Tampilkan postingan dengan label Membaca dan Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Membaca dan Menulis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 April 2010

Menulis dengan Hati


Seringkali, kita merasa tuliskan sering kaku dan tidak bernyawa. Tidak apa-apa, saya pun juga terkadang begitu. Ini adalah proses bagi kematangan seorang penulis. Hal ini terjadi karena kita memang tidak memberi nyawa pada tulisan kita tersebut. Lalu... Muncul pertanyaan. Nyawa seperti apa yang dimaksud dalam tulisan? Bagaimana cara memberika nyawa pada tulisan?

Coba saya tanya dulu. Apakah anda menulis sekaligus mengedit? Atau menulis dulu baru mengedit? Jika jawaban anda adalah pada pertanyaan pertama, inilah salah satu penyebabnya. Berbagai pakar menulis mengatakan bahwa menulis sebaiknya tidak disandingkan dengan mengedit. Karena ada dua karakter berbeda dari keduanya. Saat kita menulis, otak kanan yang kreatif bekerja, tetapi ketika mengedit otak kiri yang kritis bekerja. Ketika mereka bekerja bersamaan, maka ketidakmaksimalanlah yang akan terjadi. Itulah mengapa dalam slogan blog saya ini, saya mengucapkan kreatif dulu baru kritis.

Terkadang ide-ide hebat anda itu mengalir di tengah-tengan aliran ide anda. Jadi, ketika itu diputus sementara oleh otak kiri yang ingin mengedit, yah... buyar deh ide itu. Termasuk dengan nyawanya. Karena nyawa tulisan itu ada di keseluruhan ide di tulisan tersebut. Ketika kita memutus-mutusnya, maka nyawa itu pun menjadi tidak utuh lagi.

Nah, itu kalau dari pakar menulis. Kalau dari saya, penyebabnya adalah kita menulis hanya dengan pikiran, tidak dengan hati. Padahal hati adalah tempat di mana suatu kejernihan dan kemurnian berada. Hati pula yang sanggup menggerakkan ide-ide dalam inkubator anda bangkit dan muncul ke permukaan.

Saya beri contoh. Ketika anda sedang sedih, anda membuat sebuah cerpen yang menceritakan kesedihan. Di saat lain, saat anda sedang senang mungkin, anda membuat cerpen dengan tema sama. Yang mana yang terasa lebih bernyawa? Jelas yang pertama. Ya! Karena ada hati yang menggerakkan di sana. Hati membuat ide-ide anda bisa tervebalisasi dengan baik secara alamiah. Hati membuat kata-kata yang anda tuliskan menjadi lebih berasa dan bernyawa.

Bahkan seseorang pernah berkata pada saya, tulislah apa yang kau rasakan, maka tulisan itu pun akan sampai pada perasaan yang membaca.

Oke... Tunggu apa lagi? Pejamkan mata anda, biarkan hati anda bicara, alirkan itu ke seluruh nadi anda, dan tulislah apa yang anda rasakan.

Senin, 19 April 2010

Kemana Pelajaran Mengarang?


Itulah pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya ketika saya sedang bernostalgia dengan masa SD saya. Saya ingat sekali, setiap habis libur panjang, saya selalu diberikan tugas itu. Membuat sebuah tulisan tentang aktivitas yang saya jalani selagi libur yang entah mengapa pada saat itu disebut mengarang.

Dahulu saya cukup takut untuk melakukannya. Karena waktu libur saya biasanya dihabiskan untuk aktivitas-aktivitas yang kurang berguna. Tetapi ketika kini saya telah SMA dan sebentar lagi akan kuliah, saya merasa ada efek positif yang benar-benar membekas, bahkan menjadi pintu masuk bagi perkembangan minat saya selanjutnya. Ya! Itulah mengarang, membahasakan visual menjadi verbal.

Saya menjadi lebih bisa mengungkapkan sesuatu, menyampaikan peristiwa, menceritakan pengalaman, dll. Selain itu, tugas mengarang ini pula yang membuat saya semakin percaya diri untuk mengejar mimpi dan berkarier di bidang penulisan.

Tetapi mengapa, sejak saat itu saya sudah tidak pernah lagi merasakannya, baik di SMP maupun di SMA. Bahkan adik saya yang sekarang duduk di kelas 4 SD pun sepertinya tidak pernah diberikan tugas ini lagi. Lalu… Kemana pelajaran mengarang?

Sebagai seorang pelajar saya tidak punya jawaban yang cukup memuaskan untuk pertanyaan ini. Meski begitu, saya ingin sekali agar setiap orang khususnya para penuntut ilmu (baca:pelajar) tetap mengarang meski tak lagi dibebankan. Ada beberapa alasan mengapa mengarang menjadi sangat penting khususnya bagi pelajar:
  • Mengarang membuat pelajar terbiasa berkata melalui proses berpikir, tidak hanya spontan seperti saat mengobrol biasa
  • Mengarang membuat pelajar berani beropini dan berekspresi tanpa perasaan-perasaan penahan seperti takut dan malu
  • Mengarang membuat pelajar berkata lebih tersistematis baik lewat lisan maupun tulisan
  • Mengarang membuat siswa lebih tertarik pada dunia penulisan dan aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan dengannya seperti membaca
  • Mengarang membuat siswa lebih peka terhadap hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya
  • Mengarang menjadi saluran perjuangan paling mudah bagi pelajar yang masih terbatas akses pergaulannya
Kadar kepentingan yang sudah sangat tinggi pada kasus ini, saya yakin akan membuat setiap pelajar yang menyadarinya akan lekas bergerak untuk memulai kembali aktivitas mengarangnya. Menceritakan pengalaman, menyampaikan suara hati, menggambarkan impian, dll. Ya! Semua itu bisa anda lakukan dengan mengarang.

Selain itu, kini teknologi telah semakin berkembang. Anda tidak perlu lagi repot-repot mengirim karangan anda ke media. Karena anda bisa punya media sendiri: itulah blog. Jadi, kini anda tak harus menunggu tugas mengarang dari guru atau diterimanya karangan anda di media. Karena anda bisa menjadi... seorang blogger.

Anda ingat perkataan saya di poster Catatan Dunia Pendidikan Indonesia? “Sudah saatnya blogging menjadi budaya pelajar Indonesia.

Salam Kreatif - Kritis,
Pratama

Sabtu, 27 Februari 2010

5 Kiat Mudah Membiasakan Diri untuk Membaca


Salah satu masalah fundamental yang menjadi penghambat kemajuan bangsa ini adalah rendahnya kemampuan literasi masyarakatnya. Terbukti dari masih tingginya tingkat buta aksara dan masih belum membudayanya budaya membaca dan menulis di masyarakat yang sudah melek aksara. Padahal dari segi ide dan kreativitas bangsa ini sangatlah potensial. Hanya sayang kita tidak punya budaya literasi untuk menunjangnya.

Oleh karena itu, kita harus mulai membiasakan diri untuk membaca. Karena kita harus mengonsumsi informasi dulu (membaca) sebelum memproduksi informasi (menulis). Tapi realitas menunjukkan sebagian masyarakat bahkan para pelajar malah mengaku kesulitan untuk membiasakan diri untuk membaca. Alasannya beragam, ada yang bilang membaca itu membosankanlah, takut dibilang kutu buku, bukan tipe yang suka baca, dan berbagai alasan ‘penghambat kemajuan’ lainnya.

Stop! Mulai detik ini hilangkanlah semua stigma itu. Karena budaya membaca adalah salah satu penunjang kemajuan bangsa ini. Oleh sebab itu, kita perlu budaya itu. Jika, anda masih kesulitan, ikutilah sedikit kiat dari pengalaman saya ini:

1. Mulailah dari yang Anda Suka
Salah satu kesalahan terbesar dari seseorang yang ingin mulai membiasakan diri untuk membaca adalah image buku dan bacaan yang sebenarnya ia buat sendiri: berat dan membosankan. Padahal banyak sekali jenis buku dengan karakteristik yang beragam. Saya dulu memulainya dengan membaca cerita fiksi seperti cerpen dan novel, berlanjut ke buku-buku praktis (yang pake kata kunci: cara, langkah, tips, kiat, dll), lalu berlanjut lagi ke buku motivasi dan pengembangan diri, hingga sekarang saya sudah mulai baca buku-buku politik dan sejarah. Satu hal yang pasti: sesuaikanlah dengan minat anda. Agar niat untuk membaca tidak hanya berasal dari pikiran, tetapi juga dari hati.

2. Sediakan Waktu Ternyaman Anda
Selanjutnya anda harus menyediakan waktu ternyaman anda. Karena seringkali seseorang malas untuk membaca jika waktunya kurang tepat. Biasanya saya membaca saat jam pelajaran kosong saat sekolah. Karena biasanya memang tidak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan saat itu. Selain itu, saya juga cukup nyaman membaca saat perjalanan, beberapa saat sebelum tidur, dan saat di perpustakaan. Pakailah waktu-waktu yang biasa anda habiskan untuk bengong dan menunggu dengan membaca!

3. Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu
Nah... Untuk semakin memicu hasrat anda untuk membaca, tumbuhkanlah rasa ingin tahu. Tanyakan setiap hal yang ada di sekitar anda dan carilah jawabannya di buku. Atau anda juga bisa melihat-lihat buku di toko atau perpustakaan dan cobalah pertanyakan, “Apasih isi buku ini?” Biasanya rasa ingin tahu dan penasaran sangat efektif untuk menggerakkan diri ini untuk melakukan sesuatu.

4. Minta Seseorang Merekomendasikan Buku kepada Anda
Nah... Ini juga salah satu cari yang efektif nih untuk lebih ‘memaksa’ diri ini untuk segera mulai membaca. Karena buku yang direkomendasikan biasanya punya nilai lebih yang akan membuat kita lebih semangat membacanya. Tanyakanlah pada teman anda, “Eh, punya buku bagus gak? Minjem dong?”

5. Membacalah Seperlunya Saja
Selagi masih belajar membacalah seperlunya saja. Tak usah berlebihan. Keperluan orang itu tergantung dari hasratnya masing-masing untuk memperoleh informasi. Makin perlu anda terhadap informasi, maka sudah pasti kuantitas dan kualitas membaca anda pun pasti akan makin banyak dan baik.

Membaca adalah kebutuhan bagi sebagian orang. Sebagian orang tersebut adalah orang-orang yang menguasai jalannya dunia. Mengapa? Karena dia menguasai informasi. Sekarang saya tanya, adakah orang sukses yang tidak memiliki budaya membaca?

Salam Kreatif – Kritis,
Pratama

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes