Tampilkan postingan dengan label Prestasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prestasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

3 Mahasiswa RI Borong Medali dari Mercy

Stuttgart - Di tengah kisruh antar-penegak hukum di tanah air, kabar bahagia justru datang dari Jerman. Tiga mahasiswa Indonesia meraih medali dari Daimler AG, produsen Mercedes Benz, dan UNESCO atas inovasi mereka yang cemerlang di bidang teknik.

Penghargaan ini adalah Mondialogo Engineering Award. Daimler AG bersama UNESCO mencari mahasiswa teknik berprestasi di seluruh dunia untuk berinovasi mengentaskan kemiskinan dan mencegah perubahan iklim. Tidak tanggung-tanggung, ketiga anak muda Indonesia ini memborong medali emas sampai perunggu.

Benny, mahasiswa UGM sukses meraih medali emas lewat proyek Zero Waste Production System in Small/Medium Cluster. Benny yang bekerja sama dengan Awqi Gibran, mahasiswa asal Chalmer University of Technology Gothenberg, Swedia, merebut hati dewan juri dengan menciptakan sumber energi alternatif dari limbah industri dan biologi.

Sementara, Fengky Satria Yorestra asal Universitas Andalas meraih medali perak lewat proyek Evacuation Infrastructure from Tsunami for Coastal Communities in West Sumatera. Medali perunggu sukses direbut Nanang Sugianto dari Universitas Udayana lewat proyek Development of a Transportable Bioreactor for Anaerobic Treatment.

Indonesia meraih medali bersama mahasiswa India, Afrika Selatan, Canada, Brazil dan lain-lain. Dalam rilis KBRI Berlin kepada detikcom, Kamis (12/11/2009), penghargaan ini diberikan langsung oleh bos Daimler Dr. Dieter Zetsche didampingi para dubes negara bersangkutan. Pada 9 November 2009 lalu, pembalap F1 Lewis Hamilton juga mendampingi para juara menerima penghargaan.

Jumat, 05 November 2010

Guru Inspiratif

Dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen guru yang saya temui. Jumlah guru inspiratif amat terbatas, kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.

Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Sayang, sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan amat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

"Freedom Writers" Karya-karya pembaruan, baik temuan spektakuler keilmuan, produk komersial, maupun gerakan sosial, akan tampak di masyarakat. Namun tak dapat dimungkiri, semua itu berawal dari sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat pada Erin Gruwell, perempuan guru yang ditempatkan di sebuah kelas "bodoh", yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antar geng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan honors students, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum. Erin Gruwell memulai dengan segala kesulitan. Selain katanya "bodoh" dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, saling melecehkan, temperamental, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh. Itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak supernakal tak boleh disekolahkan bersama distinguished scholars. Tetapi Erin Gruwell tak putus asa, ia membuat "kurikulum" sendiri yang bukan berisi aneka ajaran pengetahuan biasa (hard skill), tetapi pengetahuan hidup.

Ia mulai dengan sebuah permainan (line games) dengan menarik sebuah garis merah di lantai, membagi mereka dalam dua kelompok kiri dan kanan. Kalau menjawab "ya" mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan beberapa pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati akibat kekerasan antar geng. Line games menyatukan anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka senasib. Sama-sama waswas, hidup penuh ancaman, curiga kepada kelompok lain dan tak punya masa depan.
Mereka mulai bisa lebih relaks terhadap guru dan teman- temannya serta sepakat saling memperbarui hubungan.

Setelah berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi sampai buku harian. Anak-anak diminta menulis kisah hidupnya, apa saja. Mereka menulis bebas. Tulisan mereka disatukan, dan diberi judul Freedom Writers. Murid-murid berubah, hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang menjadi pelaku perubahan di masyarakat. Kisah guru inspiratif dan perubahan yang dialami anak-anak ini didokumentasikan dalam film Freedom Writers yang dibintangi Hilary Swank. Keluar dari belenggu Apa yang
dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan dasar, tetapi juga pada pendidikan tinggi. Namun, entah mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita kian mengisolasi diri dari dunia luar dan hanya ingin
menghasilkan lulusan yang terbelenggu kurikulum. Yang disebut dosen teladan adalah dosen yang patuh mengikuti kurikulum, menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal tertentu yang sudah ditentukan, meski pembacanya belum tentu memadai, dan rajin mengisi daftar absensi.

Dengarlah protes Kazuo Murakami PhD, pemenang penghargaan Max Planck (1990) yang menulis buku Tuhan dalam Gen Kita: The Devine Message of The DNA (2007). Ia terpaksa hijrah ke AS saat menyaksikan dominasi guru-guru kurikulum di Jepang membangun benteng hierarki. Universitas, katanya, telah menjadi menara gading yang tak peduli dengan apa yang terjadi di luar. Meski belum menonjol di masyarakat, peran guru-guru inspiratif ini amat dibutuhkan. Terlebih anggaran pendidikan kita masih terbatas dan lulusannya banyak yang tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya. Kita tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tetapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal. Ada dua masalah yang harus direnungkan.

Pertama, dosen kurikulum hanya membentuk kompetensi (student's ability), hanya membentuk beberapa orang, untuk kepentingan orang itu sendiri. Guru inspiratif membentuk bukan hanya satu atau sekelompok orang, tetapi ribuan orang. Satu orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat "Aku ingin jadi seperti dia" atau "Aku bisa lebih hebat lagi".

Kedua, ketidakmampuan para pendidik merespons aneka tekanan eksternal dapat membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci kurikulum secara sakral. Tiap upaya yang dilakukan para guru kreatif untuk meremajakannya dianggap ancaman, bahkan sebagai perbuatan tidak bermoral. Masih teringat jelas, kejadian yang menimpa seorang guru inspiratif yang saya kenal. Pada tahun 2005 ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas karya-karyanya di bidang pendidikan. Saat itu, penghargaan serupa dalam setiap bidang juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra. Akan tetapi, tak banyak yang tahu hari-hari itu ia baru saja menerima ancaman pemecatan karena dianggap melanggar "kurikulum". Kesalahannya adalah telah memperbarui metode pengajaran agar murid-murid menjadi lebih artikulatif. Murid senang, tidak berarti guru-guru lain senang. Mereka merasa terganggu oleh penyajian di luar kurikulum dan mereka menuntut agar guru ini ditarik. Semester berikutnya nama dia dicoret dari daftar pengajar. Karier guru besarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan kaca pembesar menguji kebenaran internal.

Kata Jagdish N Sheth, mereka dapat menjadi arogan, terperangkap dengan kompetensi masa lalu, ingin hidupnya nyaman, dan membangun batas-batas kekuasaan teritorial. Perilaku internal itu adalah belenggu inertia, yang disebutnya destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak
dimiliki. Sudah saatnya benteng inertia seperti ini dihapus dengan "memanusiawikan" kurikulum dan memberi ruang lebih memadai bagi guru-guru kreatif.

Sumber : http://migas-indonesia.net


Minggu, 19 September 2010

Mahasiswa Indonesia Raih Gelar Summa Cum Laude di Maroko

Arip Rahman, mahasiswa Indonesia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat Summa Cum Laude usai mempertahankan disertasinya berjudul “Syeikh Ahmad Deedat dan Upayanya Dalam Perdebatan Agama” dalam sidang yang berlangsung selama tiga jam di Auditorium Ahmed Hijji Fak. Adab dan Ilmu Humaniora , Universitas Mohamed V, Rabat, Maroko.
Arip yang juga bekerja sebagai lokal staf KBRI Rabat, Maroko mempertahankan disertasinya di hadapan empat tim penguji yang terdiri dari Ketua Prof. Dr. Mohamed Amin Al Ismaily, Promotor Prof. Dr. Jamal Al Sa’edy dan dua anggota Prof. Dr. Ahmad Al Boukily dan Prof. Dr. Ahmad Al Zeyadi, ujar Sekretaris III / Pelaksana Fungsi Pensosbud, Rahmat Azhari dalam keterangananya kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Rahmat Azhari mengatakan dalam acara sidang tersebut hadir Dubes RI untuk Kerajaan Maroko Tosari Widjaja beserta ibu Mahsusoh Ujiati , keluarga besar KBRI Rabat dan civitas akademika Universitas Mohamed V Rabat serta mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan Maroko.
Dalam disertasi setebal 400-an halaman yang ditulis dalam bahasa Arab, penulis mengemukakan pentingnya mendalami persoalan dialog dan perdebatan agama. Pemilihan Syeikh Ahmad Deedat sebagai tokoh yang dikaji dalam disertasi ini, menurut penulis, adalah karena perjuangan Syeikh dalam dialog antar agama khususnya antara Islam-Kristen layak mendapat apresiasi dan patut diteladani.
Sejak kemunculannya, Islam mempunyai karakteristik sebagai agama dakwah dan dialog yang mempunyai fitrah untuk dapat menembus batas negara, suku, bangsa dan bahasa. Dengan bekal basis teologi yang cukup dalam memahami Islam sebagai agama tauhid dan dakwah diharapkan umat Islam dapat menyampaikan pesan Islam yang Rahmatan lil `Alamin kepada pemeluk agama lainnya.
Disebutkan Syeikh yang mendalami persoalan-persoalan keagamaan dan banyak membaca literatur serta kitab suci agama lain secara otodidak. Oleh karenanya metode yang digunakan mempunyai karakteristik berbeda dari tokoh dialog agama lainnya yaitu cenderung lebih bebas, banyak menggunakan gaya bahasa cerita dan narasi namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah dalam berdialog.
Perjuangan dakwahnya ditujukan untuk melawan gerakan kristenisasi yang sangat gencar dilakukan oleh para misionaris Kristen di kawasan Afrika.

Syeikh Ahmad Deedat lahir di India tahun 1918 dan kemudian menetap di Afrika Selatan sejak umur 9 tahun hingga wafat pada 2005. Beliau adalah pendiri Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan mendapat penghargaan King Faisal Award tahun 1986 atas dedikasinya selama 50 tahun berdakwah dan berdialog dengan umat agama lain.

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes