This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Mutiara Hikmah Pendidikan
Yang penting bukan bagaimana caramu hidup Tapi hidup siapa yang kamu ubah dengan hidupmu Seorang majikan bisa memberitahumu apa yang ia harapkan darimu Tapi seorang Guru membangkitkan pengharapanmu sendiri.
This is featured post 3 title
Aku bukan seoarang Guru hanya sesama musafir yang kau tanyai arah Aku menujuk ke arah depan—kedepan diriku sendiri dan ke depan dirimu.
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 April 2011
Tips Agar Ilmu Terus Terjaga
Banyak kasus dijumpai, seorang terpelajar akan tetapi mengikuti aliran sesat. Tidak sedikit pula ilmuan yang mendukung pemikiran-pemikiran di luar Islam. Mereka semua adalah orang yang terpelajar dari institusi berlabel Islam, terdidik sampai pada level tinggi.
Setiap muslim mestinya selalu berstatus pelajar (muta’allim), apapun profesinya dan berapapun usianya. “Tuntutlah ilmu hingga liang lahat!” adalah seruan agar kita jangan sekali-kali melepaskan status sebagai pelajar. Bahkan seorang yang telah bergelar KIai, Profesor dan doktor tetap harus belajar.
Saat mereka ‘pensiun’ jadi pelajar, maka ilmunya akan mati. Tidak berkembang dan tidak ada tambahan ilmu. Makanya, profesi menjadi pelajar adalah sepanjang masa. Pelajar bukan hanya yang belajar di lembaga sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Di manapun dan kapanpun kita bisa dan wajib berstatus menjadi pelajar.
Akan tetapi ada petunjuk yang harus diperhatikan agar tidak menjadi pelajar yang merugi.Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini yaitu, niat, jenis ilmu dan cara memperolehnya harus benar. Jika tidak, maka akibatnya akan tersesat.
“Barangsiapa ilmunya bertambah, namun tidak bertambah petunjuk, maka ia akan semakin jauh dari Allah.” (HR. Abu Nu’aim). Saat kita jauh dari-Nya, maka kita menjadi dzalim.
Kedzaliman seorang ilmuan dan pemimpin bermula dari niat belajar yang salah dan ketidaktepatan memposisikan ilmu ketika belajar. Ilmu yang agung tidak semestinya dicampur dengan tujuan dan niatan yang hina. Antar yang haq dan yang batil jelas tidak mungkin bertemu.
Berdasarkan niat belajar, Imam al-Ghazali membagi orang menuntut ilmu menjadi tiga. Pertama, belajar semata-mata karena ingin mendapat bekal menuju kebahagiaan akhirat. Kedua, belajar dengan niat mencari kemuliaan dan popularitas duniawi. Ketiga, menuntut ilmu sebagai sarana memperbanyak harta (Bidayatul Hidayah, hlm.6).
Golongan pertama, adalah golongan selamat sedangkan tipe kedua dan ketiga termasuk berpotensi menjadi pemimpin dan ilmuan yang dzalim. Golongan pertama termasuk pelajar yang memahami konsep ilmu dengan benar, niatannya untuk menghilangkan kejahilan agar mendapat ridla Allah SWT. Keilmuannya diamalkan demi kemaslahatan umat bukan untuk kenikmatan pribadi.
Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, yaitu mencari ilmu untuk tujuan duniawi. Sehingga aspek-aspek ukhrawi tidak menjadi landasan dalam mencari ilmu. Jika materialisme sebagai kerangka pikirnya, maka menurut Imam al-Ghazali ia kelak akan menjadi ulama’ suu’ (ilmuan jahat) yang tidak mengindahkan adab.
Pemisahan aspek ukhrawi dan aspek duniawi dalam menuntut ilmu akan mengakibatkan kekacauan ilmu. Ilmu yang kacau melahirkan pelajar yang jahil. Kejahilan itu bukan sekedar kekurangan ilmu, akan tetapi kacaunya ilmu (confusion of knowledge). Kekacauan ilmu terjadi ketika informasi-informasi yang salah dipelajari kemudian diyakini sebagai kebenaran.
Ilmu menjadi kacau ketika kehilangan bimbingan adab dan kemasukan konsep materialisme. Menurut Syed Naquib al-Attas, ilmu-ilmu yang telah tercampur dengan konsep ‘asing’ itu hakikatnya bukan ilmu lagi, akan tetapi sesuatu yang menyamar sebagai ilmu (Risalah Untuk Kaum Muslimin, 61). Jadi ilmu yang hakiki adalah yang tidak melepaskan dimensi ukhrawi, sedangkan ‘ilmu’ yang menyamar adalah sebaliknya yang disebut ilmu madzmumah.
Berkenaan dengan itu, penting diketahui oleh para para pelajar dan guru bahwa ilmu secara hirarkis dibagi dua. Pertama, ilmu Pengenalan. Yaitu ilmu tentang hakikat ruhaniah yang merujuk kepadan Allah dan diri. Seperti ilmu tauhid, dan ilmu yang berkenaan dengan ibadah. Ilmu ini termasuk yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Ilmu jenis ini oleh Imam al-Ghazali disebut ilmu fardlu ‘ain.
Kedua, ilmu Pengetahuan. Yaitu ilmu pencapaian akal yang merujuk kepada segala perkara baik bagi diri ruhaniyah maupun diri jasmaniah. Ilmu ini termasuk ilmu yang wajib dituntut oleh sebagian muslim saja yang telah memenuhi syarat-syarat menuntutnya. Ilmu ini oleh Imam al-Ghazali disebut ilmu fardlu kifayah.
Salah satu faktor kenapa lahir ilmuan yang dzalim adalah kesalahan mengajarkan dua ilmu tadi. Semua jenis ilmu Pengetahuan yang hukumnya fardlu kifayah diajarkan harus berdasar dan sesuai dengan ilmu Pengenalan.
Selain itu, pengajaran ilmu Pengenalan (fardlu ‘ain) harus didahulukan sebelum ilmu fardlu kifayah.
Belajar haruslah disertai niat yang benar. Selain itu, ilmu yang dipelajari juga harus bukan ilmu madzmumah (dicela). Jika niat dan ilmunya salah, maka sepintar apapun, manusia itu akan menjadi orang yang bermasalah di masyarakat.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang belajar demi kebanggan agar disebut cendekiawan agung, menyaingi teman, mencari popularitas dan memperbanyak harta akan menjadi manusia yang celaka. (HR.Ibn Majah).
Pelajar dengan tipe ini, ia tidak peduli lagi apakah ilmu yang dipelajari benar atau salah, yang penting ‘sukses’ bagi dia.
Wahyu
Ilmu yang benar selalu dikawal oleh wahyu. Sebab, sumber ilmu itu dari Allah SWT. Dan hakikat mencari ilmu adalah meraih kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan tertinggi adalah keselamatan di akhirat. Dalam perspektif Islam, ilmu bukanlah sebagai perkara akliah (rasio) belaka. Islam menjelaskan ilmu, baik ilmu syari’ah atau sains dan humaniora, dengan perkaitan antara ilmu itu dengan hikmah, akhlak budi pekerti. Pemahaman yang demikian mencegah lahirnya ilmuan dan pemimpin yang dzalim.
Lantas, bagaimana kiat menjadi pelajar muslim yang sukses? Pertama, perbaiki niat. Segala aktifitas keilmuan adalah semata demi mendapatkan kebahagiaan (sa’adah) akhirat. Artinya, niat untuk berjuang li i’laa’i kalimatillah.
Kedua, ilmu yang dipelajari harus benar. Ketiga, cara meperolehnya juga benar. Apapun niat dan semulya apapun ilmunya jika ditempuh dengan korupsi, menipu atau dengan cara ritual-ritual yang sesat, tetap akan menjauhkan dari Allah.
Selain itu, Imam al-Ghazali memberi rambu-rambu, carilah guru yang baik. Yaitu, ulama’ yang hidupnya berkonsentrasi kepada ilmu, akhirat, tidak menyibukkan secara membabi-buta kepada dunia, tidak menjual agama dengan dunia, segala persoalan dikembalikan kepada perspektif akhirat (Abu Hamid al-Ghazali dalam Iljam al-awam ‘an Ilmi Kalam).
Selain itu, para ulama’ salaf memberi contoh paling baik. Sebisa mungkin menghindar dari maksiat. Imam syafi’i juga pernah mengatakan: ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk kedalam hati orang-orang yang selalu bermaksiat.
Ibadah juga betul-betul dijaga. Imam al-Bukhari belajar selalu dalam keadaan suci, bahkan ketika akan menulispun ia ambil wudlu dan shalat sunnah terlebih dahulu. Shalat malam (qiyamullail) bagi para pelajar salaf shalih dahulu seperti menjadi aktifitas wajib. Demi menjaga diri agar selalu dibawah petunjuk-Nya. Bahkan, belajar di sepertiga malam itu menjadi kebiasaan.
Khatib Al-Baghdadi pernah memberi nasihat, “Waktu yang paling baik untuk menghafaladalah waktu sahur, di tengah hari, kemudian pagi hari. Menghafal di waktu malam lebih baik dari pada siang. Itulah rahasia sukses para ulama terdahulu kita.” (Al-Faqih wal Mutafakiq).
Dan rutinitas beginilah yang menjadi aktifitas wajib pelajar muslim idaman. Wallahu a’lam bissahowab.
Rabu, 29 Desember 2010
Pendidikan Islam Masih Diremehkan
Pendidikan Islam sebenarnya justru memiliki kelebihan, utamanya terkait wawasan keagamaan
Rektor Univeristas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Dr Imam Suprayogo mengakui, masih ada salah pemahaman sekolah Islam dianggap lebih rendah sehingga perlu disamakan kualitasnya dengan pendidikan yang berada di bawah Kementerian Pendidikan Nasional.
Padahal tidak demikian. Sebab, banyak sekolah Islam memiliki kualitas bagus seperti Madrasah Insan Cendikia di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, dan Gorontalo, katanya pada seminar Refleksi 65 tahun Format Pendidikan Islam Pasca-UU Sisdiknas 2003 di Jakarta, Senin (27/12).
Seminar untuk memperingati Hari Amal Bakti ke-65 Kementerian Agama 2011 itu menghadirkan narasumber selain Rektor Univeristas Islam Negeri (UIN) Malang, juga KH Muhammmad Idris Jauhari, pimpinan Pondok Pesantren Al Amin Prenduan Sumenep, Madura Jawa Timur, dan beberapa tokoh Islam lainnya.
Sejak diberlakukan UU Sisdiknas 2003, pendidikan Islam mendapat pengakuan sama dengan pendidikan umum. Lulusan madrasah ibtidaiyah sama dengan lulusan sekolah dasar. Pendidikan Islam seharusnya berbeda dengan sekolah lainnya. Perbedaan itu menyangkut orientasi, kurikulum, tenaga pengajar, dan kultur yang harus dikembangkan, katanya.
Namun, katanya, tatkala pendidikan Islam itu disamakan dengan sekolah umum, bukan berarti persamaan itu dalam segala hal. Persamaan itu terkait dengan pengakuan pemerintah, yaitu siapa pun yang belajar di lembaga pendidikan Islam dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.
Namun dalam perkembangannya, menurut dia, kadang disalahpahami bahwa sekolah Islam dianggap lebih rendah. Di sisi lain banyak orang mengungkapkan, pendidikan Islam sebenarnya justru memiliki kelebihan.
Utamanya terkait dengan wawasan keagamaan. Pemahaman terhadap Alquran dan Hadist Nabi. Pengetahuan dan pengamalan dinilai sangat fundamental bagi kehidupan, bagi siswa madrasah selama ini lebih baik. Perbedaan akan lebih terlihat dari perilaku dan karakter secara umum.
"Kasus narkoba, perilaku seks bebas tidak ditemukan dalam lembaga pendidikan madrasah," kata Imam menambahkan.
Sumber : hidayatullah.com
Padahal tidak demikian. Sebab, banyak sekolah Islam memiliki kualitas bagus seperti Madrasah Insan Cendikia di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, dan Gorontalo, katanya pada seminar Refleksi 65 tahun Format Pendidikan Islam Pasca-UU Sisdiknas 2003 di Jakarta, Senin (27/12).
Seminar untuk memperingati Hari Amal Bakti ke-65 Kementerian Agama 2011 itu menghadirkan narasumber selain Rektor Univeristas Islam Negeri (UIN) Malang, juga KH Muhammmad Idris Jauhari, pimpinan Pondok Pesantren Al Amin Prenduan Sumenep, Madura Jawa Timur, dan beberapa tokoh Islam lainnya.
Sejak diberlakukan UU Sisdiknas 2003, pendidikan Islam mendapat pengakuan sama dengan pendidikan umum. Lulusan madrasah ibtidaiyah sama dengan lulusan sekolah dasar. Pendidikan Islam seharusnya berbeda dengan sekolah lainnya. Perbedaan itu menyangkut orientasi, kurikulum, tenaga pengajar, dan kultur yang harus dikembangkan, katanya.
Namun, katanya, tatkala pendidikan Islam itu disamakan dengan sekolah umum, bukan berarti persamaan itu dalam segala hal. Persamaan itu terkait dengan pengakuan pemerintah, yaitu siapa pun yang belajar di lembaga pendidikan Islam dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.
Namun dalam perkembangannya, menurut dia, kadang disalahpahami bahwa sekolah Islam dianggap lebih rendah. Di sisi lain banyak orang mengungkapkan, pendidikan Islam sebenarnya justru memiliki kelebihan.
Utamanya terkait dengan wawasan keagamaan. Pemahaman terhadap Alquran dan Hadist Nabi. Pengetahuan dan pengamalan dinilai sangat fundamental bagi kehidupan, bagi siswa madrasah selama ini lebih baik. Perbedaan akan lebih terlihat dari perilaku dan karakter secara umum.
"Kasus narkoba, perilaku seks bebas tidak ditemukan dalam lembaga pendidikan madrasah," kata Imam menambahkan.
Sumber : hidayatullah.com
Sabtu, 06 November 2010
ALAA LAA.
Judul ini bukanlah senandung orang yang lagi diliputi suasana senang. Akan tetapi, judul ini adalah kutipan dari dua bait syi'ir. Kitab Ta'liimul Muta'allim menisbatkan dua bait itu kepada 'Ali bin Abi Thalib (Radhiyallahu 'anhu). Sementara dalam kitab Diwan Imam Syafi'i, dalam bab qafiyah nuun (syi'ir yang berakhiran huruf nun) dua bait syi'ir inipun ada, meskipun kata pembukanya bukanlah ALAA LAA.
Dua bait syi'ir itu lengkapnya adalah sebagai berikut:
Ketahuilah, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi enam syarat.
Yaitu : Kecerdasan, semangat, sabar dan pakai ongkos (biaya) Petunjuk (bimbingan) guru dan dalam tempo waktu yang lama.
Dalam berda'wah, ilmu merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar. Istilah Arabnya: syai-un la budda minhu (sesuatu yang mesti dan tan kena ora).
Allah swt berfirman :
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS Muhammad: 19).
Mengomentari firman Allah swt ini, Imam Bukhari berkata : Ilmu dulu sebelum berbicara dan berbuat
Sudah pasti, da'wah termasuk dalam al qaul dan al 'amal, karenanya, 'ilmu dalam da'wah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Gerakan ta'allama (belajar) dan 'allama (pengajaran) harus gencar, mulai dari berbagai bentuk ta'lim; ada ta'lim fil masjid, ada ta'lim rutin, ada majlis ta'lim dan ada halaqah-halaqah ilmiyyah, baik di mushalla, ataupun rumah. Agar gerakan ta'allama dan 'allama ini sukses –bi idznillah- marilah kita bahas dua bait syi'ir yang dikemukakan oleh Imam Syafi'i di atas.
Dalam dua bait di atas, untuk sukses mendapatkan 'ilmu, Imam Syafi'i menyebutkan enam syarat, yaitu:
1. Dzaka' (kecerdasan). Kecerdasan ada dua macam; pertama: pemberian dari Allah swt (minhah) dan kedua: muktasab, dalam arti seseorang bisa menumbuh kembangkan dan mengupayakannya.
Sering-sering membaca buku, malu kita kalau tidak rajin membaca buku, jangan sampai kita terkena ejekan ummatu IQRA' LA TAQRA' (ummat yang wahyu pertamanya berbunyi IQRA' kok malah tidak MEMBACA).
Sering-seringlah menuliskan apa-apa yang anda baca, anda dengar dan anda saksikan. Belajarlah merapikan ide-ide dan pengetahuan anda. Tuangkanlah segala gagasan anda dalam bentuk tulisan. Ingatlah bahwa wahyu kedua yang turun kepada nabi Muhammad saw adalah surat AL QALAM (pena), sebagaimana pendapat yang paling kuat yang dipegang para ulama'. Dalam surat ini Allah swt bersumpah dengan AL QALAM dan APA YANG DITULISKAN OLEHNYA.
Biasakanlah mengikuti dan melakukan diskusi-diskusi ilmiyah, ya … ilmiyah, bukan diskusi penuh emosi, adu otot, debat kusir dan semacamnya, akan tetapi , sekali lagi, diskusi ilmiyah.
Ajarkanlah apa-apa yang telah anda ketahui kepada orang lain. Atau istilah para ulama': tunaikanlah zakat ilmu anda, sebab, dengan zakat ilmu ini, ilmu anda akan bersih (thahir) dan semakin tumbuh dan berkembang dengan lebih baik (tazkiyah). Kalau istilah guru kampung saya, ilmu itu ibarat api (sebenarnya yang lebih pas sih cahaya, nur, tapi nggak mengapa-lah), bila kita mempunyai api, lalu ada orang lain datang membawa kayu, dan ia meminta api kepada kita, maka api itu akan semakin besar dan semakin banyak.
2. Hirsh (semangat). Menurut saya, hirsh itu adalah hasil dari kesadaran, kesadaran akan kelemahan dirinya dalam ilmu pengetahuan, kesadaran bahwa dirinya mempunyai potensi untuk mendapatkan ilmu, kesadaran bahwa thalabul 'ilmi itu faridhah, kesadaran bahwa dirinya –sebagai da'i- mesti dan harus berbekal ilmu dan kesadaran bahwa dirinya termasuk dalam kategori orang-orang yang la yadri lakinnahu yadri annahu la yadri (tidak tahu, tetapi tahu bahwa dirinya tidak tahu), bukan orang-orang yang la yadri wala yadri annahu la yadri (tidak tahu, dan ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu), sebagaimana yang diungkapkan Imam Ghazali dalam kitab Ihya'-nya. Saudara dan saudariku yang dimulyakan Allah swt … Sebagai kader da'wah, kita tidak boleh kehilangan hirsh ini, jangan sampai kita datang ke majlis ta'lim untuk sekedar memenuhi buku kehadiran, atau karena pertimbangan daripada, daripada…kita harus datang ke majalisul 'ilmu karena sifat hirsh kita, dan dalam rangka memenuhi faridhah islamiyyah.
3. Ishthibar (penuh kesabaran). Ilmu adalah kesabaran, jangan banyak keluh kesah, jangan terburu-buru, dan jangan frustasi.
4. Bulghah (biaya, ongkos). Berbagai acara ta'lim yang sangat murah, bahkan gratis, artinya, persyaratan ini telah banyak dipangkas olehnya, karenanya, jangan kehilangan persyaratan lainnya.
5. Irsyadu Ustadz (petunjuk dan bimbingan guru). Menghidupkan kembali apa-apa yang ada pada salafush-saleh. Diantara yang ada pada mereka adalah adanya model-model QARA-A 'ALA (membaca kitab/ilmu dihadapan … ), SAMI-'A MIN (mendengar pembacaan kitab/ilmu dari …), AKHADZA 'AN (mengambil dalam arti mendapatkan kitab/ilmu dari …), HASHALAL IJAZATA MIN (mendapatkan ijazah atau ijin untuk mengajarkan kitab/ilmu dari …) dan seterusnya. Karenanya, kita semua harus menghidupkan kembali sunnah (jalan, dan metode) ini, sebab, salah satu tolok ukur ke-orisinil-an sebuah 'ilmu adalah diambil dari mana (siapa gurunya) dan siapa saja yang belajar kepadanya.
6. Thulu Zaman (dalam jangka waktu yang panjang). Janganlah mengandalkan hal-hal yang serba KILAT, kursus kilat, belajar cepat, dan semacamnya. Ingat, Rasulullah saw menerima Al Qur'an bukan dalam tempo cepat, padahal beliau adalah orang Arab, dari suku yang paling fasih bahasanya, dan beliau sangatlah cerdas dan masih banyak lagi kelebihan beliau, namun, beliau menerima Al Qur'an itu dalam tempo lebih dari dua puluh dua tahun (22 tahun lebih).
Dan akhirnya, semoga Allah swt senantiasa menambahkan ilmu kepada kita dan menjadikan semua ilmu kita itu bermanfa'at fid-diini wad-dun-ya wal akhirah, amiiin.
sumber : keadilan.or.id
Dua bait syi'ir itu lengkapnya adalah sebagai berikut:
Ketahuilah, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi enam syarat.
Yaitu : Kecerdasan, semangat, sabar dan pakai ongkos (biaya) Petunjuk (bimbingan) guru dan dalam tempo waktu yang lama.
Dalam berda'wah, ilmu merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar. Istilah Arabnya: syai-un la budda minhu (sesuatu yang mesti dan tan kena ora).
Allah swt berfirman :
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS Muhammad: 19).
Mengomentari firman Allah swt ini, Imam Bukhari berkata : Ilmu dulu sebelum berbicara dan berbuat
Sudah pasti, da'wah termasuk dalam al qaul dan al 'amal, karenanya, 'ilmu dalam da'wah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Gerakan ta'allama (belajar) dan 'allama (pengajaran) harus gencar, mulai dari berbagai bentuk ta'lim; ada ta'lim fil masjid, ada ta'lim rutin, ada majlis ta'lim dan ada halaqah-halaqah ilmiyyah, baik di mushalla, ataupun rumah. Agar gerakan ta'allama dan 'allama ini sukses –bi idznillah- marilah kita bahas dua bait syi'ir yang dikemukakan oleh Imam Syafi'i di atas.
Dalam dua bait di atas, untuk sukses mendapatkan 'ilmu, Imam Syafi'i menyebutkan enam syarat, yaitu:
1. Dzaka' (kecerdasan). Kecerdasan ada dua macam; pertama: pemberian dari Allah swt (minhah) dan kedua: muktasab, dalam arti seseorang bisa menumbuh kembangkan dan mengupayakannya.
Sering-sering membaca buku, malu kita kalau tidak rajin membaca buku, jangan sampai kita terkena ejekan ummatu IQRA' LA TAQRA' (ummat yang wahyu pertamanya berbunyi IQRA' kok malah tidak MEMBACA).
Sering-seringlah menuliskan apa-apa yang anda baca, anda dengar dan anda saksikan. Belajarlah merapikan ide-ide dan pengetahuan anda. Tuangkanlah segala gagasan anda dalam bentuk tulisan. Ingatlah bahwa wahyu kedua yang turun kepada nabi Muhammad saw adalah surat AL QALAM (pena), sebagaimana pendapat yang paling kuat yang dipegang para ulama'. Dalam surat ini Allah swt bersumpah dengan AL QALAM dan APA YANG DITULISKAN OLEHNYA.
Biasakanlah mengikuti dan melakukan diskusi-diskusi ilmiyah, ya … ilmiyah, bukan diskusi penuh emosi, adu otot, debat kusir dan semacamnya, akan tetapi , sekali lagi, diskusi ilmiyah.
Ajarkanlah apa-apa yang telah anda ketahui kepada orang lain. Atau istilah para ulama': tunaikanlah zakat ilmu anda, sebab, dengan zakat ilmu ini, ilmu anda akan bersih (thahir) dan semakin tumbuh dan berkembang dengan lebih baik (tazkiyah). Kalau istilah guru kampung saya, ilmu itu ibarat api (sebenarnya yang lebih pas sih cahaya, nur, tapi nggak mengapa-lah), bila kita mempunyai api, lalu ada orang lain datang membawa kayu, dan ia meminta api kepada kita, maka api itu akan semakin besar dan semakin banyak.
2. Hirsh (semangat). Menurut saya, hirsh itu adalah hasil dari kesadaran, kesadaran akan kelemahan dirinya dalam ilmu pengetahuan, kesadaran bahwa dirinya mempunyai potensi untuk mendapatkan ilmu, kesadaran bahwa thalabul 'ilmi itu faridhah, kesadaran bahwa dirinya –sebagai da'i- mesti dan harus berbekal ilmu dan kesadaran bahwa dirinya termasuk dalam kategori orang-orang yang la yadri lakinnahu yadri annahu la yadri (tidak tahu, tetapi tahu bahwa dirinya tidak tahu), bukan orang-orang yang la yadri wala yadri annahu la yadri (tidak tahu, dan ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu), sebagaimana yang diungkapkan Imam Ghazali dalam kitab Ihya'-nya. Saudara dan saudariku yang dimulyakan Allah swt … Sebagai kader da'wah, kita tidak boleh kehilangan hirsh ini, jangan sampai kita datang ke majlis ta'lim untuk sekedar memenuhi buku kehadiran, atau karena pertimbangan daripada, daripada…kita harus datang ke majalisul 'ilmu karena sifat hirsh kita, dan dalam rangka memenuhi faridhah islamiyyah.
3. Ishthibar (penuh kesabaran). Ilmu adalah kesabaran, jangan banyak keluh kesah, jangan terburu-buru, dan jangan frustasi.
4. Bulghah (biaya, ongkos). Berbagai acara ta'lim yang sangat murah, bahkan gratis, artinya, persyaratan ini telah banyak dipangkas olehnya, karenanya, jangan kehilangan persyaratan lainnya.
5. Irsyadu Ustadz (petunjuk dan bimbingan guru). Menghidupkan kembali apa-apa yang ada pada salafush-saleh. Diantara yang ada pada mereka adalah adanya model-model QARA-A 'ALA (membaca kitab/ilmu dihadapan … ), SAMI-'A MIN (mendengar pembacaan kitab/ilmu dari …), AKHADZA 'AN (mengambil dalam arti mendapatkan kitab/ilmu dari …), HASHALAL IJAZATA MIN (mendapatkan ijazah atau ijin untuk mengajarkan kitab/ilmu dari …) dan seterusnya. Karenanya, kita semua harus menghidupkan kembali sunnah (jalan, dan metode) ini, sebab, salah satu tolok ukur ke-orisinil-an sebuah 'ilmu adalah diambil dari mana (siapa gurunya) dan siapa saja yang belajar kepadanya.
6. Thulu Zaman (dalam jangka waktu yang panjang). Janganlah mengandalkan hal-hal yang serba KILAT, kursus kilat, belajar cepat, dan semacamnya. Ingat, Rasulullah saw menerima Al Qur'an bukan dalam tempo cepat, padahal beliau adalah orang Arab, dari suku yang paling fasih bahasanya, dan beliau sangatlah cerdas dan masih banyak lagi kelebihan beliau, namun, beliau menerima Al Qur'an itu dalam tempo lebih dari dua puluh dua tahun (22 tahun lebih).
Dan akhirnya, semoga Allah swt senantiasa menambahkan ilmu kepada kita dan menjadikan semua ilmu kita itu bermanfa'at fid-diini wad-dun-ya wal akhirah, amiiin.
sumber : keadilan.or.id
Sabtu, 23 Oktober 2010
Engkau tahu, Hati-hati ini telah Berkumpul dalam cinta-Mu
Ya Allah Engkau tahu, Hati-hati ini telah Berkumpul dalam cinta-Mu, Bertemu dalam taat-Mu, Menyatu menolong dakwah-Mu, Berjanji perjuangkan syariat-Mu, Maka eratkan ikatannya, Dan abadikan cintanya. (Do'a Rabithah)
Tidak ada penjelasan historis tentang suasana yang melatari Imam Syahid Hasan Al Banna saat menulis potongan doa itu. Ia menyebutnya Wirid Pengikat. Pengikat hati. Hati yang sedang dibangunkan untuk memikul beban kebangkitan umat. Beban mereka berat. Jumlah mereka sedikit. Musuh mereka banyak. Jadi mereka butuh landasan yang kokoh dan pengikat yang kuat. Landasannya adalah iman. Pengikatnya adalah cinta.Cinta menjalin jiwa-jiwa mereka dalam kelembutan yang menyamankan: maka setiap mereka adalah pernadani sutera yang empuk, setiap orang dengan tipenya bisa duduk santai di situ. Cinta mereka selalu mampu menampung semua bentuk perbedaan: ada kebebasan berpendapat tapi tidak ada sikap yang melukai, ada keterbukaan tapi objektivitas tetap di atas segalanya. Cinta melahirkan pertanggungjawaban: setiap mereka selalu bertanya tentang sejauh mana mereka mampu mempertanggungjawabkan sikap mereka di depan Allah?
Tapi cinta juga melahirkan kelembutan: maka prbedaan-perbedaan mereka terkelola dalam etika yang menyamankan jiwa. Karena setiap pembicaraan mereka selalu berujung amal. Beban. Perbedaan diantara mereka tidak akan mengubah situasi mereka, seperti kata Iqbal, sebagai sapu lidi yang diikat cinta untuk membersihkan kehidupan.
Tapi cinta juga memberi mereka energi: Para pemikul beban kebangkitan itu pastilah akan menempuh jalan perjuangan penuh liku dan pendakian. Pada setiap satu jarak waktu dan tempat beban mereka bertambah. Mereka pasti mengalami penuaan dini, seperti kata Rasulullah saw: "Surat Hud dan saudara-saudaranya telah mengubankan rambutku." Kalau bukan dengan energi yang dahsyat, siapakah yang sanggup mendaki gunung sembari memikul beban? Dan cintalah sumbernya.
Energi cinta memicu mereka untuk bergerak dan bertumbuh dalam tempo yang cepat. Tapi ikatan cinta mengatur irama mereka dalam keserasian yang indah. Itu sebabnya mereka kuat. Nyaman. Dan abadi. Jadi biarkan Sang Imam mengumumkan kembali cintanya dia:
Maka eratkan ikatannya. Dan abadikan cintanya?
(~Anis Matta~, Sumber: http://serialcinta.blogspot.com)
Dikutip dari: http://aktivis02.blogspot.com/


01.03
asep ropi
















