Tampilkan postingan dengan label pelatihan guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelatihan guru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2009

GURU BUKAN BURUH

He… he….apalagi lagi ni….begini pembaca, kita sering melihat dan mendengar ada guru, dengan tugasnya yang begitu berat tapi gajinya hanya 100 ribu perbulan, ada yang 200 ribu perbulan. Wooh…. nggak salah ta…benar pembaca. Ribuan dan bahkan ratusan ribu guru yang bernasib seperti itu, padahal tugas mereka itu adalah mengisi bermacam-macam software kepada anak didiknya, software agama, software prilaku, software pengetahuan, dan lainnya. Agar kelak dengan software itu anak didik tersebut tumbuh menjadi manusia-manusia yang beradab, berbudi dan berpengetahuan.



Terus apa kaitannya dengan buruh, begini pembaca…. hari ini nih…saya dengar dari berita di TV, bahwa tanggal sekarang ini diperingati sebagai hari buruh sedunia atau istilah may day. Saya ingin menyadarkan kepada semua pihak, kalau (mohon maaf) buruh saja yang memproduksi barang, yang mana kalau salah, masih bisa diperbaiki dengan cepat, misalnya sang buruh memproduksi kursi, setelah itu, diketahui hasilnya ada yang tidak sesuai dengan ukuran. So…..kesalahan itu bagi sang buruh, sangat mudah untuk diatasi, ia pun ambil meteran lagi, dan segera memperbaikinya. Selesailah pekerjaan itu dengan cepat. Mereka punya standart upah tertentu, yaitu UMR (Upah Minimum Regional), mempunyai undang-undang perburuan, mempunyai organisasi yang juga dilindungi undang-undang, segala permasalahan buruh ada lembaga arbitrase perburuhan, ada partai politik buruh, dan lainnya. Singkat kata kalau kita bisa bilang, jangan main-main dengan buruh.

Bandingkan dengan guru, guru mencetak siswa menjadi manusia yang berakhlaq, guru membimbing siswa agar menjadi manusia yang berpengetahuan, ia memberi contoh dengan tauladan, ia membimbing dan memperhatikan siswanya dengan penuh perhatian dan kesabarannya, ia berharap siswanya kelak lebih pandai, lebih kreatif, lebih sopan santun darinya. Ia juga sadar kalau ia salah dan keliru dalam membimbing, maka kesalahan itu akan dibawa dan dipraktekkan anak sampai besarnya. Misalnya guru salah dalam mengajar siswa dalam praktek shalat, maka ilmu itu akan dibawa anak sampai dewasanya. Bahkan pernah ada seorang cucu yang bertanya pada kakeknya tentang cara membaca al-fatihah. Ia bilang. “kok seperti itu sih kek, alfatihahnya”. Sang kakek pun menjawab.” Ya seperti itu guru kakek dulu mengajari kakek”. Nah percaya kan. Kalau guru keliru atau salah dalam pengasuhan atau pembimbingan, maka untuk merubahnya itu sa…ngat sulit, bisa si..h tapi butuh waktu lama.

Anehnya dengan pekerjaan seperti itu guru tidak punya standar minimal upah atau UMR seperti para buruh, Undang-undang tentang guru itupun baru tahun 2005, itupun baru rancangan dan belum ada landasan operasionalnya saat itu, partai tentang guru tidak ada, lembaga arbitrase guru juga tidak ada. Para guru hanya mengandalkan belas kasihan para penguasa. Kalau penguasa perhatian sama pendidikan dan guru ya Alhamdulillah, kalau tidak ya inna lillah gitu saja. Istilahnya guru Indonesia itu semuanya ikhlas, ada ya…. di terima, gaji naik ya….. disyukuri, kurang ya…… bersyabar. Saya sering diingatkan ayah saya almarhum, ayah saya yang guru , dengan penghasilan yang kecil itu, ia bilang. “ jangan dilihat uangnya, tapi nilai barakahnya itu lho, ia pun meneruskan mana ada sih anak guru (yang ikhlas dalam mengajar, dan bersyukur atas semua nikmat) tidak makan, mati kelaparan, bodoh, terbelakang dan seterusnya”. Saya pun berfikir, betul juga ya, kalau saya melihat teman-teman saya yang ayahnya dulu guru, sekarang mereka hadir ke dunia ini dengan menebar kemanfaatan, mereka banyak yang berhasil dalam hidup ini dan berbahagia dengan keuarganya.

Di akhir tulisan ini , akhirnya saya bisa menyimpulkan. Memang guru tidak sama dengan buruh, ada sebuah something of miracle (keajaiban) yang diberikan oleh Allah, ingatlah firman Allah, bahwa Dia akan mengangkat derajat orang –orang yang berilmu pengetahuan. Mungkin ini sebab keajaibannya, bahwa guru tergolong sebagai orang berpengetahuan, sehingga pantaslah ia dinaikkan derajat kehidupannya, derajat anak-anaknya, dan derajat murid-muridnya. Sehingga mari kita kerjakan tugas kita sebagai guru ini dengan professional dan tanggung-jawab, insya Alllah gusti Allah mboten sare….(Allah tidak tidur kok). Cukup ya tulisan saya ini. Bagaimana pendapat anda?


Rabu, 29 April 2009

TRIK MENGETAHUI PELATIHAN YANG ABAL-ABAL

Pembaca yang budiman.Saya baru tahu kata abal-abal dari TV One. Ketika TV One memberitakan tentang pabrik jamu abal-abal pada hari Rabu,29 April 2009 dalam acara telusur, ternyata abal-abal itu sama artinya dengan palsu, bohong-bohongan dan seterusnya. Nah, sekarang kita kembali ke topik awal ah....yaitu trik mengetahui Pelatihan abal-abal. Apa ada ? ada-ada...saja.. ya dunia ini.


Pembaca yang setia, sama dengan pribahasa "ada gula ada semut" artinya aji mumpung, era sekarang di dunia pendidikan ini kan, semua guru di Indonesia ini pada lomba mencari sertifikat pelatihan sebanyak mungkin, nah itu kedengaran para panitia abal-abal...ee.... panitia pelatihan abal-abal itu tu....singkat cerita, mereka menangkap peluang ini, dan selanjutnya mengadakan pelatihan guru seadanya.

Seadanya bagaimana? ya... topik seadanya, isi pelatihan ya seadanya...tokoh yang diundang juga seadanya. yang penting mereka mendapat untung sebanyak-banyaknya dengan cara mengundang guru sebanyak-banyaknya dengan iming-iming sertifikat tingkat regional, tingkat nasional, bahkan tingkat internasional. woooh hebat ya...tingkat internasional, meskipun tokoh internasional itu tidak paham banget tentang pendidikan, pokoknya yang penting bule...bule...bule...meskipun bule tersebut sebenarnya bukan pakar pendidikan, yang paling penting dari luar negeri.

Langsung aja ah..jangan terlalu banyak pak redaktur ceritanya. ntar ndak sabar bagaimana trik selanjutnya... OK

Trik mengetahui sebuah pelatihan/seminar/workshop itu abal-abal adalah

1. Lihat dulu siapa panitianya
Sudah berpengalaman mengadakan pelatihankah? atau masih yunior dan tidak jelas siapa mereka. Contoh : kalau di jakarta itu ada nama PRO VISI, di surabaya ada nama ISI NETWORK. KPI. Klub Guru dll

2. Lihat topik dan materinya.

Melihat topik dan materi sebuah pelatihan adalah sebuah keharusan, so, lihat topik dan materi yang dibahas, kalau topik dan materinya asal-asalan, hati-hati lah.

3. Lihat Pembicara atau speakernya
Lihat kapasitas dan keahlian pembicara tersebut, bertanyalah kepada siapa yang anda kenal, tentang kapasitas dari pembicara tersebut. anda juga bisa lihat dari paman google atau pakde yahoo.

OK. ya pembaca. sampai disini dulu,insya allah kita sambung lagi di lain hari. yang paling penting. Hati-hatilah dalam mengikuti pelatihan, daripada rugi, sudah mendaftar namun kenyataannya tidak sesuai isinya. Bagaimana pendapat anda?


Minggu, 26 April 2009

4 Kelompok Guru Dalam Mengikuti Pelatihan

Seringkali kita mendengar sertivikasi guru, dimana salah satu syarat dalam sertivikasi itu adalah berapa sertivikat pelatihan yang dimiliki guru, hal itu menandakan bahwa guru tersebut aktif dalam mengupgrade dirinya demi siswanya. Namun sayang seribu sayang, kehadiran guru dalam mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut,tidak diiringi dengan jiwa dan perasaan yang ikhlas, bahkan sikap siap menerima ilmu dan wawasan baru itu. Nah selanjutnya, mari kita simak pengamatan saya yang sudah 3 kali menjadi ketua panitia pelatihan guru. Yang pertama, di bulan Desember 2008 bertempat di DEPAG JATIM "THE ART OF TEACHING", kedua, di bulan Maret 2009 bertempat di Kebun Kota Resto "CLASSROOM STRATEGIES", ketiga baru kemarin Ahad, tanggal 26 April 2009. "PARENTING EDUCATION" dengan tema menjadi orang tua dan guru motivator. Bagaimana pengamatan saya. berikut di bawah ini :

4 (Empat) Kelompok Guru dalam mengikuti Pelatihan :

Pertama, GURU BODOH , tidak datang ke pelatihan tapi minta sertivikat. Ciri-cirinya: (1) mereka daftar dan membayar biaya ke panitia di pagi harinya, (2) pada saat pelatihan tidak datang, menjelang 30 menit pelatihan berakhir, dia datang dengan macam-macam alasan dan minta sertivikat. amit-amit...

Kedua, GURU CURANG, niat datang ke pelatihan hanya SEKEDAR CARI SERTIVIKAT.Ciri-cirinya:(1)datang terlambat, dan pulang duluan dengan berbagai alasan (2)ijin keluar sebentar dengan setumpuk alasan, mau selesai kembali lagi.

Ketiga, GURU YANG RUGI, niat tidak tulus dan tidak jelas saat mengikuti pelatihan, dia terpaksa datang karena dipaksa oleh kepala sekolahnya, ia mau datang karena biaya pelatihan telah dibayar oleh sekolahnya, dan yang terakhir, ia juga butuh sertivikat, tapi kok...lama ya. ciri-cirinya: (1) datang terlambat,(2) tidak semangat ketika mengikutinya, (3) loyo, mata melihat, pikiran melayang, (4) keluar-masuk ruangan, (5) sering-sering lihat jam dan lainnya.

Keempat. GURU YANG PROFESIONAL, niatnya hanya mencari tambahan ilmu dan wawasan, ia sadar bagaikan sebuah kendi, yang isinya dikeluarkan terus setiap hari, maka isinya akan habis, begitu juga dirinya, kalau ilmunya disampaikan terus ke anak didiknya, maka lama kelamaan juga akan habis, sehingga ia sadar, bahwa tugasnya selain mengajar juga harus belajar. mengenai sertivikat itu hanya efek dan akibat. yang sudah sepantasnya ia terima. Ciri-cirinya :(1) datang tepat waktu, (2) antusias dan semangat, dan (3) aktif dalam pembelajaran di saat pelatihan tersebut.

Bagaimana pendapat anda? terima kasih

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes