Tampilkan postingan dengan label Analiisa Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analiisa Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

Universitas symbol ilmu atau pencari kebenaran?


Istilah yang mungkin paling dikenal didunia pendidikan tinggi. Dosen posisi professional bagi seorang pendidik sedangkan universitas sendiri ternyata berasal dari bahasa latin klasik berarti “suatu paguyuban”. Baru pada abad ke 14 istilah ini diberlakukan untuk “suatu paguyuban pengajar dan pelajar yang secara resmi diakui hukum”.
Pada awalnya konon universitas terbentuk untuk untuk melindungi pengajar dan pelajar dari gangguan anggota masyarakat yang lain (perampok, mereka yang tidak tahu gunanya menghabiskan waktu dengan belajar, penjaga milik tuan tanah dan lainnya) yang sebelumnya entitas universitas ini disebut stadium generale sehingga  seorang selesai dari universitas, akan mendapat kan‘facultas docendi’ (ijin untuk menjadi pengajar) sehingga tempat mereka belajar disebut fakultas dan penyampai kelimuan biasa dinamakan dosen.
Tapi katanya universitas ini symbol ilmu. Dimana dipadukan seluruh antara ilmuawan dan ilmu pengetahuan yang kalau didata sangat banyak jumlahnya. Sehingga tidak terpecah dengan beragam ilmu sehingga lahirlah spesifikasi ilmu sesuai dengan kapasitas dan minat ilmiah terhadap pengetahuan yang dikandungnya.
Untuk kehidupan sekarang ini jarang ada seseorang dosen atau tenaga pengajar yang punya talenta menguasai berbagai ragam penegtahuan dengan sempurna sebagaimana para filosof yang memahami berbagai amcam corak ilmu. Alasannya kuat dengan beragam spesfikasi ilmu melahirkan adanya kualifikasi semakin menyempit karena tidak bisa semua orang mengambil jurusan beragam dalam waktu bersama dengan criteria keilmuan yang berbeda.
Sekali lagi universitas adalah kumpulan pembelajar yang memiliki keinginan untuk mengintegralkan pengetahuan didasari oleh kejujuran ilmiah. Idealnya kuliah adalah mencari ilmu bukan menjadikan kuliah sebagai media loncatan keilmuan. Asal lulus saja sudah cukup ditambah bisa mendapatkan pekerjaan baik selaras dengan kebutuhan ekonomi. Bisa juga iuniversitas bukan lembaga pendidikan utuh tapi hanya media menyiapkan karier seseorang untuk memenuhi keinginan bisnis semata dengan pasokan SDM siap pakai.
Sementara nilai kehidupan dan makna hidup hampir tidak menjadi porsi utama saat kita di universitas. Artinya urusan moral adalah personal yang penting kompeten dan professional dalam pekerjaan. Terkadang juga universitas hanya salesman gelar sesuai dengan nilai eksistensi personal di masyarakat, sehingga gelar menjadi tuhan kedua yang harus didapatkan dengan berbagai cara. Artinya universitas hanya memasok masyarakat yang lapar komoditi bukan untuk mengembangkan ilmu. Bahkan tidak sedikit pendirian universitas hanya untuk memenuhi keinginan industry akan pasokan para pekerja sehingga banyak universitas yang dikendalikan keberadaanya oleh industry yang secara manual hanya untuk keuntungan duniawi semata untuk menciptakan link and match. Sisi lain secara global imlikasi dalam proses pendidikan adalah learning without boundaries (konsep belajar tanpa batas dengan system terbuka) yang sudah menyesuaikan diri dengan ekmajuan teknologi pemeblajaran sehingga ada anggapan proses pemeblajaran yang dikemukan oleh Paulo Feire tentang the banking system tidak reelvan lagi dengan ditempatkannya teknologi dalam proses pembelajaran karena era cyber learning bisa mendominasi untuk menjdikan universitas tanpa sekat dan tanpa ruang kelas sehingga para pemeblajar yang telah menguasai cara kemandirian belajar akan menemukan sebuah kebenaran sehingga antara universitas dengan monopoli industry terhadap pendidikan bisa lebih sempit, mereka belajar untuk mengembangkan keilmuannya sehingga bisa melahirkan dunia kerja tersendiri sesuai dengan spesifikasi ilmu yang diperoleh saat di universitas. Penegloaan symbol pendidikan hanya media untuk mendukung para pemebljar untuk lebih menekankan pengembangkan keilmuan sehingga bukans ekedar asal lulus tanpa mengetahui persiapan untuk setelah lulus, bukan sekedar pencari kerja tapi mengembangkan sebuah pekerjaan personal.

Tapi tidak menapikan kalau membutuhkan pendanaan yang memadai untuk membiayai pengembangan symbol pendidikan dan merubah menjadi pengembangan kelimuan yang melahirakan kesadaran untuk berpikir dan bduaya malu untuk mengambil mentah-mentah hasil karya orang lain tanpa mengembangkan keilmuan dan  semuanya kembali pada mental bangsa.
Sehingga terhadi paradigma yang melihat posisi dosen, ilmuwan dan ilmu bukan faktor yang paling menentukan sehingga universitas hanya sekedar menjadi komoditi kemajuan ekonomi semata. Rasa haus akan kesejahteraan mengalahkan kelaparan akan sebuah makna kebenaran. Sehingga universitas mencari kebenaran yang bisa dikompromikan dengan pasar ekonomi. Sehingga kesibukan ilmiah sebuah universitas terpaku pada program ekonomis sebagai pola marketability. Sehingga mereka selalu emngungakpkan mendirikan universitas yang selaras dengan kebutuhan masyarakat atau menyusun kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dunia industri artinya pendidkan berubah menjadi objek bisnis dengan dalih profesionalime manajemen dan universitas berubah menjadi pasar ilmu, tapi karena ilmunya mengambang sehingga universitas hanya sekedar sales dari symbol keilmuan.
Maka mahasiswa yang jenius dapat menyeelsaikan kuliahnya demngan cara membereskan symbol-simbol keilmuan itu. Symbol itu seperti : adminsitrasi kuliah, kartu hasil studi, kartu rencana studi, skripsi, ujian siding, ijazah dan gelar akademis. Tidak jarang suatu universitas dikondisikan untuk mempokuskan diri pada peneylesain symbol diatas. Apabila ada akreditas universitas, yang diverifikasi adalah symbol-simbol seperti apakah punya tanah dan bangunan sendiri, apakah ada perpustakaan, apakah mempunyai jumlah dosen dengan kualiats minimal S-2 untuk memenuhi itu semua membutuhkan uang pangkal dari mahasiswa untuk membiayai symbol tersebut. Sehingga tujuan pendidikan hayanya mencari mahaisswa sebanyak mungkin untuk membiayai symbol keilmuan. Sehingga kalau ada plagiat tesis, skripsi mahasiswa, bahkan mungkin terdengar sangat memilukan menteri pertahan As memplagiat tesis doktoralnya dan itu ada dinegara adidaya.
Tentu saja harus kembali pada tujuan dan makna dari universitas itu sendiri sebagai paguyuban yang melindungai amsyaraka pembelajar dan ilmuawan untuk mencari nilai kebenaran sehingga unsure kejujuran menempati posisi yang sangat tinggi. Menjadi komunitas pembelajar tidak sekedar mengejar ipk dan sekedar lulus dengan gelar tapi linglung mau kemana setela lulus dan sedikitpun lupa dengan ilmu dengan spesifikasi ilmiahnya, lupa dengan skripsi yang dengan susah payah disusunnya. 

Artinya muara universitas adalah tersedianya orang yang bisa berpikir dan mengembankan pikiran. Kalau berpikir dan berilmu adalah tolak ukur tamatan universitas dan buka apakah ia memiliki symbol ilmu saja, akan menyusutlah jumlah orang yang menjiplak skripsi dan tesis. Jadi universitas didirikan untuk mengembakan ilmu bukan untuk mengembanKan symbol ilmu.

Kamis, 02 September 2010

ADA APA DENGAN FACEBOOK?

Baik Buruk Facebook, Analisa Positif dan Negatif Facebook

Belakangan ini, situs jejaring sosial Facebook sedang hangat menjadi perbincangan di masyarakat. Hal ini seiring dengan hadirnya inisiatif untuk merumuskan sebuah pandangan keagamaan tentang fenomena Facebook itu sendiri. Namun, apakah kita semua sudah mengenal apa itu Facebook ?. Sebelum kita bicara lebih jauh tentang Facebook, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu sejarah Facebook, dan apa saja manfaat serta mudharat dari Facebook itu sendiri.

Siapa sih yang tidak kenal situs pertemanan Facebook. Saat ini, hampir setiap orang diseluruh belahan dunia termasuk juga Indonesia, telah terjangkit virus Facebook. Mulai dari anak muda, orang tua, bahkan anak-anak sudah mengetahui dan keranjingan terhadap situs jejaring sosial Facebook.

Facebook (disingkat FB) merupakan situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg yang berusia 21 tahun, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-email suatu universitas dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs ini.

Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan alamat surat-e-mail apa pun dapat mendaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, berdasarkan sekolah tingkat atas, tempat kerja, atau wilayah geografis.

Hingga Juli 2007, situs ini memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi, dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serikat, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya.

Situs jejaring memang begitu banyak di dunia maya, mulai dari Friendster, Live Connector, Tagged, MySpace, Hi5, Fupei hingga Facebook. Namun, Tidak ada situs jejaring sosial lain yang mampu menandingi daya tarik Facebook terhadap pengguna (user). Pada tahun 2007, terdapat penambahan 200 ribu account baru perharinya Lebih dari 25 juta user aktif menggunakan Facebook setiap harinya. Rata-rata user menghabiskan waktu sekitar 19 menit perhari untuk melakukan berbagai aktifitas di Facebook. Kini Facebook memiliki karyawan 250 - 1000 orang, dengan pendapatan $50 – $100.

Facebook merupakan salah satu layanan jaringan sosial internet yang gratis dimana kita dapat membentuk jaringan dengan mengundang teman kita. Dan dari jaringan yang kita bentuk, kita dapat memperhatikan aktifitas mereka, mengikuti permainan/ join game yang direkomendasikan, menambahkan teman atau jaringan kita berdasarkan organisasi sekolah, daerah domisili kita, dan seterusnya. Bisa dibilang fasilitas untuk berteman dan membina kehidupan sosial.

Di tahun 2008, Indonesia merupakan negara negara Asia Tengara yang paling cepat perkembangan pengguna Facebooknya, yakni 645 persen menjadi 831.000 pengguna Facebook, dan tertinggi kelima di dunia setelah Amerika, Inggris, Prancis dan Italia, dan berpotensi meningkat dalam skala besar (The Jakarta Post 22 Mei 2009).

Belakangan ini kritikan pun muncul dari sejumlah ulama karena FB dianggap dapat mendorong terjadinya perselingkuhan, sehingga mereka mencari jalan untuk membuat regulasi perilaku online di Indonesia. Juru bicara NU Abdul Muin Shohib menyatakan bahwa Facebook dan semacamnya dilarang karena mereka tidak menyebarkan agama islam, tapi untuk bergosip. Maklumat ini dimaksudkan untuk memperingatkan Muslim Indonesia karena banyak diantara pengguna Facebook dan friendster adalah siswa, dan dikhawatirkan Facebook disusupi cyber pornografi (The Jakarta Post 22 Mei 2009).

Fatwa haram menggunakan facebook, juga dikemukakan oleh Pondok Pesantren se Jawa-Madura yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri (FMP3), Facebook cenderung digunakan sebagai alat untuk PDKT (pendekatan) dengan lawan jenis, digunakan untuk berbicara tentang masalah intim secara terbuka atau mendukung perilaku vulgar, sehingga dinyatakan haram. menurut forum tersebut, Islam memiliki pedoman tersendiri untuk mengetahui karakteristik lawan jenis yang ingin dijadikan pasangan hidup.

Mengapa mereka mengharamkan facebook? untuk itu, agar tidak terjadi kesimpangsiuran tanggapan tentang Facebook, ada baiknya kita mengetahui dampak positif dan negatif Facebook.

Berikut adalah manfaat yang bisa diambil dari Social Network Facebook :

  1. Untuk Silaturahmi, antar teman lama, teman baru, dan keluarga.
  2. Untuk menghimpun keluarga famili, saudara, kerabat yang tersebar,
  3. Sebagai media diskusi, media dakwah, tukar informasi dan mengajak kebaikan.
  4. Sebagai media iklan, baik ikan gratis dengan cara posting maupun iklan berbayar yang telah disediakan.
  5. Sebagai media kampanye untuk pemenangan capres dan cawapres 2009.
  6. Membangun komunitas kelompok tertentu, Sekolah tertentu, suku tertentu, agama tertentu, hoby tertentu.
  7. Melatih berkomunikasi, melatih menulis, mengeluarkan pendapat, melatih berkomentar.
  8. Untuk media menyimpan photo keluarga, photo kenangan dan video yang sekaligus bisa di share.

Beberapa hal dampak buruk dari FaceBook :

  1. Mengurangi kinerja karena karyawan perusahaan, dosen dan mahasiswa yang bermain facebook pada saat sedang bekerja, pasti mengurangi waktu kerja.
  2. Berkurangnya perhatian terhadap keluarga, ini terjadi karena orang tua semakin sedikit waktunya dengan anak-anak dan keluarga mereka karena Facebook.
  3. Tergantikannya kehidupan sosial karena sebagian orang merasa cukup dengan berinteraksi lewat Facebook sehingga mengurangi frekuensi bertemu muka.
  4. Batasan ranah pribadi dan sosial yang menjadi kabur, karena Dalam Facebook kita bebas menuliskan apa saja, sering kali tanpa sadar kita menuliskan hal yang seharusnya tidak disampaikan ke lingkup sosial.
  5. Tersebarnya data penting yang tidak semestinya, seringkali pengguna Facebook tidak menyadari beberapa data penting yang tidak semestinya ditampilkan secara terbuka.
  6. Pornografi, sebagaimana situs jejaring sosial lainnya tentu ada saja yang memanfaatkan situs semacam ini untuk kegiatan berbau pornografi.
  7. Kesalahpahaman, seperti kasus pemecatan seorang karyawan gara-gara menulis yg tidak semestinya di facebook, juga terjadi penuntutan ke meja pengadilan gara-gara kesalahpahaman di Facebook.
Melihat dari dampak positif dan negatif dari penggunaan Facebook ini, semua berpulang pada diri kita masing-masing. Jika membicarakan dampak baik dan dampak buruk tidak akan ada habisnya, sebab semua akan terus berkembang dan susah untuk dibendung. Untuk itu, kehadiran Facebook hendaknya bisa disikapi dengan bijaksana, dibuang yang buruk dan diambil manfaatnya.
 
Kalau boleh dikatakan, Facebook lebih komunikatif dan interaktif dan bisa memperluas wawasan kita semua, tanpa harus berlama-lama larut dalam kontroversi ini. Sebab, ada baiknya memperkuat kendali dari hati, pikiran, iman kita sendiri dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi.

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes