Tampilkan postingan dengan label Kisah Pendidik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Pendidik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 April 2012

Suka Duka Guru Sekolah Luar Biasa


Mengajar anak berkebutuhan kuhuss bukan perkara yang mudah. Diperlukan pendidikan dan keterampilan khusus agar dapat menangani mereka. Namun selain pendidikan dan keterampilan khusus, diperlukan juga yang namanya “Ketulusan, kesabaran, dan rasa mengasihi”.

Uning Taufiqi seorang guru honor Sekolah Luar Biasa di Kota Pontianak yang hampir satu tahanu mengajar anak berkebutuhan khusus ini berbagi pengalamannya sebagai guru yang mengajar kelas B atau anak-anak yang tuna rungu. Ia mengajar keterampilan kepada anak-anak berkebutuhan khusus ini seperti mengajar memasak,menjahit, dan lain sebagainya.

Uning Taufiqi menceritakan bahwa latar pendidikannya bukanlah dari jurusan SLB tetapi jurusan Umum. Sebelum ia mengajar di SLB, ia sempat mengajar di sekolah umum beberapa tahun. Bagi dirinya gaji yang didapatkan sangat kecil berbanding usaha yang ia tekuni yaitu berwirausaha. Namun karena merasa terpanggil dan merasa sangat diperlukan oleh anak berkebutuhan khusus, dan sangat puas melihat anak berkebutuhan khusus bisa mandiri. Maka ia putuskan untuk mengajar di SLB.

“Kalau disekolah umum itu ya seperti pada umumnya, bisa dibilang tidak punya keistimewaan kita disana, banyak-banyak guru lain. Kalau disini kita betul-betul diperlukan oleh anak-anak untuk membuat mereka mandiri terutamanya. Kalau dukanya, karena memang saya dari dulu umum jadi komunikasinya masih agak kurang dan itu memang mungkin perlu waktu saya bisa memahami betul-betul apa yang dimau mereka.” Ujarnya saat ditanya perbedaan mengajar di sekolah umum dengan SLB.


Uning mengakui sebelum mengajar di SLB ia tidak mendapatkan pelatihan khusus untuk menangani anak berkebutuhan khusus. Tetapi berdasarkan niat tulus dan tekad yang kuat, pelatihan untuk menangani anak berkebutuhan khusus ia dapatkan melalui internet.

Diceritakannya anak yang tuna wicara dan tuna rungu ini secara akal mereka sempurna tetapi komunikasinya sangat kurang. Sehingga informasi yang didapatkan anak sangat kurang. Jadi sebagai guru harus banyak berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus agar dapat memberikan informasi yang seharusnya didapatkan oleh anak. Tetapi Uning tidak menafikan bahwa dia juga mendapatkan pelatihan yang diselenggarakn oleh dinas pendidikan, sekolah maupun dari pemerintah pusat.

Kata Uning : “Kami harus banyak dengan mereka itu sebenarnya ngobrol, berbicara, masukan kata-kata jadi biar mereka itu paham kalau misalnya garam rasanya asin. Kadang mereka ada yang belum tau,karena pernah merasa tapi tidak tau namanya itu garam. Itu bikin kita semakin semangat untuk belajar dan berkomunikasi dengan mereka”.

Menurut Uning, anak berkebutuhan khusus ini lebih tertarik pada pelajaran keterampilan dari pada teori. Karena sebenarnya yang diperlukan mereka adalah keterampilan untuk kemandarian mereka sendiri. Praktek lebih mereka perlukan ketimbang teori.

Uning berbagi tips bagi yang ingin mengajar di SLB yaitu harus ada panggilan hati. Apabila tidak ada panggilan hati mungkin tak akan ada cinta, tak akan ada sepenuh hati mengajar anak,dan penerimaan anak-anak kurang, karena kurang mencintai. Untuk mengajar di SLB harus benar-benar da keyakinan kalau dia itu terpanggil untuk mengajar di SLB, sabar dan punya ketertarikan minat untuk membantu anak yang berkebutuhan khusus serta jangan ada jarak dengan anak-anak. Kadang Uning juga berkirim pesan singkat dengan anak didiknya. Hal itu dilakukan agar sang anak mendapatkan kosa-kata baru.

Sementara itu Sulastri yang juga guru di SLB ini mempunyai latar belakang pendidikan khusus SLB di Universitas 11 Maret . Sejak dari SMA, ia memang mempunyai cita-cita untuk menjadi guru di SLB. Sulastri mengajar di SLB sejak 14 tahun yang lalu. Mengajar di kelas C atau Tuna Grahita yaitu individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam masa perkembangan..

Sulastri berbagi pengalaman suka dukanya menjadi guru di SLB yaitu ketika mengajar tetap tidak bisa diterima anak didiknya, hal itu membuatnya sebagai guru merasa sedih. Sementara sukanya walaupun kemajuan sang anak hanya sedikit tapi itulah kemajuan yang paling terbesar.

Senada dengan Uning Taufiqi, untuk mengajar anak berkebutuhan khusus ini diperlukan juga panggilan hati. Selain itu Sabar, Ikhlas dan harus mengerti karakter anak seperti apa.

Suara Kedua guru tersebut bisa didengar disini

Selasa, 09 November 2010

Guru dan Semangatnya

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy (sindroma gangguan otak belakang).

Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.

Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik. Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian anak yang beradu dengan lantai.

Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk, duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan kepandaiannya menyusun huruf.

Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan. Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa damai dan hangat.

Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar. Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu. Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing. Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya. Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.

Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat” kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya. Ddduh, ada apa ini?

Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam, mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya. Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk sekedar mencium tangan saya.

Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.

***

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan. Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru. Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu, dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang berbeda disana. Cobalah. Rasakan.


Sumber: http://www.resensi.net/

Rabu, 20 Oktober 2010

Mengajar dan Belajar dengan Hati

 Oleh : Dhian D.*)

Judul diatas mungkin bagi sebagian kalangan tampak berlebihan, atau mungkin juga dinilai sepele. Namun, paling tidak...lima kata itulah berhasil mengubah kehidupan keseharian saya sebagai dosen – yang semula merupakan hari-hari yang menegangkan, menjadi hari-hari yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Mungkin catatan kecil ini dapat menjadi inspirasi bagi sebagian rekan yang mengalami hal serupa.

Pada saat-saat awal belajar menjadi pengajar, saya berusaha menerapkan prinsip-prinsip dan etika akademik yang pernah saya pelajari. Disiplin pribadi, ketepatan dan semangat dalam pengerjaan setiap tugas, berani menghadapi tantangan (seberat apapun), kesatria (tidak mundur sebelum perang ditempuh), jujur, terbuka terhadap kritik, dan sikap-sikap lain yang mendukung keberhasilan siswa dalam hidupnya.

Hingga sewindu pertama, strategi tersebut relatif masih ampuh; meskipun saya dinilai sebagai dosen yang galak. Siswa yang terlambat hadir atau terlambat mengumpulkan tugas, sudah pasti akan mendapatkan sanksi. Siswa yang ikut asistensi tanpa memperlihatkan kemajuan sesuai dengan yang diminta, tidak lepas dari teguran (tentu saja ditujukan untuk menyemangati yang bersangkutan). Paling tidak, hingga saat itu prinsip-prinsip tersebut menurut saya berhasil mendorong sebagian besar mahasiswa lulus dengan hasil yang baik (bahkan sangat baik). Tentu saja, sebagian besar mahasiswa baru menyadari mereka lulus.

Sejak sekitar tahun 2000an, saya merasakan perubahan karakter mahasiswa secara mendasar. Dalam rapat-rapat staf di prodi pun, muncul berbagai keluhan dari hampir seluruh dosen. Sebagian besar menggarisbawahi kondisi mahasiswa yang kurang disiplin, daya juang yang lemah, tidak tekun, tidak dapat mengelola diri dan waktu, serta sikap lain yang diperlukan bagi siswa yang mandiri.

Sebagian besar prinsip yang saya yakini sejak kecil dan telah diterapkan selama sekitar 10 tahun, mulai saat itu tampak tidak berlaku. Berbagai peristiwa datang silih berganti yang justru menjadi bumerang. Saya terlihat menjadi berlebihan, dinilai bersikap terlalu keras, cerewet, dan mencapaipuncaknya ketika saya merasa tidak match lagi dengan situasi ini. 4 (empat) kali saya berpikir untuk mengundurkan diri dari ITB...
Kegalauan hati selama lebih dari sewindu, pada suatu ketika berubah HANYA dengan mengubah sebuah premis
Semula saya selalu berpikir; mahasiswa SEHARUSNYA sudah memiliki sikap ini dan itu, saat ini saya melihat fakta APA ADANYA dan berusaha membawa mereka pada sikap-sikap yang tetap saya yakini sebagai sebuah sikap yang perlu ditanamkan (seperti telah dijelaskan dimuka). Saya menyadari, bahwa situasi global dunia yang sudah berubah, sangat berpengaruh terhadap alam bawah sadar mereka (juga kita). Dunia yang serba instan, serba cepat, serba di permukaan, serta virtual, dan bahkan mungkin suatu ketika akan melewati batas-batas ambangnya...

Saat itu, hati sya yang semula MEMPERTANYAKAN, baru sadar... dan berubah menjadi perasaan iba dengan situasi yang dialami mahasiswa saat ini. Situasi dan keseharian yang mereka jalani jauh lebih kompleks. Kehidupan keseharian yang mereka hadapi juga pasti sudah membuat mereka bingung jika tanpa bimbingan. Kita harus berempati terlebih dahulu terhadap kondisi mereka (yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya) dan berusaha menjadi pendengar yang baik sert memberikan ruang lebih banyak untuk kesabaran.

Pernahkah kita menduga, satu kritik pedas bisa membuat mahasiswa pindah prodi bahkan mengundurkan diri dari ITB? Pernahkah terbyangkan, perasaan stress karena ketika SMU selalu menjadi juara kelas dan setelah di ITB menjadi orang yang “biasa” - membuat seorang siswa menggunduli rambutnya? Yang lebih spektakuler adalah mahasiswa yang nekat hendak memotong nadinya karena tidak athu lagi untuk tujuan apa dia berada di dunia ini.

Namun sebaliknya, kita mungkin tidak juga menyangka bahwa suatu pertemuan singkat yang bermakna mampu membuat mahasiswa “lolos” dari jeratan putus sekolah. Kita bahkan mungkin tidak menyadari bahwa sebuah sapaan lembut membuat ketakutan mahasiswa lenyap saat sidang akhir yang menegangkan. Sebuah pujian bagi mahasiswa yang sedang berada di titik nadir, mungkin akan dikenang selama hidupnya. Sungguh indah dan betapa berartinya tindak tanduk dan ucapan..........sekecil apapun.

Setelah ini diterapkan, hari-hari yang semula menegangkan, kini menjadi jauh lebih dapat dinikmati. Saya justru banyak belajar dari mereka; bukan tentang substansi ilmu Arsitektur-nya, melainkan ilmu tentang kehidupan masa kini yang sudah jauh lebih kompleks...

Ketika pikiran dan hati kita MAU BERUBAH, informasi datang silih berganti; termasuk hadirnya pengetahuan-pengetahuan tentang LCE, brain-based-learning, juga film Laskar Pelangi yang menekankan pentingnya mengajar (dan belajar) dengan hati. Karena (mungkin) memang inilah jalan kita untuk berhikmat kepada semesta...

To Teach is To Hope
Mary Shaughnessy

To teach is to hope...
That one day a child will know
The meaning of confindence
And be able to touch other lives...

To teach is to pray...
That these newly brave souls will use their talents
To better the world,
instead of just themselves.

To teach is to feel...
That not all the hurts of those in our care
can be healed
But they can be soothed

*)    ITB lectures, awal februari 2010, tulisan ini mengingatkan diriku ketika menjadi seorang guru, bahwa mengajar dgn hati dan semata2 krn-Nya, subhanallah hasilnya begitu menakjubkan, trims buat ibu Dhian atas pencerahannya smg bermanfaat utk para pengajar

Kamis, 02 September 2010

Kegelisahan Para Guru - Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pendidikan dimasa liberalisasi ini melahirkan tindakan-tindakan instan yang reaksioner, yang justru dilakukan oleh staf pengajar di universitas. Gaya mengajar yang kuno (tidak sesuai tuntutan kompetensi), jarang mengajar (dengan alibi memakai pendekar)

Tidak seperti biasanya, pagi hari itu, menjelang pukul 08.00 wib, ruang administrasi sebuah fakultas terlihat penuh oleh dosen. Tak perlu heran, hari itu adalah awal ujian semester. Dan tentu saja, para dosen itu, datang pagi-pagi bukan untuk memberi kuliah namun untuk mengawasi pelaksanaan ujian. Jaga ujian, demikianlah teriak mereka bahagia. Bahagia? Jelas!, jaga ujian berarti uang tambahan. Dan itu artinya harus bergegas untuk datang tepat waktu atau kalau tidak, posisi mereka akan digantikan orang lain. Terlebih hal itu sudah diatur dalam tata tertib pengawas ujian. Artinya, uang melayang. Sayang, kan?

Episode berganti. Di sebuah ruangan ujian, seorang muda membacakan dengan keras tata tertib peserta ujian dan diakhiri dengan perintah kepada para peserta untuk menaruh tas/barang bawaan di depan kelas. Pembacaan tata tertib ternyata sudah disepakati saat rapat panitia pelaksana ujian. Apa lacur? Tak ada yang melakukannya kecuali dia seorang. Ujian tahun ini diniatkan sebagai perbaikan sistem ujian yang bermuara pada perbaikan kualitas mahasiswa. Yang diincar adalah syahwat menyontek mahasiswa. Mahfum kita sadari bahwa nafsu menyontek dicurigai sebagai embrio korupsi, kolusi dan segala hal yang kelak akan menambah porak poranda negara ini.

Pada ujian kali ini, konsepnya adalah memperketat pengawasan ujian. Tak pelak, semestinya konsep pelaksanaan ujian kali ini mendapat sambutan hangat. Semestinya segenap gugus pengawas tidak bersikap sama seperti pelaksanaan waktu-waktu sebelumnya. Kita harus bangun dari tidur, kawan. Sekarang waktunya bekerja, demikianlah seruan Napoleon Bonaparte saat ia memimpin Perancis yang baru. Bangsa Amerika adalah kumpulan orang-orang yang bekerja keras melebihi moyangnya di Eropa, demikianlah kata John Adams, salah seorang pendiri Amerika. Sekarang kita menyaksikan hasil kerja keras mereka. Perancis menjadi negara maju dan mapan begitu pula halnya dengan Amerika.

Perubahan selalu mengagetkan. Jangankan yang bersifat massal, yang bersifat individualpun tetaplah tak mengenakkan. Marilah kita toleh paparan berikut ini.
Ujian adalah ajang untuk membuktikan sejauhmana sang anak didik menyerap dan memahami pelajaran yang selama ini disampaikan oleh pengajar. Ujian bisa berbentuk tertulis dan atau lisan. Di progdi tempat penulis mengabdi, nampaknya, hanya matakuliah Speaking yang diyakini cocok dengan model ujian lisan. Sisanya, dalam bentuk ujian tertulis. Tentu saja, bukankah Speaking berarti berbicara dalam bahasa kita. Capek dan kayak ga mungkin kalo harus lisan, demikian komentar yang muncul searah dengan pertanyaan penulis atas kemungkinan ujian lisan bagi beberapa matakuliah non-Speaking. Jawaban tersebut sebenarnya absurd.

Ujian tertulis menuai konsekuensi logis, yakni memeriksa hasil test atau yang biasa dikenal dengan sebutan mengoreksi. Lalu tidakkah capek juga kalau harus mengoreksi puluhan kertas jawaban terutama jika itu esai? Jangan“ jangan tidak dikoreksi.? Lalu jika demikian, dari mana datangnya nilai? Abrakadabra-kah? Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengajak para pendidik beramai-ramai melakukan bentuk tes lisan. Test tertulis-pun tetap memiliki unsur ke-valid-annya. Namun jangan capek dijadikan rujukan, sebab hal itu tidak akan membuat kita maju. Jangan takut capek, jangan ragu untuk bergerak. Berubah memang tidak enak. Tapi sabarlah, kawan. Perancis bisa maju, Jerman bisa bangkit, Jepang mampu menggeliat, lalu kita?

Pemerintah nampaknya menangkap kegelisahan ini. Dengan paket kebijakannya yang baru, melalui Departemen Pendidikan, pemerintah mengeluarkan aturan sertifikasi guru dan dosen. Tujuannya jelas. Perbaikan taraf hidup bagi kaum pendidik Indonesia. Melalui mekanisme tersebut diharapkan, kaum pendidik bisa fokus kepada tugas dan tanggung jawabnya.

Tapi ini Indonesia. Alih-alih konsentrasi bekerja meningkat, para pendidik justru terjebak untuk gelisah memikirkan dengan amat sangat, syarat ikut sertifikasi. Ada yang gelisah karena masa pengabdiannya belum mencukupi dan ada pula yang gelisah karena gelar master-nya tidak sejalur, kadang ada juga yang bernafsu untuk menambah jumlah jam mengajar sekedar untuk memenuhi syarat ikut sertifikasi, dll.

Akhirnya terciptalah iklim kompetisi. Tapi bukan berkompetisi tentang siapa yang terbaik dalam mendidik mahasiswa/i, melainkan berkompetisi untuk menjadi yang pertama masuk dalam daftar sertifikasi. Runyam! Tambah runyam lagi jika pemberlakuan sertifikasi menganut sistem kuota. Jadi segala upaya panik tadi tentulah sia-sia. Runyam karena reaksi absurd.

Pendidik pastilah kaum yang terdidik. Tugasnya mendidik dan mencerdaskan masyarakat. Sertifikasi perlu untuk diperjuangkan. Tapi tugas utama jangan dilupa. Dan kitapun melenggang serta berdendang hymne guru dengan bangga dan mantap. Karena kita selalu mendidik dengan penuh tanggung jawab. Penuh tanggung jawab, kawan.
 

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
 ...engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa


-Hymne Guru-

Belajar Dari Jepang Membentuk Komunitas Terdidik

Opini kecil, yang saya tulis sewaktu masih tinggal di Jepang. Pernah dimuat di kolom Opini, Surat Kabar Republika, tanggal 15 Juli 2002.

Tiada hari terlewatkan tanpa membaca surat kabar Indonesia melalui Internet. Di sana-sini bermunculan berita mengenai rusaknya moral dan carut marutnya kepribadian masyarakat Indonesia, layaknya sebuah bangsa yang tidak terdidik. Dan kerusakan ini secara signifikan dan menyeluruh melanda berbagai golongan masyarakat Indonesia, dari pejabat atas, menengah sampai rendah, dari anggota DPR sampai menular ke masyarakat umum. Kemudian kalau kita menyimak berita-berita Internasional, sudah menjadi hal yang lazim, bahwa Indonesia selalu memenangi kontes-kontes internasional yang berhubungan dengan sifat buruk. Dari masalah besarnya jumlah korupsi, pelanggaran HAM, pembajakan software, sampai rendahnya masalah sumber daya manusia (SDM).

Pada tulisan ini, penulis mencoba menguraikan tentang bagaimana sebuah komunitas terdidik (knowledged community) dan beradab itu sebenarnya bisa terbentuk dari sesuatu hal yang sangat sederhana.

Dari mengamati perilaku kehidupan masyarakat Jepang, sebenarnya tergambar bagaimana sebuah komunitas terdidik terlahir dari suatu sifat dan sikap yang sederhana. Yang pertama mari kita lihat bagaimana orang Jepang mengedepankan rasa “malu”. Fenomena “malu” yang telah mendarah daging dalam sikap dan budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan. Penulis cermati bahwa di Jepang sebenarnya banyak hal baik lain terbentuk dari sikap malu ini, termasuk didalamnya masalah penghormatan terhadap HAM, masalah law enforcement, masalah kebersihan moral aparat, dsb.

Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu contoh nyata. Orang Jepang lebih senang memilih memakai jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffic light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

Hal menarik berikutnya adalah bagaimana orang Jepang berprinsip sangat “ekonomis” dalam masalah perbelanjaan rumah tangga. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Sekitar 8 tahun yang lalu, masa awal-awal mulai kehidupan di Jepang, penulis sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar pukul 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 10 atau 20 yen. Juga bagaimana orang Jepang lebih memilih naik densha (kereta listrik) swasta daripada densha milik negeri, karena untuk daerah Tokyo dan sekitarnya ternyata densha swasta lebih murah daripada milik negeri. Dan masih banyak lagi contoh yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa orang Jepang itu sangat ekonomis.

Secara perekonomian mereka bukan bangsa yang miskin karena boleh dikata sekarang memiliki peringkat GDP yang sangat tinggi di dunia. Mereka juga bukan bangsa yang tidak sibuk atau lebih punya waktu berhidup ekonomis, karena mereka bekerja dengan sangat giat bahkan terkenal dengan bangsa yang gila kerja (workaholic). Tetapi hebatnya mereka tetap memegang prinsip hidup ekonomis. Ini sangat bertolak belakang dengan masyarakat negara-negara berkembang (baca: Indonesia) yang bersifat sangat konsumtif. Terus terang kita memang sangat malas untuk bersifat ekonomis. Baru dapat uang sedikit saja sudah siap-siap pergi ke singapore untuk shopping, atau beli telepon genggam baru.

imigrasi.jpgSifat berikutnya adalah masalah “sopan santun dan menghormati orang lain”. Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakkan orang lain. Kalau kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang, sebelum kita sempat mengatakan maaf, orang Jepang dengan cepat akan mengatakan maaf kepada kita. Demikian juga apabila kita bertabrakan sepeda dengan mereka. Tidak peduli siapa yang sebenarnya pada pihak yang salah, mereka akan secara refleks mengucapkan gomennasai (maaf).

Kalau moral dan sifat-sifat sederhana dari orang Jepang, seperti malu, hidup ekonomis, menghormati orang lain sudah sangat jauh melebihi kita, ditambah dengan majunya perekonomian dan sistem kehidupan. Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita, hal baik apa yang kira-kira bisa kita banggakan sebagai bangsa Indonesia kepada mereka ?

Bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh dan tidak mengerti moral. Kita bisa menyaksikan bahwa mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar Jepang, Jerman, Amerika dan di negara -negara lain, banyak sekali yang berprestasi dan tidak kalah secara ilmu dan kepintaran. Demikian juga kalau kita bandingkan bagaimana para pengamat dan komentator Indonesia menguraiakan analisanya di televisi Indonesia. Selama hidup 8 tahun di Jepang penulis belum pernah menemukan analisa pengamat dan komentator di televisi Jepang yang lebih hebat analisanya daripada pengamat dan komentator Indonesia. Dan ini menyeluruh, dari masalah ekonomi, politik, sistem pemerintahan bahkan sampai masalah sepak bola.

Akan tetapi sangat disayangkan bahwa fakta menunjukkan, secara politik dan sistem pemerintahan kita tidak lebih stabil daripada Jepang, secara ekonomi kita jauh dibawah Jepang. Dalam masalah sepakbola juga dalam waktu singkat Jepang sudah berprestasi menembus 16 besar pada piala dunia tahun 2002 ini, sementara kita sendiri masih berputar-putar dengan permasalahan yang tidak mutu, dari masalah wasit, pemain sampai kisruhnya suporter.

Mengambil pelajaran dari kasus yang telah diuraikan penulis diatas. Ternyata kepintaran dan kepandaian otak kita adalah tidak cukup untuk membawa kita menuju suatu komunitas yang terdidik. Justru sikap dan prinsip hidup yang sebenarnya terlihat sederhana itulah akan secara silmultan membentuk suatu bangsa menjadi bangsa besar dan berperadaban.

“Knowledge is power, and character is more, but lucky is everything”

Sumber/penulis : Romi Satria Wahono

Guru (Oemar Bakri, Orang tua dan Lingkungan ku) - Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Guru adalah profesi yang mulia dan tidak mudah dilaksanakan serta memiliki posisi yang sangat luhur di masyarakat. Semua orang pasti akan membenarkan pernyataan ini jika mengerti sejauh mana peran dan tanggung jawab seorang guru . Sejak saya baru berusia 6 tahun hingga dewasa, orang tua saya yang merupakan seorang guru, selalu memberikan instruksi yang mengingatkan kami para anak-anaknya adalah anak seorang guru yang harus selalu menjaga tingkah laku agar selalu baik dan jangan sampai melakukan sebuah kesalahan . Seberat itukah, seharus itukah kami bertindak Lantas apa hubungan profesi orang tua dengan dengan anak-anaknya apakah hanya anak seorang guru yang harus demikian ?.

Sebenarnya menjaga sikap dan tindak tanduk positif itu tidak hanya tanggung jawab para guru dan keluarganya, tetapi semua orang, Guru yang selalu mengusahankan keluarganya menjadi garda terdepan dalam memberikan pendidikan dengan sebuah contoh, adalah cerminan komitmen dan pendalaman makna dari seorang guru. Sang guru harus berusaha agar keluarganya baik dan tidak korupsi agar ia dapat mengajari kepada murid-muridnya baik dan tidak korupsi, berusaha tidak berbohong agar murid-muridnya tidak menjadi pendusta.

Peran guru tidak hanya sebatas tugas yang harus dilaksanakan di depan kelas saja, tetapi seluruh hidupnya memang harus di dedikasikan untuk pendidikan. Tidak hanya menyampaikan teori-teori akademis saja tetapi suri tauladan yang digambarkan dengan perilaku seorang guru dalam kehidupan sehari hari.

Terkesannya seorang Guru adalah sosok orang sempurna yang di tuntut tidak melakukan kesalahan sedikitpun, sedikit saja sang guru salah dalam bertutur kata itu akan tertanam sangat mendalam dalam sanubari si anak. Jika sang guru mempunyai kebiasaan buruk dan itu di ketahui oleh sang murid, tidak ayal jika itu akan dijadikan referensi bagi si murid tentang pembenaran kesalahan yang sedang ia lakukan.

Sepertinya filosofi sang guru ini layak untuk di jadikan filosofi hidup, karena hampir setiap orang akan menjadi seorang ayah dan ibu yang notabenenya merupakan guru yang terdekat bagi anak-anak penerus bangsa ini .
Akan sulit bagi seorang ayah untuk melarang anaknya untuk tidak merokok jika seorang ayahnya adalah perokok. Akan sulit bagi seoang ibu untuk mengajari anak-anak untuk selalu jujur, jika dirumah sang ibu selalu berdusta kepada ayah dan lingkungannya, atau sebaliknya.

Suatu siang saya agak miris melihat seorang anak SMP sedang asik mengisap sebatang rokok bersama adik kelasnya yang masih di SD, itu terlihat dari seragam yang dikenakan dan usianya memang terbilang masih anak-anak. Siapa yang harus disalahkan dalam kasus ini. Apakah sianak, sepertinya tidak adil kalau kita hanya menyahkan si anak saja, anak itu terlahir bagaikan selembar kertas yang masih putih, mau jadi seperti apa kelak di hari tuanya tergantung dengan tinta dan menulis apa pada selembar kertas putih itu . Orang pertama yang patut disalahkan mungkin adalah guru, baik guru yang ada di rumah ( orang tua ), di sekolah ( guru), atau pun lingkungannya.

Peran orang tua yang bertanggung jawab terhadap keselamatan anaknya tentunya tidak membiarkan anaknya terlena dengan fasilitas-fasilitas yang dapat menenggelamkan si anak, kontrol yang baik dengan selalu memberikan pendidikan moral dan agama yang baik diharapkan akan dapat membimbing si anak ke jalan yang benar, bagaimana orang tua dapat mendidik anaknya menjadi anak yang sholeh sedangkan orang tuanya jarang menjalankan sesuatu yang mencerminkan kesholehan, kemasjid misalnya.

Tidak mudah memang untuk menjadi seorang guru. Menjadi guru diharapkan tidak hanya didasari oleh gaji guru yang akan dinaikkan, bukan merupakan pilihan terakhir setelah tidak dapat berprofesi di bidang yang lain, tidak juga karena peluang. Selayaknya cita-cita untuk menjadi guru didasari oleh sebuah idealisme yang luhur, untuk menciptakan generasi penerus yang berkualitas.

Sebaiknya Guru tidak hanya dipandang sebagai profesi saja, tetapi adalah bagian hidup dan idealisme seorang guru memang harus dijunjung setinggi-tingginya. Idealisme itu seharusnya tidak tergantikan oleh apapun termasuk uang. Namun guru adalah manusia, sekuat-kuatnya manusia bertahan dia tetaplah manusia, jika terpaan cobaan itu terlalu kuat manusia juga dapat melakukan kesalahan.

Akhir akhir ini ada berita di media masa yang sangat meruntuhkan citra sang guru adalah berita tentang pencabulan terhadap anak didiknya. Kalau pepatah mengatakan guru kencing bediri murid kencing berlari itu benar, berarti satu orang guru melakukan itu berapa orang murid yang lebih parah dari itu.

Gejala-gejala ini telah menunjukan kebenarannya. Kita ambil saja kasus siswa mesum di taman sari, bukit dealova, dan Ayam kampus yang mulai marak di tambahlagi foto-foto syrur anak SMP jebus, ini menunjukkan bahwa pepatah itu menujukkan kebenarannya.

Kerja team yang terdiri dari orang tua ( sebagai guru dirumah), Guru di sekolah, dan Lingkungan ( sebagai Guru saat anak-anak bermain) harus di bentuk. diawali dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan guru di sekolah, pertemuan yang intensif antara keduanya akan saling memberikan informasi yang sangat mendukung bagi pendidikan si anak. Peran Lingkungan pun harus lebih peduli, dengan menganggap anak-anak yang ada dilingkungannya adalah tanggung jawab bersama, tentunya lingkungan pun akan dapat memberikan informasi yang benar kepada orang tua tentang tindak tanduk si anak dan kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangannya.

Terlihat betapa peran orang tua sangat memegang peranan penting, setelah semua informasi tentang pertumbuhan anakya di dapat, orang tuapun harus pandai mengelola informasi itu dengan benar.

Terlepas dari baik buruknya seorang guru nampaknya filosofi seorang guru dapat dijadikan pegangan bagi kita semua terutama bagi para orang tua, mari kita bersama-sama untuk menjadi guru bagi anak anak kita yang selalu memberi contoh kebenaran dan memberi dorongan untuk berbuat kebenaran. Sang guru bagi anak adalah Orang tua, guru sekolah dan lingkungan tempat ia di besarkan. Seandainya sang guru dapat memberi teladan yang baik mudah-mudahan anak-anak kita akan ada di jalan yang benar, semoga.
 
Sumber : http://artikel-opini.blogspot.com/

Puisi Aku Seorang Guru


Aku seorang guru.

Lihatlah...seharian, aku telah diminta menjadi seorang aktor, teman, penemu barang hilang, psikologi, pengganti orang tua, penasihat, hakim, pengarah, motivator, dan pembimbing ruhani murid-muridku..

Meski tersedia peta, grafik, formula, kata kerja, cerita dan buku. Aku sebenarnya tidak punya apa-apa untuk diajarkan, karena murid-muridku sebenarnya hanya mempunyai diri mereka sendiri untuk belajar,

Aku sebuah paradoks. Aku paling keras berbicara dan aku paling banyak mendengar. Karunia terbesarku terdapat dalam apa yang bersedia aku terima dari murid-muridku dengan sikap menghargai.

Kekayaan materi bukanlah salah satu tujuanku, tapi aku seorang pencari harta karun, yang selalu mencari peluang baru bagi murid-muridku—peluang untuk menggunakan bakat-bakat mereka –dan yang selalu mencari bakat-bakat yang kadang tersembunyi dbalik sikap menyerah.

Dulu..aku bercita menjadi seorang dokter…namun sekarang dengan aku menjadi seorang guru, aku marasa bahwa akulah yang paling beruntung diantara semua pekerja.

Karena seorang dokter diijinkan untuk mengantarkan kehidupan dunia dalam satu saat ajaib. Aku diijinkan melihat kehidupan itu dilahirkan kembali setiap hari dengan pertanyaan baru, gagasan baru dan persahabatan baru dari semua muridku

Ketika seorang arsitek tahu bahwa jika ia membangun dengan teliti, bangunannya mungkin akan berdiri berabad-abad. Namun seorang guru tahu bahwa jika ia membangun dengan cinta dan kebenaran, apa yang ia bangun akan abadi.

Aku tidak membutuhkan tempat rekreasi atau hiburan untuk meredakan rasa sedih yang terkadang datang bersama masalah-masalah, karena disini ketika didepan gerbang sekolahku, semua itu akan larut bersama senyuman, ketulusan dan cinta tulus murid-muridku yang terpancar dari mata, senyuman, harapan dan sambutan hangat mereka setiap pagi...

Aku seorang pejuang, setiap hari bertempur melawan sikap negatif, rasa takut, cara berpikir seragam, prasangka, kebodohan dan kelesuan. Tapi aku mempunyai sekutu-sekutu hebat : kecerdasan, rasa ingin tahu, dukungan orang tua, kreatifitas, cinta, tawa—semua bergegas menghampiriku dengan dukungan luar biasa.

Kepada siapa lagi aku berterimakasih atas hidup indah yang begitu beruntung bisa kujalani ini selain kepada kalian ; masyarakat dan para orang tua. Karena kalian telah memberiku kehormatan besar dengan mempercayaiku untuk mendidik sumbangan terbesar kalian bagi keabadian –anak-anak kalian.

Dan demikian aku mempunyai sebuah masa depan yang menantang, penuh petualangan dan yang menyenangkan karena aku diijinkan melewati hari-hariku dengan masa depan.

Kubuka mata dipagi hari, aku ingat bahwa hari ini aku akan bertemu dengan banyak kebahagiaan dengan murid-muridku … ya aku seorang guru … dan untuk itu aku bersyukur pada Allah setiap pagi ... setiap hari.

Aku menyentuh masa depan… karenanya aku menjadi guru ! (NS)

* Diadaptasi dari John Wayne Schlatter dalam Chicken Soup For Teacher Soul

Seorang Guru

Menggandeng tangan

Membuka pikiran

Menyentuh hati

Membentuk masa depan

NN



Sumber : http://sditalibrah.multiply.com

Guru dan Psikologi Penangkal Kenakalan Remaja



Peran seorang Guru dalam membentuk kepribadian para remaja sangat berkaitan erat, setidaknya dalam hidupnya sejak dari taman kanak-kanak hingga kuliah di Perguruan Tinggi, seorang anak, remaja, akan berhubungan langsung dengan para guru atau dosen selama belasan bahkan puluhan tahun lamanya. Jadi bagaimana mungkin peran seorang guru tidak menjadi sesuatu hal yang mendapatkan prioritas lebih dari masyarakat untuk dapat menangkal kenakalan remaja yang semakin hari semakin meresahkan kita. Untuk menahan lajunya angka kasus-kasus kenakalan remaja maka peran aktif para guru harus dioptimalkan. setidaknya dalam kehidupannya setiap hari, seperempat atau setengahnya (5 - 8 jam) waktu seorang remaja akan dihabiskannya bersama dengan para gurunya, baik di sekolah maupun di kampus, bahkan ada dan bahkan banyak keakraban antara para remaja dan gurunya berlanjut positif sampai ke luar lingkungan sekolah atau kampus. Seperti terjadi dalam tetralogi laskar pelangi, bagaimana perjuangan seorang guru, hubungan sosialnya dengan para muridnya telah membentuk para murid menjadi para remaja tangguh, berbudi, dan memiliki cita-cita tinggi, yang bahkan "kenakalan remaja" adalah sesuatu hal yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benak mereka, "kenakalan remaja" yang indah, "kenakalan remaja" karena layaknya mobilitas seorang remaja, "Kenakalan Remaja" karena tingginya kreativitas seorang remaja, "kenakalan remaja" yang berdiri di atas jembatan yang benar dan lurus, "kenakalan remaja" yang terarah, "kenakalan remaja" yang tidak melampaui batas, "kenakalan remaja" yang bahkan telah menjadi inspirasi bagi ratusan juta remaja lainnya, "kenakalan remaja" yang bukan "kenakalan Remaja".

Cerita berikut ini menggambarkan pola hubungan yang positif antara seorang guru dengan muridnya, seorang remaja, yang terus berlanjut bahkan lama sampai keduanya jauh terpisah oleh jarak dan waktu. Bagaimana seorang guru mampu memberikan seberkas cahaya bagi sang remaja yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang tulus, dan akhirnya mampu menghindarkan sang remaja dari kenakalan remaja yang dapat saja mengancamnya sewaktu-waktu. Maka Guru sebagai penangkal kenakalan remaja adalah satu kalimat yang tepat untuk digaungkan, terlepas dari beberapa kasus (sedikit) oknum guru yang mencoreng citra seorang guru yang malah justru menjadi pelaku dan penyebab kenakalan remaja itu sendiri. Namun bagaimanapun juga citra seorang guru yang dapat dijadikan panutan untuk menangkal kenakalan remaja akan tetap bersinar, terang seperti terangnya mentari yang akan terus menyinari dunia hingga akhir nanti ...
Salam hormat dan sayang untuk seluruh guru di dunia yang dengan dedikasi dan semangat pengabdiannya bagi kecerdasan dunia, guru adalah mata tombak dari intelektualitas dunia...
Nada Melody

Suasana pagi yang begitu menyegarkan, membuatku bertambah semangat menyapa hembusan angin nan begitu lembut menelusup ke arah wajahku. Dingin asli, tapi begitu menyegarkan, aku sangat menyenangi bertemu dengan suasana pagi. Mataharinya yang masih menyinari dengan kehangatan nan begitu lembut bersahaja, yang tak begitu membakar. Kicauan burung menyambut kedatanganku ke sekolah ini, tempat aku mentransfer ilmu kepada anak bangsa. Ya sebagai seorang guru, guru salah satu SMA Islami yang ada di kota ini. Kota tempat aku menjejakkan kaki yang Allah takdirkan, di sinilah rejekiku berawal.

Sungguh ini hal yang sangat mengherankan, kenapa aku bisa berprofesi sebagai seorang guru. Sebuah idealismekah atau sebuah pelarian atas kelelahanku mencari tempat agar bisa mengaplikasikan ilmuku setelah tamat sarjana. Padahal aku kuliah di fakultas non kependidikan, tidak ada sama sekali pengalaman mengajar. Semua kulalui dengan wajar, dengan sederhana, dengan modal apa adanya. Semua mengalir begitu saja, dan akhirnya aku sangat mencintai pekerjaan ini, pekerjaan sebagai seorang guru.

Bagiku menjadi seorang guru adalah sebuah tantangan besar, karena selain mengajar kita juga dituntut agar bisa mendidik anak sekaligus. Yach..mengajar sambil mendidik anak, itu tekadku, dan ini harus, tidak boleh tidak. Kalau dipikir-pikir sebenarnya aku tipe orang sangat pendiam dan sangat pemalu, tidak percaya diri, sedikit bicara, selalu berada di duniaku sendiri, karena aku lebih suka berada dalam kesunyian. Aku lebih suka berada jauh dari keramaian dan yang pastinya waktu dulu aku paling takut berhadapan dengan orang banyak, alias grogi.

Jujur saja, pertamakali mengajar aku sempat nervous, gemetar dan suaraku bergetar. Keringat dingin melengkapi kegugupanku, tapi alhamdulillah para siswa tidak terlalu memperhatikan reaksiku saat pertamakali mengajar. Syukurlah, ini langkah awal yang sangat baik, agar aku bertambah percaya diri. “Ayolah Indras, semangatlah mengawali langkahmu di dunia kerja,”kata suara hatiku. Oh, ya maaf aku lupa memperkenalkan diri, maksudnya namaku adalah Pradnya Paramita Sang Indraswari. Entah kenapa orangtuaku memberi nama yang begitu panjang dan agak asing di telinga. Kata mereka itu adalah nama seorang pendekar wanita yang mumpuni yang selalu menolong orang-orang yang lemah. Tapi bagiku itu tidaklah penting, yang terpenting saat ini pada kenyataannya aku adalah seorang guru titik. Apalah arti sebuah nama, tapi nama inilah yang telah membawaku jauh ke kota ini, jauh dari tempat kelahiranku.

Perjalanan yang panjang dan melelahkan sampai aku bisa berada di sebuah daerah yang bahkan sulit terlihat di peta, karena berada di ujung pulau. Pulaunya yang sangat kecil, tapi aneh walau kecil kehidupan di daerah ini begitu maju. Kotanya begitu tertata rapi dan aku merasa betah berada di sini. Serasa berada di sebuah negeri dongeng dengan kehidupan yang begitu teratur, semua objek seakan selalu bercengkerama, bersahabat, begitu asri ramah dan bersahaja. Ini sesuatu kehidupan yang membuatku takjub, ternyata Allah sangat menyayangiku sehingga aku bisa berada di sebuah negeri kayangan seperti versi kanak-kanakku dulu. Ini adalah mimpiku yang menjadi sebuah kenyataan. Aku pernah bermimpi berada di sebuah tempat yang begitu indah, dikelilingi anak-anak yang lucu dan begitu baik, menjadi seorang pendidik di sekolah yang Islami.

Subhannalah, Allah mewujudkan mimpiku, hingga aku bisa berada di sini dan menjadi seorang guru di sekolah yang Islami pula. Karena aku memang sangat menyenangi anak-anak, aku sangat menyukai berinteraksi dengan anak-anak. Apalagi di usia-usia SMA, karena di usia ini mereka berproses dari anak-anak ke usia remaja, bahkan menuju usia dewasa. Tantangannya luar biasa, bagaimana agar kita bisa memposisikan dirikita sebagai seorang guru, orangtua, saudara bahkan sebagai seorang sahabat. Aku bertekad agar bisa menghadapi mereka dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan kasihsayang. Modalku hanya sederhana, bagaimana aku bisa berinteraksi dengan mereka, ya...hanya dengan komunikasi, mengajar dan mendidik, itu saja tidak lebih. Sederhana bukan, itulah langkah awal sebagai bekalku untuk menjadi seorang guru, dan yang utama adalah keyakinanku kepada sang pemilik jiwa Allah swt yang senantiasa berada di setiap langkahku.

“Ibu Indraswari, selamat telah bergabung di sekolah yang sangat sederhana ini,”kata Bu Pitaloka, wakil kepala sekolah di sini. Aku sempat tergeragap, kaget, karena lamunanku tercerabut dengan tiba-tiba akibat sapaan dari Ibu Pitaloka yang begitu keibuan itu. Akhirnya aku tersenyum dan berucap pelan,”iya Bu Pita terimakasih karena bersedia menerimaku mengajar di sini.” Tidak tahukah beliau, betapa aku sangat bersyukur bisa berada di sini, di sekolah yang mereka anggap sederhana ini. Karena di sinilah aku menemukan banyak kasihsayang dari seluruh penghuni sekolah ini. Di sinilah aku begitu di hargai, disayangi dan dicintai sebagai seorang guru. Aku seperti menemukan sesuatu yang belum pernah kurasakan, teman-teman guru yang begitu baik, siswa-siswa yang lucu dan penurut, dan begitu menyayangiku, walau ada juga beberapa orang yang bandel tentunya, tapi sebenarnya mereka anak yang baik.

Tapi aku di sini hanya banyak akan bercerita tentang seorang siswi yang membuatku kagum. Darinya aku banyak belajar banyak hal, bagaimana kita bisa memilah-milah segala sesuatu sesuai situasi dan kondisi. Tidak mencampur adukkan permasalahan di rumah dan di tempat kerja. Darinya aku belajar bagaimana menjadi orang yang sabar, tabah dan kuat. Dan darinya juga aku belajar menjadi orang yang optimis, bahwa Allah Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya. Darinya aku belajar, bahwa menjalani hidup itu haruslah sesuai sunnatullah, mengalir seperti air. Walau terkadang tenang, beriak bahkan berombak, menghempas batu karang, mengalir, meresap ke dasar air. Percayakah dirimu wahai anakku, darimu aku belajar memaknai kehidupan yang penuh tantangan ini, bahwa hidup adalah perjuangan. Ya darimu Melody anakku. Darimu Allah takdirkan Ibu kuat melangkah?

Sampai saat ini silaturahmi antara dirimu dan Ibu masih terjalin dengan baik. Kau memang anak yang baik Melody, walau perjalanan hidupmu tak sebaik sifatmu. Tapi bagimu itu tidak penting, bagimu masalalu adalah tetap masalalu yang tak bisa diputar balik kembali. Dan ia akan selalu menjadi bagian dari hidupmu yang takkan pernah terpisahkan. Melody sering mengalami benturan, bahkan benturan itu sanggup menghempaskan dirinya ke bumi. Tapi sungguh ia sangat teruji dan selalu menjadi pemenang. Melody memiliki karakter dan kepribadian yang kuat. Dari wajah yang cantik terpancar ketenangan yang luar biasa, tidak sekalipun aku melihat kesedihan terbias dari wajahnya. Ketenangan selalu mengiringi langkah-langkah kecilnya, Sepertinya ia tidak pernah mengalami masalah, hidupnya mengalir, aktivitasnya biasa sama seperti siswa-siswi lainnya. Dan memang ia adalah anak yang aktif di sekolah maupun di luar sekolah. Melody selalu melangkah dengan pasti tanpa keraguan, tanpa beban, tanpa masalah. Melody...Melody...bagaimana bisa dirimu begitu kuat menapaki kehidupan yang sangat keras ini.

Pertemuanku dengan Melody ketika dimulainya tahun ajaran baru di sekolah tempat aku mengajar. Dan itupun masa orientasi siswa sudah selesai hampir satu minggu. Saat itu aku mau masuk ke kelas III IPA untuk mulai mengajar, tapi bel masuk belum terdengar, karena aku sengaja lebih awal ke kelas. Sebelum masuk kelas tanpa sengaja aku melihat seorang siswi yang rasa-rasanya masih asing bagiku berada di kelas III IPS. Apa itu murid pindahan atau murid yang memang terlambat masuk karena ada keperluan lain? Siswi tersebut membuatku penasaran sekaligus bertanya-tanya dalam hati. Aku jadi memperhatikan dirinya sesaat dan iapun menoleh sekilas kearahku dengan pandangan asing juga. Namun tak lama kemudian bel masuk berbunyi dan aku langsung masuk ke kelas. Aku mengawali tahun ajaran baru ini dengan diskusi dan meminta murid-muridku menceritakan pengalaman ketika mereka libur panjang.

Selesai mengajar, waktu jam istirahat aku bertanya dengan Ibu Pitaloka, siapa nama murid yang baru masuk tersebut. Oh...ternyata murid pindahan dan namanya cukup unik, Melody ya namanya lengkapnya Nada Melody. Pantas saja aku tidak kenal sebelumnya, karena ia memang murid pindahan dari sekolah lain. Dan aku tidak tahu pasti alasan dirinya pindah ke sekolah yang sederhana ini. Karena memang penampilannya beda dengan murid lainnya. Ia rapi banget dan agak berkelas, juga cantik, kok mau juga ia sekolah di sini, aneh juga ya. Tapi biarlah, orangkan masing-masing punya alasan untuk sekolah dimanapun yang ia senangi. Jujur aja, anaknya agak pendiam bahkan bisa dikatakan sangat pendiam, atau sedikit sombong. Jika murid yang lain kalau ketemu diriku pasti menyapa dengan ramah. Sedangkan Melody hanya melihat kearahku tanpa ekpresi, tanpa beban, itu karena memang takdir yang mengharuskan kami selalu bertemu. Sebab aku juga mengajar di kelasnya, ya mau tidak mau kami harus saling ketemu.

Itulah awal pertemuanku, sekaligus kedekatanku dengan Melody. Dan aku sangat bersyukur dan bahagia bisa menyayangi dan mendidik Melody. Aku terus bertemu dan memang mengajar Melody dari kelas satu sampai ia naik ke kelas tiga. Sampai sejauh itu aku belum mengenal dirinya secara utuh, ia penuh misteri dan selalu membuatku bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana sebenarnya kehidupan Melody secara utuh, aku belum mampu menjangkaunya. Akhirnya ketika ia naik kekelas II, kebetulan juga aku sebagai wali kelasnya. Sebagai wali kelas aku harus berusaha mengetahui latar belakang kehidupan dan keluarga muridku masing-masing. Termasuk juga latar belakang kehidupan Melody siswiku yang selalu berada di dunianya sendiri. Terkuak juga akhirnya siapa Melody sebenarnya, itu kuketahui dari Ibu Pita. Beliau bercerita tanpa kuminta dan memang aku tidak pernah mendesak rekan-rekan guru agar bercerita siapa Melody.

Dari cerita Ibu Pita, kuketahui bahwa Melody terlahir dari keluarga yang tidak utuh, keluarga yang brokenhome. Orangtuanya berpisah ketika Melody berusia 40 hari, tragis dan menyedihkan di usianya yang baru 40 hari, ia sudah terpisah dari orangtuanya. Yang mengasuhnya waktu itu adalah Neneknya, sampai saat ia remaja ia tinggal dengan Nenek dan Tantenya. Tapi sungguh ia tidak pernah kehilangan kasihsayang kedua orangtuanya. Karena kedua orangtuanya selalu melimpahi dirinya kasihsayang, mereka berlomba-lomba mencurahkan kasihsayangnya kepada Melody. Walau orangtuanya masing-masing sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri. Melody tegar, Melody kuat dan ia tidak pernah menangis atau menyesali apa yang sudah dialaminya. Kekuatan, ketabahan dan kesabaran yang kumiliki, tidaklah seperti yang dimiliki Melody. Aku sendiri heran kenapa ia tidak pernah menceritakan masalalunya itu padaku. Padahal sudah hampir 2 tahun aku mengenalnya, memang sejak Melody naik ke kelas II baru ia benar-benar dekat denganku. Melody sudah kuanggap seperti anakku sendiri, dan ia juga mengakui bahwa dirinya mendapatkan sosok seorang ibu, yaitu aku.

Waktu kenaikan kelas, yaitu Melody naik ke kelas III, diharuskan kepada semua murid bahwa yang mengambil rapor adalah orangtua, tidak boleh diwakilkan. Ketika pengambilan rapor Melody, datanglah ayah dan ibunya, aku belum bertemu mereka sebelumnya. Dengan spontan dan sedikit mengejutkan diriku, tiba ayah Melody saat kupanggil wali yang harus mengambil rapor Melody, berkata kepadaku,”maaf saya ayah tirinya Melody, saya akan mengambil rapor Melody.” Padahal aku sendiri tidak menanyakan Bapak itu siapanya Melody, dari mulut beliau mengalirlah cerita tentang Melody. Cerita tentang kebanggaannya terhadap Melody, perhatiannya, juga kasihsayangnya terhadap Melody. Dalam hati aku bersyukur karena dia menganggap Melody seperti anak kandungnya sendiri. Ibunya Melody juga terlihat bangga, karena Melody anak yang cerdas, walau mereka sadar bahwa mereka telah merusak dengan utuh kebahagiaan anaknya. Sebesar apapun kasihsayang dan perhatian mereka terhadap Melody tidaklah bisa mengembalikan kebahagiaan Melody yang sempat terengut ketika ia masih bocah merah yang tak pernah mengerti apa yang telah terjadi.

Sejak kejadian dan informasi yang aku dapatkan itu, barulah aku berani bertanya langsung pada Melody. Awalnya karena aku tidak tahu ternyata latar belakang kehidupan Melody sampai seperti itu. Saat itu Melody sedang berbicara denganku di ruang guru. Melody memang jarang berkumpul dengan teman-temannya, ia merasa lebih enjoy jika bersamaku atau dengan Andrew teman akrabnya di kelas yang sudah dianggapnya seperti saudaranya sendiri. Sebelum mengawali pembicaraan aku menatap Melody sesaat, ia heran dan langsung bertanya padaku. “Kenapa Ibu, ada yang salah denganku, atau ada yang ingin Ibu bicarakan?”. Aku menghela napas dan akhirnya berkata,”kenapa Melody tidak pernah cerita sama Ibu tentang masa lalumu, Melody percayakan sama Ibu.” Melody terdiam sesaat, matanya berlinang dan berkaca-kaca, aku sempat menyesali sikapku padanya. Kami akhirnya sama-sama terdiam, berbicara dengan pikiran-pikiran kami sendiri.

Aku bertekad tidak akan memaksa Melody untuk menceritakan siapa dirinya sebenarnya. Biarlah waktu yang menjawab semuanya itu, biarlah Melody dengan sikap dan keputusannya jika memang ia tidak mau berbagi denganku. Ia dekat denganku dan aku menyayanginya itu sudah lebih dari cukup bagiku. Namun Melody akhirnya cerita juga siapa dirinya dan bagaimana latar belakang kehidupannya. Sama seperti yang kudapatkan informasinya dari Ibu Pitaloka. Dan Melodypun berkata setelah mengakhiri ceritanya,”Ibu, masalah di rumahkan tidak mesti dan harus dibawa ke sekolah, masa laluku adalah tetap menjadi masa lalu.” “Aku tidak mau terbelenggu dengan masalalu yang dapat membuat langkahku terbatas, aku tidak mau terpuruk dengan kehidupan getirku.” “Ibu, Melody harus menjadi orang yang tegar dan berusaha menjadi orang yang bisa memilah-milah masalah sesuai situasi dan kondisinya”.

Ya, kamu benar Melody, kita tidak harus berjalan mundur kebelakang, karena masih ada hari ini dan hari esok yang akan kita jalani. Kita tidak mesti membelenggu dirikita dengan masalalu yang membuat kita bisa hancur. Mengalirlah, jalanilah kehidupan ini dengan keyakinan pada sang pencipta-Mu, bahwa Ia tidak pernah lalai pada hamba-hamba-Nya. Betapa Allah sangat menyayangimu Melody, Ia mempertemukanmu dengan orang-orang yang begitu perhatian dan sayang padamu. Percayakah dirimu Melody, bahwa banyak orang-orang disekelilingmu yang sangat menyayangimu dengan tulus tanpa pamrih. Ada aku Ibumu yang sampai detik ini tetap mengasihimu. Yang banyak belajar darimu tentang bagaimana mengelola sikap.

Aku mendampingi Melody sampai dia kelas III, dia berada di kelas III IPA dan waktu di kelas III barulah aku menjadi wali kelasnya. Jadi itu membuatku lebih leluasa menggali informasi tentang Melody. Karena sebagai wali kelas, aku harus tahu latar belakang masing-masing siswaku dan tak terkecuali Melody. Ada hal yang selalu membuatku terharu dan terkadang agak membuatku tidak nyaman tentang kebiasaan Melody. Jika aku lagi ada jadwal mengajar di kelas III IPS, dan kebetulan kelas Melody lagi ada jam kosong, karena gurunya berhalangan hadir. Melody selalu ikut denganku masuk di kelas III IPS, ia duduk dengan santainya seolah-olah lagi belajar. Teman-temannya suka nyeletuk kenapa Melody masuk kelas III IPS, bukankah ia anak kelas III IPA. Aku coba meluruskan dengan suasana hati agak tidak nyaman, karena khawatir siswa lain mengatakan bahwa Melody anak emas, anak kesayangan Ibu Indraswari. Sungguh benar-benar situasi yang tidak enak. Tapi aku bangga pada Melody, karena ia lebih memilih mendengarkan aku mengajar dibandingkan ngobrol hal yang tidak penting dengan teman-temannya. Secara tidak langsung ia juga mendapatkan ilmu baru.

Kebiasaan itu bukan hanya sekali dilakukan oleh Melody, tapi berkali-kali. Disatu sisi aku merasa tenang karena Melody merasa bahagia jika bersamaku yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Kebiasaan itu tidak hanya dilakukan pada jam pelajaran yang memang lagi kosong, tapi saat jam istirahat ia suka ngobrol denganku dibandingkan dengan temannya yang lain. Memang kuakui Melody agak menutup diri dengan teman-temannya yang lain. Tapi teman-temannya sudah sangat memahami sikap dan kebiasaan Melody. Bukan artinya Melody anak yang sombong, sama sekali tidak, ia tetap berteman dengan murid lainnya, terutama Andrew.

Jika ada waktu luang Melody selalu menyempatkan waktu main ke rumah, mengunjungi diriku ibu gurunya, yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri. Terimakasih Melody, karena memang dirimu tak pernah melupakan ibu, sampai saat ini, sampai dirimu berkeluarga dan sudah memiliki anak. Ternyata sikapmu tidak berubah, kau tetap Melodyku yang selalu membuatku terharu sekaligus juga bangga. Kita tetap menjalin silaturahmi dengan baik. Ibu selalu berdoa agar Allah selalu menjagamu, memberimu yang terbaik, dan insya Allah ibu yakin kau sanggup menghadapi badai yang selalu menghadangmu. Dan ibu tahu bahwa kau perlu lentera dan alas kaki, agar dirimu kuat melangkah.

Percayalah Melody, ada Allah yang selalu melindungimu, menguatkanmu, menjagamu, yang tak pernah sedikitpun meninggalkanmu, yang mencintaimu tanpa batas, ada ibu yang insya Allah selalu akan hadir mengiringi langkah-langkahmu. Hidup memang penuh perjuangan, dan kau telah membuktikan semua itu, kau terus melangkah walau kehidupanmu tidak seperti kehidupan teman-temanmu yang lain. Salam sayang untuk bidadarimu, permata hatimu, belahan hati dan buah hatimu, semoga ia dapat menyejukkan hati dan matamu. Salam sayang ibu karena Allah semata untukmu Melodyku.

(medio, akhir desember 2008, mengenangmu anakku melody,ketika awal silaturahmi kita, trims telah selalu mengingatku ibumu)

Sumber : Rustinah di http://rustinah.multiply.com

Mengajar dan Belajar dengan Hati



Judul diatas mungkin bagi sebagian kalangan tampak berlebihan, atau mungkin juga dinilai sepele. Namun, paling tidak...lima kata itulah berhasil mengubah kehidupan keseharian saya sebagai dosen – yang semula merupakan hari-hari yang menegangkan, menjadi hari-hari yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Mungkin catatan kecil ini dapat menjadi inspirasi bagi sebagian rekan yang mengalami hal serupa.

Pada saat-saat awal belajar menjadi pengajar, saya berusaha menerapkan prinsip-prinsip dan etika akademik yang pernah saya pelajari. Disiplin pribadi, ketepatan dan semangat dalam pengerjaan setiap tugas, berani menghadapi tantangan (seberat apapun), kesatria (tidak mundur sebelum perang ditempuh), jujur, terbuka terhadap kritik, dan sikap-sikap lain yang mendukung keberhasilan siswa dalam hidupnya.

Hingga sewindu pertama, strategi tersebut relatif masih ampuh; meskipun saya dinilai sebagai dosen yang galak. Siswa yang terlambat hadir atau terlambat mengumpulkan tugas, sudah pasti akan mendapatkan sanksi. Siswa yang ikut asistensi tanpa memperlihatkan kemajuan sesuai dengan yang diminta, tidak lepas dari teguran (tentu saja ditujukan untuk menyemangati yang bersangkutan). Paling tidak, hingga saat itu prinsip-prinsip tersebut menurut saya berhasil mendorong sebagian besar mahasiswa lulus dengan hasil yang baik (bahkan sangat baik). Tentu saja, sebagian besar mahasiswa baru menyadari mereka lulus.

Sejak sekitar tahun 2000an, saya merasakan perubahan karakter mahasiswa secara mendasar. Dalam rapat-rapat staf di prodi pun, muncul berbagai keluhan dari hampir seluruh dosen. Sebagian besar menggarisbawahi kondisi mahasiswa yang kurang disiplin, daya juang yang lemah, tidak tekun, tidak dapat mengelola diri dan waktu, serta sikap lain yang diperlukan bagi siswa yang mandiri.

Sebagian besar prinsip yang saya yakini sejak kecil dan telah diterapkan selama sekitar 10 tahun, mulai saat itu tampak tidak berlaku. Berbagai peristiwa datang silih berganti yang justru menjadi bumerang. Saya terlihat menjadi berlebihan, dinilai bersikap terlalu keras, cerewet, dan mencapaipuncaknya ketika saya merasa tidak match lagi dengan situasi ini. 4 (empat) kali saya berpikir untuk mengundurkan diri dari ITB...

Kegalauan hati selama lebih dari sewindu, pada suatu ketika berubah HANYA dengan mengubah sebuah premis
Semula saya selalu berpikir; mahasiswa SEHARUSNYA sudah memiliki sikap ini dan itu, saat ini saya melihat fakta APA ADANYA dan berusaha membawa mereka pada sikap-sikap yang tetap saya yakini sebagai sebuah sikap yang perlu ditanamkan (seperti telah dijelaskan dimuka). Saya menyadari, bahwa situasi global dunia yang sudah berubah, sangat berpengaruh terhadap alam bawah sadar mereka (juga kita). Dunia yang serba instan, serba cepat, serba di permukaan, serta virtual, dan bahkan mungkin suatu ketika akan melewati batas-batas ambangnya...

Saat itu, hati sya yang semula MEMPERTANYAKAN, baru sadar... dan berubah menjadi perasaan iba dengan situasi yang dialami mahasiswa saat ini. Situasi dan keseharian yang mereka jalani jauh lebih kompleks. Kehidupan keseharian yang mereka hadapi juga pasti sudah membuat mereka bingung jika tanpa bimbingan. Kita harus berempati terlebih dahulu terhadap kondisi mereka (yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya) dan berusaha menjadi pendengar yang baik sert memberikan ruang lebih banyak untuk kesabaran.

Pernahkah kita menduga, satu kritik pedas bisa membuat mahasiswa pindah prodi bahkan mengundurkan diri dari ITB? Pernahkah terbyangkan, perasaan stress karena ketika SMU selalu menjadi juara kelas dan setelah di ITB menjadi orang yang “biasa” - membuat seorang siswa menggunduli rambutnya? Yang lebih spektakuler adalah mahasiswa yang nekat hendak memotong nadinya karena tidak athu lagi untuk tujuan apa dia berada di dunia ini.

Namun sebaliknya, kita mungkin tidak juga menyangka bahwa suatu pertemuan singkat yang bermakna mampu membuat mahasiswa “lolos” dari jeratan putus sekolah. Kita bahkan mungkin tidak menyadari bahwa sebuah sapaan lembut membuat ketakutan mahasiswa lenyap saat sidang akhir yang menegangkan. Sebuah pujian bagi mahasiswa yang sedang berada di titik nadir, mungkin akan dikenang selama hidupnya. Sungguh indah dan betapa berartinya tindak tanduk dan ucapan..........sekecil apapun.

Setelah ini diterapkan, hari-hari yang semula menegangkan, kini menjadi jauh lebih dapat dinikmati. Saya justru banyak belajar dari mereka; bukan tentang substansi ilmu Arsitektur-nya, melainkan ilmu tentang kehidupan masa kini yang sudah jauh lebih kompleks...

Ketika pikiran dan hati kita MAU BERUBAH, informasi datang silih berganti; termasuk hadirnya pengetahuan-pengetahuan tentang LCE, brain-based-learning, juga film Laskar Pelangi yang menekankan pentingnya mengajar (dan belajar) dengan hati. Karena (mungkin) memang inilah jalan kita untuk berhikmat kepada semesta...


To Teach is To Hope
Mary Shaughnessy

To teach is to hope...
That one day a child will know
The meaning of confindence
And be able to touch other lives...

To teach is to pray...
That these newly brave souls will use their talents
To better the world,
instead of just themselves.

To teach is to feel...
That not all the hurts of those in our care
can be healed
But they can be soothed


Dhian D. (ITB lectures, awal februari 2010, tulisan ini mengingatkan diriku ketika menjadi seorang guru, bahwa mengajar dgn hati dan semata2 krn-Nya, subhanallah hasilnya begitu menakjubkan, trims buat ibu Dhian atas pencerahannya smg bermanfaat utk para pengajar

Source : http://rustinah.multiply.com

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes