, semua itu berawal dari sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat pada Erin Gruwell, perempuan guru yang ditempatkan di sebuah kelas "bodoh", yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antar geng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan honors students, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum. Erin Gruwell memulai dengan segala kesulitan. Selain katanya "bodoh" dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, saling melecehkan, temperamental, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh. Itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak supernakal tak boleh disekolahkan bersama distinguished scholars. Tetapi Erin Gruwell tak putus asa, ia membuat "kurikulum" sendiri yang bukan berisi aneka ajaran pengetahuan biasa (hard skill), tetapi pengetahuan hidup.

Ia mulai dengan sebuah permainan (line games) dengan menarik sebuah garis merah di lantai, membagi mereka dalam dua kelompok kiri dan kanan. Kalau menjawab "ya" mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan beberapa pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati akibat kekerasan antar geng. Line games menyatukan anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka senasib. Sama-sama waswas, hidup penuh ancaman, curiga kepada kelompok lain dan tak punya masa depan. Mereka mulai bisa lebih relaks terhadap guru dan teman- temannya serta sepakat saling memperbarui hubungan.

Setelah berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi sampai buku harian. Anak-anak diminta menulis kisah hidupnya, apa saja. Mereka menulis bebas. Tulisan mereka disatukan, dan diberi judul Freedom Writers. Murid-murid berubah, hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang menjadi pelaku perubahan di masyarakat. Kisah guru inspiratif dan perubahan yang dialami anak-anak ini didokumentasikan dalam film Freedom Writers yang dibintangi Hilary Swank. Keluar dari belenggu Apa yang dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan dasar, tetapi juga pada pendidikan tinggi. Namun, entah mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita kian mengisolasi diri dari dunia luar dan hanya ingin menghasilkan lulusan yang terbelenggu kurikulum. Yang disebut dosen teladan adalah dosen yang patuh mengikuti kurikulum, menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal tertentu yang sudah ditentukan, meski pembacanya belum tentu memadai, dan rajin mengisi daftar absensi.

Dengarlah protes Kazuo Murakami PhD, pemenang penghargaan Max Planck (1990) yang menulis buku Tuhan dalam Gen Kita: The Devine Message of The DNA (2007). Ia terpaksa hijrah ke AS saat menyaksikan dominasi guru-guru kurikulum di Jepang membangun benteng hierarki. Universitas, katanya, telah menjadi menara gading yang tak peduli dengan apa yang terjadi di luar. Meski belum menonjol di masyarakat, peran guru-guru inspiratif ini amat dibutuhkan. Terlebih anggaran pendidikan kita masih terbatas dan lulusannya banyak yang tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya. Kita tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tetapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal. Ada dua masalah yang harus direnungkan.

Pertama, dosen kurikulum hanya membentuk kompetensi (student's ability), hanya membentuk beberapa orang, untuk kepentingan orang itu sendiri. Guru inspiratif membentuk bukan hanya satu atau sekelompok orang, tetapi ribuan orang. Satu orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat "Aku ingin jadi seperti dia" atau "Aku bisa lebih hebat lagi".

Kedua, ketidakmampuan para pendidik merespons aneka tekanan eksternal dapat membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci kurikulum secara sakral. Tiap upaya yang dilakukan para guru kreatif untuk meremajakannya dianggap ancaman, bahkan sebagai perbuatan tidak bermoral. Masih teringat jelas, kejadian yang menimpa seorang guru inspiratif yang saya kenal. Pada tahun 2005 ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas karya-karyanya di bidang pendidikan. Saat itu, penghargaan serupa dalam setiap bidang juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra. Akan tetapi, tak banyak yang tahu hari-hari itu ia baru saja menerima ancaman pemecatan karena dianggap melanggar "kurikulum". Kesalahannya adalah telah memperbarui metode pengajaran agar murid-murid menjadi lebih artikulatif. Murid senang, tidak berarti guru-guru lain senang. Mereka merasa terganggu oleh penyajian di luar kurikulum dan mereka menuntut agar guru ini ditarik. Semester berikutnya nama dia dicoret dari daftar pengajar. Karier guru besarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan kaca pembesar menguji kebenaran internal.

Kata Jagdish N Sheth, mereka dapat menjadi arogan, terperangkap dengan kompetensi masa lalu, ingin hidupnya nyaman, dan membangun batas-batas kekuasaan teritorial. Perilaku internal itu adalah belenggu inertia, yang disebutnya destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak  dimiliki. Sudah saatnya benteng inertia seperti ini dihapus dengan "memanusiawikan" kurikulum dan memberi ruang lebih memadai bagi guru-guru kreatif.
 
 
Sumber : http://migas-indonesia.net

Manusia Berjudul Dosen

 Oleh R.Priyoko Prayitnoadi - UPT Bahasa Universitas Negeri Bangka- Belitung
Berkatalah seorang bijak pada suatu RUANG dan WAKTU yang lalu : "Para guru adalah Arsitek Jiwa Manusia"
 
Makna yang terkandung didalam kalimat tersebut, jelas mahasiswa dan Alumni suatu perguruan tinggi akan selalu menjadi cermin yang menyatakan segala kegagalan, kesuksesan dan kekurangan dari para guru / dosennya, inilah yang dinamakan REFLEKTOR MORALITAS.

Seorang filsuf Inggris JOHN LOCKE menyatakan hati seorang anak (calon Siswa Baru) merupakan "TABULA RASA" mempunyai arti ; Kertas kosong yang putih) dan tergantung apa yang akan diberikan kepadanya dan apa yang akan dituliskan kepadanya.

jika pernyataan ini dibaca dan dipahami dengan cermat, akan terlihat jelas setiap siswa baru akan menjadi satu alat 'pembersih dan pencuci bathin' bagi jiwa gurunya atau dosennya,sebab apa...? Karena pada saat ketika mengajar mahasiswa baru dengan segala ilmu dan seni yang belum mereka ketahui, pada saat itu juga si siswa baru mengajarkan kepada dosen akan kepolosan, keikhlasan, kejujuran dan tanpa topeng kemunafikan. Hal ini penting untuk para pendidik, sebagai sarana pencucian mata hati jiwa, KARENA DOSEN ADALAH ARSITEK JIWA MANUSIA.

Mana yang akan anda pilih,sebuah buket kembang atau sebungkus benih? Mungkin kebanyakan diantara kita memilih buketnya. Tetapi jika anda seorang pendidik, anda menyadari keterbatasan keterbatasan dari bunga-bunga potongan, betapapun indahnya mereka, dan kemungkinan besar anda akan memilih meluangkan waktu untuk mengumpulkan, memilih dan menanam benih tersebut. Bisa saja seorang Abraham Lincoln

Pada kesempatan berdiskusi dan saling bertukar pengalaman, dan rangkuman pengalaman mengajar , dan kiat-kiat mengajar. Diperoleh hasil rumusan mengenai kriteria mental sosok seorang pengajar yang ideal diluar persyaratan gelar yang juga merupakan suatu keharusan , tetapi rumusan ini lebih condong pada kebutuhan pertimbangan etik .
disambut dengan guyuran bunga andaikata ia menyerah pada tuntutan para colonial, tetapi ia memilih menanam biji kemerdekaan bagi tiap orang dan dengan demikian ia menjadi pemimpin terbesar sepanjang zaman.
  1. DOSEN YANG PANDAI MENGAJAR
    adalah ; manusia yang mempunyai keyakinan mengajar dan percaya penuh kepada kemampuannya untuk mendidik, (bukan ditentukan pintar atau tidaknya otak pikiran seseorang, karena pintar adalah kalimat penyataan relatif didunia ini), sedangkan Dosen yang tidak baik akan terlalu banyak membuat larangan untuk anak - didiknya.
  2. DOSEN YANG BIJAK
    adalah manusia dosen yang harus dapat menemukan perbedaan setiap insan mahasiswanya, karena setiap orang berbeda, sehingga perlu bagi dosen untuk peka dan menemukan perbedaan-perbedaan dan keunikan setiap pribadi, lalu memimpin mereka untuk menggali keistimewaan dan keunggulan masing-masing keunikan mereka.
    Kenapa...? Karena dosen yang bijak bukan hendak membangun perumahan perumahan BTN yang seragam, dosen adalah ARSITEK setiap individu yang membangun dengan cara dan disain yang berbeda-beda.
  3. DOSEN YANG AGUNG
    adalah; manusia yang tidak bisa mengubah pembawaan dan kecenderungan temperamen seorang mahasiswa, namun dosen harus peka untuk melihat arah, dengan demikian dosen akan berjalan didepan mahasiswanya sebagai penuntun jalan. Pepatah mengatakan "Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari"
  4. DOSEN YANG MULIA
    adalah; Manusia yang yang dapat menciptakan 'kehausan' pada diri mahasiswanya, karena sifat dasar manusia adalah keingintahuan yang besar. Dan kala 'Kehausan' ini ada didalam jiwa mahasiswanya maka timbul ambisi untuk belajar dan inilah KEKUATAN PENDIDIKAN.
  5. DOSEN YANG TERPERCAYA
    adalah; Manusia yang melakukan kontak pribadi dengan pribadi, janganlah dosen hanya mengontak mahasiswa/i dengan hanya berpegang pada peraturan kampus atau dengan pengajaran dan kurikulum kampus, hendaklah dilakukan kontak jiwa kejiwa, hati kehati, pikiran ke pikiran dan emosi ke emosi, maka dosen akan tampil dengan pribadi yang dihormati dan dikagumi oleh mahasiswanya. Otomatis aktivitas pendidikan akan menjadi hidup dan tidak merupakan aktivitas statis.
Seorang sahabat pernah berkata;
"Keanekaragaman manusia dengan berbagai jenis disiplin ilmu membuat sudut pandang lebih objektif, dan sketsa 'kehidupan' ilmu pendidikan semakin bisa dicerna oleh setiap insan manusia.


Sumber : UBB

Minggu, 19 September 2010

Ketika Dosen Harus Berperan

Mahasiswa adalah icon-icon perubahan zaman yang sangat berperan dalam menentukan perubahan itu sendiri. Dengan segala kelebihan yang mereka miliki, baik secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan kontribusi yang nyata di negeri ini. Mereka adalah aset masa depan yang sangat berharga. Bahkan bisa dikatakan sebagai investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya.Tidak semua mahasiswa bisa dikatakan demikian. Hanya mereka yang secara terpilihlah yang bisa meyandang predikat itu. 

Saya katakan demikian karena memang kenyataannya seperti itu. Ada beribu mahasiswa di negeri ini. Dari ujung barat kepulauan Indonesia hingga ujung timur. Dari Perguruan Tinggi yang ada di Aceh hingga yang ada di Papua sana. Apakah semuanya bisa diandalkan untuk merubah kondisi negeri yang semrawut ini menjadi negeri yang aman, damai, nan sentosa? Yang jelas jangan hanya tersenyum simpul menyaksikan fenomena ini. Ada banyak hal yang bisa kita kaji dari sini.

Salah satunya, kondisi kampus. Ini berperan banyak dalam pembentukan pola pikir mahasiswa. Kondisi pengajar, staf dan karyawan, fasilitas kampus yang ada, dan tata aturan yang berlaku di kampus tersebut akan mendorong  bagaimana mahasiswa akan bertidak mensikapi fenomena masyarakat yang terjadi saat itu. Contoh saja, mahasiswa yang menapaki bangku kuliah pada kampus yang sudah maju, memiliki akreditasi yang tinggi, para pengajar yang profesional dan aktif memberikan motivasi pada didikannya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang memadai dan saling berkompetensi, juga fasilitas lain yang benar-benar mendukung keberlangsungan segala aktifitas di kampus  tentunya akan mempermudah mahasiswa dalam berpikir kritis karena disamping sudah berakar dari keinginan diri juga mendapat semacam amunisi dari lingkungan pendidikannya. Berbeda sekali dengan mahasiswa yang menapaki bangku kuliah pada kampus yang memiliki akreditasi rendah, staf pengajar yang biasa-biasa saja, UKM yang hanya memiliki struktur kepengurusan namun nihil akan kegiatan nyata, juga fasilitas yang tidak memadai, maka mahasiswa tersebut akan sangat kurang peduli dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Bisa jadi ia tidak sadar bahwa negerinya kini tengah dilanda berbagai bencana, kondisi ekonomi yang mengecam rakyat, juga fenomena-fenomena lain yang sejatinya menjadi tugas dan kewajibannya untuk merubah kondisi tersebut. Memang, semuanya akan tergantung pada diri masing-masing. Tetapi sungguh ini akan memberikan pengaruh yang besar bagi mahasiswa.

Saya pikir, motivasi dari para dosen lah yang sangat berperan di lingkungan kampus. Mereka yang secara langsung maupun tidak langsung  bisa memberikan sumbangsih mereka dalam mengembangkan idealisme yang tertanam. Kalaupun idealisme itu belum tertanam, maka bisa menjadi suatu kemungkinan yang besar bahwa merekalah yang akan menanamkannya. Saya sebenarnya sangat mendambakan para dosen yang selalu mau memberikan motivasi pada mahasiswa untuk terus maju, meningkatkan kualitas diri, dan serta merta memberikan kontribusi nyata di negeri ini. Minimal mereka bisa meluangkan beberapa menit mereka sebelum atau sesudah mengajar untuk memberikan motivasi itu. Akan lebih baik jika saat mereka melakukan transfer ilmu kepada para mahasiswa, semua pengaplikasiannya merujuk pada sebuah relita bahwa saat ini bangsa kita Indonesia membutuhkan para pemimpin yang benar-benar bisa memimpin bangsa ini, bukan membutuhkan para pemimpi. Para pemimpi disini maksud saya adalah seorang yang larut pada keinginan- keinginan semata tanpa sebuah kerja nyata, juga sebuah mimpi yang nantinya hanya memberikan kepuasan diri semata, meninggikan egoisme pribadi tanpa memikirkan bagaimana nasib seluruh masyarakat di negeri ini.

Saya rasa ini tidak sulit bagi dosen. Setidaknya, disamping kewajiban mereka sebagai staf pengajar telah selesai akan ada poin tersendiri layaknya sebuah bonus sebagai ladang amal untuk membantu membangun bangsa ini. Ketika input-input motivasi yang rutin diberikan itu, bisa dikatakan sebagai fase awal yang kontinyu. Tapi mungkin agaknya saya harus kecewa. Jangankan memberikan motivasi, kadang saya menemui dosen yang seolah tidak sepenuhnya memberikan mata kuliah. Pembahasannya terlalu mepet dan sebatas berlalu-lala berputar kesana-kemari. Mungkin beberapa dosen bertujuan mengajarkan mahasiswa agar mereka berkembang mencari segala yang kurang dijelaskannya. Tapi bukan itu maksud saya. Saya justru sangat mendukung jika mereka berlaku demikian. Yang saya sayangkan kadang tidak ada komunukasi yang inten mengenai cara yang mereka lakukan padahal dalam komunikasi tersebutlah ada celah-celah yang bisa dimasuki untuk menumbuhkan semangat mahasiswa dalam mengarungi perjalanan perkuliahannya yang akan memberi dampak yang besar. Kemudian mungkin yang menjadi kendala yang lain, para dosen sering korupsi waktu. Sering mereka keenakan melihat mayoritas mahasiswa yang kegirangan saat perkuliahan dituntaskan lebih awal. Dan, itu berarti mereka tidak memperhatikan minoritas mahasiswa yang ada?

Mungkin itulah yang masih perlu kita bangun bersama. Sebuah niatan yang suci menuju sisi moralitas yang handal. Ketika mahasiswa dengan segala idealismenya untuk menghantarkan negeri ini menuju kesejahteraan yang hakiki namun terbentur dengan realita segi moralitas yang kian merosot, maka tidak menutup kemungkinan idealisme yang terbangun itu akan sedikit  demi sedikit melemah, merosot, berhamburan seperti buih di lautan yang tida berguna. Tentunya jika mahasiswa tidak mengimbanginya dengan aktifitas lain yang mampu mnguatkannya idealismenya itu.

Bagi saya, dosen bisa dijadikan sebagai cerminan. Ketika saya melakukan sesuatu yang menurut saya benar, kemudian saya melihat dosen saya juga berlaku demikian, maka hal tersebut biasanya akan semakin memperkuat intuisi yang ada di jiwa saya. Saya akan lebih meningkatkan apa yang saya lakukan karena seolah mendapatkan "teman" dalam jengkal langkah ini. Ketika ada sesuatu yang saya lakukan namun di saat yang bersamaan saya menyaksikan sebuah pemandangan yang bertolak belakang dengan apa yang saya lakukan, dan itu dilakukan oleh dosen saya maka akan mengajak otak saya untuk berpikir ulang apakah yang saya lakukan itu sudah betul atau belum. Jika memang terbukti saya benar, maka saya akan bertahan dan jika terbukti saya salah maka saya akan berusaha memperbaiki hal tersebut. Itu hanya contoh kecil dari saya, dan saya percaya banyak mahasiswa yang menganggap dosen sebagai sebuah cerminan. Itulah salah satu alasan mengapa penting sekali peran dosen dalam membangun idealisme mahasiswa.

Ada sebuah kondisi yang memaksa diri mahasiswa tidak berkembang. Mahasiswa ditutut untuk stagnan dengan situasi yang terjadi. Selain kondisi kampus, juga kaitannya dengan aktifitas lain yang digeluti mahasiswa di luar jam pekuliahan. Apa yang mereka lakukan saat waktu luang, bagaimana mereka memanfaatkannya agar waktu yang ada tidak berpredikat sebagai sebuah kesia-siaan. Mungkin, untuk mereka yang sudah terbiasa bekerja di luar jam kuliah itu sudah menjadi agenda rutin yang tak bisa diganggu. Namun bagi mareka yang hanya terobsesi pada kuliah? Saya rasa ini juga terjadi banyak perbedaan. Sekarang kita bandingkan mahasiswa yang aktif, baik di kampus maupun di luar kampus, dengan mahasiswa yang "study oriented". Mahasiswa yang memiliki aktifitas lain selain kuliah, akan mendapatkan pelajaran tambahan berupa softskill yang secara langsung mereka aplikasikan dan tidak mereka dapatkan pada bangku kuliah. Kita tahu sendiri bukan, bahwa tidak ada materi-materi lain yang diajarkan selain materi kuliah yang kadang sebagian besar mahasiswa menganggapnya sebagai hal yang amat membosankan. Di sinilah perannya. Bukan sekedar pengisi waktu luang saja, akan tetapi lebih menuju kepada peningkatan kualitas diri menggapai sebuah cita-cita dan arahan hidup yang jelas. Kita tengok mereka yang hanya diam. Berangakt kuliah, pulang ke tempat kos atau ke rumah mereka, atau mungkin berbelok arah dulu sebelum pulang untuk nongkrong di mall-mall atau di kafe-kafe. Mereka seolah-olah tidak merasakan perjuangan hidup yang nyata. Sungguh hedonis!

Berbahagialah mahasiswa yang sangat mengerti urgensi waktu dalam kehidupan ini. Ia tahu betul apa yang bisa ia lakukan untuk memberi manfaat kapada masyarakat. Dan kembali lagi saya ingin menegaskan bahwa peran dosenpun dalam hal ini amatlah diperlukan.

Kepada para dosen, saya sangat berharap beliau-beliau itu bisa memberikan kontribusi dalam membangun idealisme  mahasiswa, agar investasi-investasi masa depan itu tidak punah dari kemiskinan berpikir, agar perkembangan di negeri ini benar-benar dinamis, bukan sebuah kestatisan yang dipelihara berlama-lama, dan yang tak kalah penting yaitu mereka sekaligus bisa menjadi teladan bagi mahasiswa yang mereka ajar.

Wahai pak dosen, bu dosen, dengarkanlah suara hati dari seorang mahasiswa yang ingin maju ini. Percayalah! Seandainya kalian bersedia berperan, maka tidak ada lagi kesia-siaan. Sekali lagi, meski semuanya akan kembali kepada diri mahasiswa, peran kalian sungguh amat diperlukan. Selamat berjuang! 

Sumber :
Isnaeni Dwikurniawati

Sabtu, 18 September 2010

Rendah, Budaya Menulis Dosen di Indonesia

Budaya menulis sebenarnya bukan dominasi penulis saiapapun bahkan orang yang tidak sekolahpun memiliki kemampuan untuk itu. Tapi dosen adalah makhluk yang punya kapasitas untuk mengembangkan semua pemikirannya melalui tulisan selain mentransfer ilmunya pada mahasiswa.
Budaya menulis kalangan dosen di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan dosen di luar negeri. Dari 1.200 dosen yang ada di Institut Teknologi Bandung (ITB), hanya sekitar 400 orang atau 30% yang mempunyai kemampuan menulis. Hal itu diungkapkan Kepala ITB Press, Prof. Ir. Amrinsyah Nasution, M.S.C.E., Ph.D. dalam seminar pembukaan “Academic Book Fair” di Aula Barat ITB, Jln. Ganesha Bandung, Selasa (6/1).
Dikatakan Amrinsyah, salah satu kelemahan budaya menulis kalangan dosen di Indonesia, yakni para dosen Indonesia kurang memiliki kemampuan dalam menuangkan buah pikiran melalui sarana pendidikan. “Hingga saat ini, budaya itu masih melekat di kalangan dosen kita,” ujarnya.
Hambatan lain yang menyebabkan kalangan dosen enggan menulis, tambahnya, karena tidak punya banyak waktu dan imbalan menulis yang masih relatif kecil. Karena itu, lanjutnya, pihaknya akan meminta kepada pemerintah untuk menyediakan dana bagi para penulis dari kalangan dosen. “Padahal, kalangan dosen dengan kemampuan dan dasar keilmuan yang dimiliki bisa menulis buku berkualitas bagi masyarakat maupun siswa dan mahasiswa,” ujarnya.
Amrinsyah menyayangkan, kegiatan atau kebiasaan menulis tidak menjadi bagian kegiatan dosen di perguruan tinggi. Sementara di luar negeri, katanya, kegiatan menulis sudah menjadi bagian dosen dalam kegiatannya sehari-hari. “Kebanyakan buku ajar atau buku teks untuk para mahasiswa merupakan karya tulis para dosen,” katanya.
Oleh karena itu, ungkap Amrinsyah, para dosen di Indonesia tidak bisa atau tidak mampu menulis. “Padahal banyak yang bisa ditulis untuk menunjang kariernya ketika menjadi dosen,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jabar, Anwaruddin, kepada wartawan meminta pemerintah untuk meninjau kembali keputusan membeli hak ciptapenerbitan buku pelajaran. Menurutnya, apa yang telah dilakukan pemerintah itu telah merugikan kalangan penerbit. “Kami sudah meminta kepada pemerintah berkali-kali agar keputusan itu ditinjau kembali. Namun, hingga kini belum mendapat tanggapan,” ujarnya.
Selain itu, sekalipun sudah menjadi kebijakan, Anwaruddin meminta kepada pemerintah untuk melakukan kompromi dengan kalangan penerbit. Pasalnya, tambahnya, para penerbit selain mencari keuntungan, juga mempunyai tanggung jawab terhadap isi buku untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. “Namun, apa yang dilakukan pemerintah bukannya melindungi para penerbit yang telah turut serta mencerdaskan bangsa, tetapi malah menindas dengan kebijakannya, ” paparnya.
Dampak dari kebijakan pemerintah itu, ujarnya, banyak penerbit yang mengalihkan penerbitannya pada buku agama. Diprediksi pada tahun 2009, prospek buku agama akan jauh lebih berkembang dari buku-buku lainnya. “Mereka (penerbit) banyak banting setir ke buku agama, namun ada pula yang mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Dari 180 penerbit di Jabar, baru satu penerbit melakukan PHK terhadap 500 karyawannya Januari ini,” ungkap Anwarddin. (B.81)** (9 Januari 2009)
Sumber tulisan:
http://aa-dosen.blogspot.com/

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes