Tampilkan postingan dengan label Bimbingan Konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bimbingan Konseling. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

Bimbingan Konseling Pada Pendidikan Formal


Eksistensi program bimbingan dan konseling pada pendidikan formal di SMP/Madrasah sudah diakui keberadaannya, hal ini terbukti dari dikeluarkannya Peraturan Mendiknas No. 22 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah dan Peraturan Mendiknas No. 23 tentang Standar Kompetensi Luluusan untuk Satuan Penndidikan Dasar dan Menengah. Untuk mengatur pelaksanaan peraturan tersebut pemerintah mengeluarkan pula Peraturan Mendiknas No. 24 tahun 2006.

Dari ketiga peraturan tersebut memuat beberapa hal penting diantaranya bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang kemudian dipopulerkan dengan istilah KTSP. Didalam KTSP, struktur kurikulum yang dikembangkan mencakup tiga komponen yaitu;
  1. Mata Pelajaran
  2. Muatan Lokal
  3. Pengembangan Diri


Dalam komponen Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. Eksistensi program bimbingan dan konseling pada pendidikan formal di SMP/Madrasah sudah cukup berjalan dengan baik, hal ini terbukti dengan sudah berjalannya layanan-layanan pada bimbingan dan konseling.

Mengingat para peserta didik di SMP sebagian besar adalah remaja awal yang memiliki karakteristik dan tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Adapun tugas-tugas perkembangan peserta didik di SMP tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tugas Perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa meliputi topik-topik ;
  • Memahami secara lebih luas dan mendalam, meyakini dan menjalankan kaidah-kaidah agama yang dianutnya (Bimbingan Pribadi).
  • Memahami, menjalankan, hubungan sosial berdasarkan kaidah-kaidah agama yang dianut (Bimbingan sosial).
  • Memahami dan mewujudkan kegiatan-kegiatan belajar sesuai dengan kaidah-kaidah ajaran agama (Bimbingan belajar).
  • Memahami dan menjalankan kaidah-kaidah agama dalam pengarahan diri untuk pengembangan karir.
2. Tugas Perkembangan mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat, meliputi topik-topik ;
  • Memahami dan menerima perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri (Bimbingan Pribadi)
  • Memahami dan menjalankan pola hidup sehat (Bimbingan Pribadi)
  • Memahami bahwa perubahan fisik dan psikis mempengaruhi hubungan sosial serta bersikap empati kepada orang lain yang sedang mengalami perubahan fisik dan psikis (Bimbingan Sosial)
  • Memahami pengaruh perubahan fisik dan psikis terhadap kegiatan belajar serta mampu mengatasi kesulitan yang terjadi akibat perubahan fisik dan psikis dalam kegiatan belajar (Bimbingan Belajar)
  • Memahami bahwa kondisi fisik dan psikis mempengaruhi pengembangan persiapan karir serta mengembangkan kondisi fisik dan psikis yang sehat untuk pengembangan karir (Bimbingan Karir)
3. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita
  • Memahami, menerima dan menjalankan peran pribadi dalam kelompok sebaya sebagai pria atau wanita (Bimbingan Pribadi)
  • Mampu menjalin hubungan sosial dengan teman sebaya sesaui perannya sebagai pria atau wanita (Bimbingan Sosial)
  • Mewujudkan pengaruh positif dan menghindari pengaruh yang negatif dari hubungan teman sebaya terhadap kegiatan belajar (Bimbingan Belajar)
  • Memanfaatkan hubungan teman sebaya dalam upaya pengembangan persiapan karir dan memahami bahwa pria dan wanita mempunyai kedudukan yang sama dalam bekerja dan mengembangkan karir
4. Tugas perkembangan ; memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas
  • Memahami dan menjalankan nilai dan cara bertingkah laku pribadi dalam kehidupan diluar kelompok sebaya (Bimbingan Pribadi)
  • Memahami dan mampu menerapkan nilai-nilai dan cara berperilaku sosial dalam kehidupan diluar kelompok sebaya (Bimbingan Sosial)
  • Memahami pengaruh hubungan dalam kehidupan sosial yang lebih luas terhadap kegiatan belajar serta mewujudkan pengaruh positif dan menghindari pengaruh negatif dari hubungan dalam kehidupan sosial yang lebih luas terhadap kegiatan belajar
5. Mengenal bakat, minat, serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni
  • Memahami kemampuan, bakat dan minat yang dimiliki dan arah kecenderungan karir sesuai dengan bakat dan minat (Bimbingan Pribadi)
  • Mengenal aspek-aspek sosial terhadap kemampuan , bakat dan minat (Bimbingan Sosial)
  • Memahami aspek-aspek sosial dalam pengembangan karir dan dalam apresiasi seni (Bimbingan Sosial)
  • Memahami pengaruh positif kemampuan, bakat dan minat sendiri terhadap kegiatan belajar serta pengaruh positif apresiasi seni terhadap kegiatan belajar (Bimbingan Belajar)
  • Memahami pengaruh kemampuan, bakat dan minat terhadap karir (Bimbingan Karir)
  • Mampu mengarahkan kecenderungan karir sendiri sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat (Bmbingan Karir)
  • Mampu mengapresiasi berbagai jenis karir dalam bidang seni (Bimbingan Karir)
6. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan / atau mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan masyarakat.
  • Memiliki kesadaran dan dorongan yang kuat untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang menjadi program sekolah
  • Memiliki kesadaran dan dorongan untuk melanjutkan pelajaran pada tingkat yang lebih tinggi
  • Memiliki kesadaran dan dorongan untuk mempersiapkan karir yang cocok bagi dirinya (Bimbingan Pribadi)
  • Memiliki kesadaran dan dorongan untuk berperan aktif dalam kehidupan masyarakat (bimb. sosial)
7. Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi.
  • Memiliki gambaran tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi (Bimbingan Pribadi)
  • Memiliki gambaran tentang sikap yang seharusnya diambil dalam kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi (Bimbingan Pribadi)
  • Memiliki kesadaran dan dorongan untuk melaksanakan sikap dasar dalam kehidupan mandiri, emosional, sosial, dan ekonomi. Motivasi untuk melaksanakan sikap dasar dalam kehidupan mandiri, emosional, sosial dan ekonomi.(bimbingan Pribadi)
8. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan minat manusia.
  • Memiliki kesadaran ada dan perlunya sistem etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi dan anggota masyarakat. (Bimbingan Pribadi)
  • Memiliki dorongan yang kuat untuk berperilaku sesuai dengan sistem etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi dan anggota masyarakat.(Bimbingan Pribadi)
  • Memahami aspek-aspek sosial dalam sistem etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara. (Bimbingan Sosial)
  • Memahami pengaruh sistem etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara dalam kegiatan belajar. (Bimbingan Belajar)
  • Memahami pengaruh sistem etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara dalam kegiatan belajar (Bimbingan Karir).
Kedelapan tugas perkembangan peserta didik SMP itu merupakan kompetensi yang harus dikuasai secara optimal. Untuk pencapaian kompetensi secara optimal ini diperlukan kerjasama tiga pilar pendidikan yakni manajemen, pengajaran, dan bimbingan dan konseling. (Juntika Nurhasan, 2000 : 2).
Dikaitkan dengan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, maka sistem layanan bimbingan dan konseling di SMP tidak mungkin terselenggara dengan baik dan pencapaian kompetensi yang harus dimiliki peserta didik sulit diupayakan apabila tidak memiliki manajemen bermutu dan tidak dilakukan secara jelas dan terarah, faktual dan sistematis.

Dalam konteks inilah keberadaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi urgen disamping proses pembelajaran. Bahkan saat ini tige pilar pendidikan (pembelajaran, bimbingan dan konseling, dan manajemen/supervisi) menjadi sangat urgen untuk dikelola secara koordinatif, kooperatif dan sinergis, agar mendorong pencapaian kompetensi peserta didik secara optimal.

Secara garis besar program bimbingan dan konseling di SLTP hendaknya berorientasi kepada :
  1. Bimbingan belajar, karena cara belajar di SLTP berbeda dengan di SD.
  2. Bimbingan tentang hubungan muda-mudi, karena pada usia ini mereka mulai mengenal hubungan cinta kasih (Gibson dan Mitchell, 1981).
  3. Pada usia ini mereka mulai membentuk kelompok sebaya (peer group), maka program bimbingan hendaknya juga menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan sosial.
  4. Bimbingan yang berorientasi pada tugas-tugas perkembangan anak usia 12-15 tahun.
  5. Bimbingan karier baik yang menyangkut pemahaman tentang dunia pendidikan.
  6. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL), sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK), yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). 

Sumber : http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/eksistensi-program-bimbingan-dan.html

    Kamis, 26 April 2012

    Jenis Layanan Bimbingan Konseling


    1. Layanan Orientasi
    • layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. 
    • Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
    2. Layanan Informasi
    • layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). 
    • Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
    3. Layanan Konten
    • layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. 
    • Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.Layanan Penempatan dan Penyaluran; layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.
    4. Layanan Konseling Perorangan
    • layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. 
    • Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
    5. Layanan Bimbingan Kelompok
    • layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan
    6. Layanan Konseling Kelompok
    • layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
    7. Konsultasi
    • yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
    8. Mediasi
    • yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

    1. Aplikasi Instrumentasi Data
    • merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan.
    2. Himpunan Data
    • merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup.
    3. Konferensi Kasus
    • merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.
    4. Kunjungan Rumah
    • merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien.
    5. Alih Tangan Kasus
    • merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. 


    Sumber : http://delsajoesafira.blogspot.com/2012/04/bimbingan-dan-konseling-17.html

    Jumat, 20 April 2012

    Kriteria Kepribadian Bagi Seorang Pembimbing


    Mengingat apa yang telah disebutkan diatas, menjadi pembimbing (konselor) profesional tidaklah mudah. Pertama-tama konselor harus menghayati pengertian dasar bimbingan dan konseling serta asas-asasnya dan kedua dituntut untuk mampu melaksanakan usaha pelayanan sesuai dengan pengertian dan asas-asas tersebut. Disamping itu ada sepuluh hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kriteria kepribadian bagi seorang pembimbing, yaitu :
    • P  = Perangai
    • E  = Emosi
    • M = Mandiri - kemandirian
    • B  = Bobot
    • I   = Integritas
    • M = Mawas - kearifan
    • B  = Berani – keberanian
    • I   = Intelegensi
    • N  = Nalar
    • G  = Gagasan

    Pertama-tama seorang pembimbing atau konselor harus berperangai yang setidak-tidaknya wajar, dan kalau dapat, patut dicontoh. Alangkah janggalnya kalau ada seorang yang disebut pembimbing atau konselor tapi berperangai tidak senonoh. Perangai yang baik itu perlu diiringi oleh emosi yang stabil, tenang dan kalau mungkin memberikan kesejukan terhadap suasana bimbingan atau konseling yang diciptakan pembimbing. Perangai dan emosi pembimbing ini merupakan dasar bagi terwujudnya suasana bimbingan yang baik.
    Kemandirian pembimbing dituntut apabila ia hendak membantu si terbimbing atau klien untuk dapat mandiri. Kemandirian ini selanjutnya diberi wajah atau bobot pembimbing sebagai orang yang patut dimintai bantuan, dan karya-karya pembimbing tersebut. Selanjutnya penampilan kemandirian dan bobot pembimbing akan sekaligus menampilkan integritas atau keterpaduan kepribadiannya. Apakah pembimbing itu benar-benar telah dewasa, matang, stabil dan terintegrasi secara mantap?

    Ciri lain dari pembimbing ialah mawas : mawas diri sendiri, mawas lingkungan dan mawas pribadi orang yang dibimbingnya. Kemampuan mawas diri dan lingkunganya akan menjadikan pembimbing itu lebih arif dan bijaksana, sedangkan kemampuan mawas pribadi yang dibimbingnya akan memungkinkan pembimbing menerima orang itu sebagaimana adanya dan mampu melihat kekutan-kekuatan orang itu disamping kelemahan-kelemahannya.

    Pembimbing perlu berani. Pertama, berani memasuki usaha bimbingan dan konseling yang menampilkan pribadi-pribaditanpa topeng bukanlah pekerjaan yang mudah. Kedua, berani mengisi usaha bimbingan dan konseling dengan tehnik dan materi tertentu. Tentu saja keberanian yang dimaksudkan di sini bukanlah keberanian yang asal berani saja, melainkan keberanian yang disertai dengan kesiapan yang matang, yaitu terutama sekali kesiapan dalam membuka diri dan kesiapan dalam memperkecil kemungkinan resiko kegagalan sampai seminimal mungkin.

    Terakhir, pembimbing perlu memiliki intelegensi cukup tinggi. Usaha seperti diuraikan diatas jelaslah memerlukan pemikiran yang tidak ringan dan memerlukan upaya yang tidak sedikit. Orang-orang yang berintelegensi cukup tinggi akan mampu memikirkan dan mengelola suasana yang dapat dimanfaatkan orang lain untuk mengubah tingkah lakunya. Selanjutnya, intelegensi yang cukup tinggi akan memungkinkan pembimbing dapat menalar dengan baik dan dapat menelurkan berbagai gagasan yang bermanfaat.

    DAFTAR PUSTAKA
    Sumber bacaan : http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/kriteria-kepribadian-bagi-seorang.html

    Rabu, 18 April 2012

    Peranan Konselor


    Menurut Nurgent (1981) perkenbangan profesi konseling di Amerika Serikat melalui enam babakan yang masing-masing menampilkan persepsi tersendiri terhadap peranan konselor. Babakan itu adalah :
    • 1900 – 1920 : Awal dari konseling sekolah
    • 1920 – 1940 : Pengaruh Pendidikan Progresif terhadap Konseling
    • 1940 – 1960 : Awal dan perkembangan Konseling Psikologi
    • 1960 – 1970 : Usaha Profesionalisasi
    • 1970 – 1980 : Perjuangan terhadap profesionalisasi konselor
    • 1980 keatas : Perlunya Kesatuan dan Keluwesan Profesional.
    Pelayanan konseling di Amerika Serikat dimulai pada abad ke-20. Peranan konselor pada waktu itu ditandai dengan pelayanan bimbingan dan konseling jabatan atau pekerjaan, khususnya berkenaan dengan pemilihan, penyiapan sesorang untuk memasuki jabatan atau pekerjaan tertentu serta permasalahannya yang timbul ketika dan setelah seseorang memasuki jabatan atau pekerjaan tertentu.
    Bimbingan dan konseling jabatan mewarnai seluruh pelayanan yang dilakukan, termasuk pelayanan di sekolah-sekolah.

    Pada tahun 1920-an dan 1930-an pengaruh Jhon Dewey dengan “pendidikan progresifnya” melanda sekolah-sekolah. Progresivisme Dewey ini menekankan peranan sekolah menunjang perkembangan anak dalam segi-segi sosial, moral dan kepribadian, dan tidak semata-mata menangani masalah intelektual. Dalam kaitan ini, para pendidik yang “progresif” tidak menyukai pelayanan konseling yang bersifat vokasional, karena dipandang sebagai kurang melayani individu secara keseluruhan. Kemudian berkembanglah di sekolah-sekolah “ bimbingan pendidikan”. Tujuan utama dari bimbingan ini adalah meningkatkan keterampilan hidup bagi para siswa. Dengan demikian seluruh unsur sekolah harus berperanan sebagai “pendidik kejiwaan”.

    Penampilan pendidikan progresif ternyata tidak begitu lama. Pendekatan Dewey ini akhirnya mendapat tantangan dari orang tua dan para pendidik sendiri. Pendekatan progresif dianggap anti intelektual dan terlalu bersifat membiarkan anak.Dalam pada kegiatan itu kegiatan bimbingan di sekolah menjadi amat merosot. Jumlah konselor di sekolah menurun amat tajam. Bahkan pernah diperkirakan jumlah konselor sekolah pada tahun 1942 lebih rendah dibandingkan dengan jumlah konselor pada tahun 1915. Peranan konselor sekolah menjadi benar-benar kabur. Mereka sering kali ditugaskan sebagai “orang bijaksana” yang mengatur jadwal pelajaran, penjaga disiplin sekolah, ataupun sebagai petugas administrasi.

    Pada tahun 1940-an munculah peranan psikologi humanistik (yang ditokohi oleh Carl Rogers dan kawan-kawan) terhadap pelayanan sosial yang lebih luas. Pada babakan ini mulai berkembanglah konseling psikologi. Pada tahun 1950-an upaya konseling psikologi itu lebih menemukan bentuknya yang lebih jelas.

    Perkembangan ini lebih mengarahkan pekerjaan konseling pada bidang psikologi sehingga menimbulkan kekaburan bagi konselor yang semula tidak berorientasi pada psikologi di satu segi, dan mengumandangkan pengakuan yang tidak seimbang pada para ahli psikologi yang merasa lebih berwenang dalam pekerjaan konseling. Dalam suasana seperti ini konseling jadi terombang-ambing antara bidang psikologi dan pendidikan. Sebagai akibatnya, peranan konselor sekolah semakin tidak mantap. Para konselor makin terjerumus kedalam urusan administrasi yang bertele-tele. Konselor di Sekolah Dasar pada waktu itu bahkan belum dikenal.

    Pada akhir tahun 1950-an keadaan tiba-tiba berubah, yaitu dengan diluncurnya pesawat angkasa luar yang pertama oleh Uni Soviet (tahun 1957). Seperti telah disinggung pada awal bab 1, kejadian ini membuat bangsa amerika terkejut dan menyadari ketinggalannya. Usaha utama mengajar ketinggalan ini ialah melalui pendidikan.

    Sehubungan dengan hal ini kongres Amerika Serikat mengeluarkan keputusan yang amat menunjang perkembangan profesi konseling. Tujuan keputusan ini ialah untuk menelusuri dan mengembangkan bakat keilmuan canggih disekolah-sekolah sehingga bangsa amerika dapat kembali merebut kepemimpinan ilmu dan teknologi di dunia. Keputusan ini secara tegas menyokong dan memberikan dana yang besar bagi program konseling disekolah menengah. Seiring dengan itu, program pendidikan konselor mendapatkan sokongan yang tidak kurang pula. Lebih jauh, konseling di sekolah dasar juga mulai dikembangkan.

    Perkembangan baru yang muncul pada akhir tahun1950-an itu benar-benar merupakan momentum yang amat baik bagi profesi konseling. Harkat pekerjaan konseling itu, pada tahun 1960-an sisi lain dari dunia konseling, yaitu sisi yang lebih profesional berkembang pula. Pendekatan humanistik, behavioristik, gestalt dan eklektik berkembang dengan pesat. Di samping itu, APGA (american personnel and guidence association), ASCA (american shool counselor associantion) dan ACES (association for Counselor Education And Supervision) mulai merumuskan peranan konselor dan standar etika konselor secara lebih profesional. Rupanya momentum pada tahun 1960-an itu mendorong perkembangan dunia konseling pada taraf yang belum pernah dicapainya, baik dalam kuantitas maupun dalam arahnya yang lebih profesional.

    Namun tahun-tahun baik bagi dunia konseling ternyata tidak berlangsung lama. Sebetulnya pada tahun 1970-an kebutuhan akan pelayanan konseling amat meningkat baik di sekolah maupun di masyarakat pada umumnya, tetapi ternyata kebutuhan itu tidak terlayani secara memadai. Penerapan konseling profesional sebagaimana dirumuskan tidak terwujud. Perhatian yang seperti menggebu-gebu terhadap profesi konselling pada tahun 1960-an mulai menurun pada tahun 1970-an. Pada babakan ini peranan konselor sekolah dianggap tidak penting.

    Suasana muram pada tahun 1970-an itu tampak seperti terulangnya kembali penyakit yang menimpa dunia konseling tahun 1930-an sampai 1950-an. Bahkan keadaan tahun 1970-an tampak lebih parah karena kebutuhan dan aspirasi masyarakat makin meningkat serta tantangan dan persaingan dari profesi-profesi yang lain semakin kuat. Babakan tahun 1970-an itu benar-benar merupakan babakan perjuangan bagi profesi konseling. Atas kritikan dan tantangan yang amat deras itu, Pine (1975), mencari kaitan pada kenyataan bahwa sebagian besar konselor sekolah pada waktu itu sebenrnya Untrained (tidak dilatih terlebih dahulu), undertrained (dilatih secara tidak memadai) dan Uncommitted (tidak sepenuh hati menekuni pekerjaannya).

    Pada waktu itu banyak tenaga konselor yang diangkat tanpa terlebih dahulu diberi latihan, atau hanya diberi latihan sekedarnya saja, atau hanya diberi kesempatan menghadiri suatu lokakarnya singkat saja. Kritikan itu juga dikaitkan pada asumsi-asumsi dan tujuan konseling yang tidak jelas sehingga menimbulkan praktek yang tidak tentu arah, yang semuanya itu merugikan keberadaan profesi konseling sendiri.

    Karena pada waktu itu arti bimbingan dan konseling masih bermacam-macam atau bahkan konsep bimbingan dan konseling diartikan secara tidak tepat, maka timbul banyak kerunyaman dan kritikan. Di berbagai sekolah propesi konseling yang belum mapan itu banyak menimbulkan hambatan administratif.

    Tugas yang tidak jelas itu menimbulkan persepsi bahwa konseling adalah suatu yang dapat dilakukan tanpa persiapan terlebih dahulu dan tanpa keterampilan khusus ; Konseling merupakan pelayanan yang tidak unik dan dapat dilakukan oleh siapapun juga, oleh ahli-ahli lain, oleh orang setengah ahli, atau bahkan oleh sukarelawan yang tidak tahu ujung pangkal konseling. Adalah menyedihkan bahwa pelayanan konseling yang mestinya bersifat profesional terapeutik itu pelaksanaannya diserahkan kepada guru kelas.

    Dari semua kenyataan itu, akhirnya Pine menyimpulkan bahwa hanya jika para konselor tahu mengapa mereka ada, apa yang diharapkan dari mereka, apa fungsi yang unik dan tanggung jawab khusus dari mereka, mereka akan dapat mereaksi secara tepat terhadap segala macam kritikan dan tantangan itu.


    Tags : Persepsi Peranan Konselor, Konselor Dari waktu Ke Waktu, Peranan Konselor

    Profil Konselor


    Profil yang menampilkan ciri-ciri seorang konselor yang dikenal sejak lama. Tahun 1994 Graves telah menunjukkan bahwa seorang konselor hendaknya memiliki integritas dan vitalitas, gesit, dan terampil, memiliki kemampuan menilai dan memperkirakan secara tajam, standar personal yang tinggi, terlatih dan berpengalaman luas. Dowson (1948) melihat bahwa konselor perlu memiliki ciri-ciri objektif, menghormati anak, memahami dirinya sendiri, matang dalam menilai dan memperkirakan, mampu mendengar dan menyimpan rahasia, merupakan manusia sumber, teguh dalam pendirian, mempunyai rasa humor, mampu mengeritik secara membangun, serta memiliki kepribadian yang matang dan terintegrasikan.

    Pada waktu itu telah juga dikenal 24 ciri yang menonjol dari seorang konselor, diantaranya: jujur, setia, sehat, berkepribadian dan berwatak baik, memiliki filsafat hidup yang mantap serta memiliki sikap bahwa apa yang dilakukannya itu (yaitu pekerjaan konseling) merupakan suatu hal yang harus dilakukannya.

    Konselor juga digambarkan sebagai orang yang memiliki sifat-sifat kewanitaan atau keibuan (Farson, 1954), seperti lembut, menyenangkan, suka memberi dan tidak banyak menuntut, dan sebagainya. Rumusan yang diberikan oleh ASCA (1964) tentang sifat dasar npekerjaan konselor ialah sebagai “misi dengan keterkaitannya yang mendalam terhadap nilai-nilai kemausiaan”.

    Myrick dan Witmer (1972) mengemukakan lima macam peranan konselor, yaitu sebagai konselor (dalam arti khusus), sebagai konsultan, sebagai anggota tim kerja, sebagai pengelola, serta sebagai sumber informasi dan layanan bagi masyarakat.

    Munro, Manthei dan Small (1979) mengutarakan beberapa hal yang menyangkut profil konselor. Mereka menyatakan bahwa walaupun tidak ada pola yan tegas tentang sifat-sifat atau ciri-ciri kepribadian yang harus dimiliki oleh konselor yang efektif, tetapi sekurang-kurangnya seorang konselor haruslah memiliki sifat-sifat luwes, hangat, dapat menerima orang lain, terbuka, dapat merasakan penderitaan orang lain, mengenal dirinya sendiri, tidak berpura-pura, menghargai orang lain, tidak mau menang sendiri, dan objektif. Penelitian terhadap ciri-ciri kepribadian ini amat sulit karena adanya berbagai faktor, seperti ketidaksamaan bahasa, masalah-masalah pembandingan dan pengukuran dan masalah pemakaian hasil penelitian itu sendiri.

    Dalam usaha menguraikan sifat-sifat konselor yang efektif, cara yang paling baik adalah dengan memadukan hasil-hasil penelitian, pendapat para ahli, pengalaman pribadi, dan akal sehat. Barang kali suatu cara yang lebih berguna untuk menunjukkan sifat-sifat kepribadian itu menonjol, yaitu konselor sebagai model, hubungan konseling dan keberanian konselor untuk melakukan konseling.

    Sumber : http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/profil-seorang-konselor.html

    Tags : Profil Konselor, Konselor

    Senin, 16 April 2012

    Perkembangan Psikologi Anak Dalam kehidupan Sosial


    Perbedaan fase perkembangan status sosial di dunia anak-anak dalam persahabatan dan mendapatkan kawan bermain di lingkungan sekolah dan di luar lingkungan sekolah, berbeda dengan pengertian persahabatan yang terjadi pada orang dewasa, untuk orang dewasa persahabatan adalah suatu ikatan relasi dengan orang lain, di mana kepercayaan, pengertian, pengorbanan dan saling membantu satu sama lainnya akan terjalin dalam periode yang lama, sedangkan di dunia anak-anak tidak seperti halnya yang terjadi pada orang dewasa, di dunia anak-anak persahabatan terjalin tidak untuk waktu yang lama, terkadang bila terjadi masalah yang kecil saja, jalinan persahabatan tersebut akan terputus.

    Ada dua metode penelitian untuk mengetahui arti persahabatan dan kawan bermain di dalam dunia anak-anak :

    1. Dengan cara kita mengajukan beberapa pertanyaan, seperti Siapa teman dekatmu ? kenapa dia ? apa yang kamu senangi dari dia ?
    2. Dengan cara kita bercerita tentang persahabatan, kemudian kedua orang sahabat tersebut bertengkar karena mereka tidak dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik.
    Dari kedua metode tersebut, metode yang nomor dua kita akan banyak mendapatkan informasi, kemudian kita ajukan pertanyaan kepada anak ; Harus bagaimanakah situasi itu diselesaikan ?

    Dari banyak informasi yang diberikan anak tersebut, kita akan mendapatkan kesimpulan yang kita bagi dalam beberapa fase, seperti ;

    Fase Pertama

    Teman untuk bermain

    Teman bermain untuk usia anak antara 5 sampai 7 tahun. Bagi mereka, teman adalah seseorang yang mempunyai mainan yang menarik yang tempat tinggalnya dekat di sekitar mereka, dan mereka mempunyai ketertarikkan yang sama.

    Kepribadian dari teman tersebut tidak menjadi masalah, yang terpenting bagi mereka adalah kegiatan dan mainan apa yang mereka miliki, persahabatan mereka akan terputus apabila salah seorang dari anak tersebut tidak mau bermain lagi dengan anak lainnya karena kejenuhan dan kebosanan, persahabatan mereka akan secepat mungkin terputus dan terbina kembali begitu saja.

    Contoh percakapan yang sering kita temui pada anak-anak usia 5 sampai 7 tahun, antara lain mengenai berbagi makanan, misalnya ;

    “Kalau kamu memberi saya coklat, kamu temanku lagi”

    Dalam usia ini mereka dengan gampangnya mengatakan tentang berteman, biasanya percakapan mereka dimulai dengan perkataan “namamu siapa ? dan namaku......” dan mereka bisa begitu saja berteman setelah saling mengetahui nama masing-masing.

    Fase Kedua

    Teman untuk bersama

    Teman bermain dan membangun kepercayaan, untuk usia anak antara 8 sampai 10 tahun.
    Dalam usia mereka ini, pengertian teman sedikit lebih luas dari pada fase pertama, karena arti teman bagi mereka sudah melangkah ke perasaan saling percaya, saling membutuhkan dan saling mengunjungi.

    Dalam fase ini seorang anak untuk mendapatkan teman tidak segampang anak pada fase pertama, karena mereka harus ada kemauan berteman dari kedua belah pihak.
    Mereka tidak akan mau berteman lagi setelah di antara mereka timbul masalah, seperti ;
    • Salah seorang di antara mereka ada yang melanggar janji
    • Salah seorang di antara mereka ada yang terkena gosip
    • Salah seorang di antara mereka tidak mau membantu, disaat temannya tersebut membutuhkan pertolongan.
    Percakapan yang sering kita temui pada fase kedua ini, misalnya ;

    “Kenapa kamu pilih dia sebagai temanmu ?”

    Dalam fase ini, seorang anak tidak mudah menjalin persahabatan, biasanya persahabatan tersebut terjadi setelah beberapa saat mereka saling mengenal baik baru mereka akan menjalinnya, kadang persahabatan mereka bisa sampai usia dewasa, kadang juga terputus tergantung factor apa yang terjadi selama persahabatan mereka.

    Fase Ketiga

    Persahabatan yang penuh dengan saling pengertian

    Terjadi pada anak usia 11 sampai 15 tahun, bagi mereka arti teman tidak hanya sekedar untuk bermain saja, di sini seorang teman harus juga bisa berfungsi sebagai tempat berbagi pikiran, perasaan dan pengertian.

    Pada fase ini persahabatan memasuki stadium yang sangat pribadi, karena pada umumnya mereka sedang mengalami masa puber dengan permasalahan psikologis seperti ; depresi, rasa takut, problem di rumah, atau problem keuangan yang terjadi pada mereka, biasanya mereka lebih tahu permasalahan psikologis tersebut dibandingkan dengan orang tua mereka sendiri.

    Persahabatan pada fase ini bisa berubah seiring dengan berjalannya usia mereka, dari sekedar teman bermain, kemudian berkembang menjadi teman berbagi kepercayaan dan teman berbagi emosi. Persahabatan tersebut biasanya terputus karena salah seorang dari mereka pindah rumah atau melanjutkan sekolah di kota lain.

    Percakapan di antara mereka yang sering kita dengar pada fase ini, misalnya ;

    “Kita butuh teman yang baik, karena kita bisa berbagi ceritera di mana orang lain tidak perlu tahu, teman yang baik akan memberi nasihat atau jalan keluar yang terbaik”

    Pentingnya Persahabatan Untuk Perkembangan Sosial Anak-Anak

    Populer atau Tidak Populer dan Apa Akibatnya

    Di dalam lingkungan sekolah dasar, biasanya ada anak yang populer dan tidak populer, baik anak tersebut lebih menonjol karena kepintaranya atau pun karena hal yang lainnya.
    Mereka mendapat perhatian lebih, seperti selalu diundang dan hadir di pesta ulang tahun temannya sedangkan yang tidak populer tidak pernah diundang.

    Untuk mengetahui lebih jauh tentang hubungan sosial anak populer dan tidak populer di dalam kelas, seorang guru atau kita, dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka, seperti ;
    • Dengan siapa kamu mau pergi tamasya ?
    • Dengan siapa kamu mau duduk ?
    Ternyata anak populer lebih banyak disebut dan anak tidak populer jarang atau sama sekali tidak disebut. Untuk lebih mengetahui anak populer dan tidak populer, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dikembangkan lagi dengan pertanyaan-pertanyaan negatif dan pertanyaan-pertanyaan positif.

    Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita bisa lebih cepat mengetahui mana anak populer dan mana anak yang tidak populer dan juga kita bisa lebih cepat mengetahui serta membantu mengatasi problem si anak pada stadium yang masih belum terlalu jauh.

    Dengan cara tersebut, pada akhirnya kita bisa membedakan perkembangan anak-anak secara berurutan, seperti ;
    1. Anak-anak yang menyandang bintang sosiometris. Bintang sosiometris, artinya mereka paling banyak disebut sisi positifnya dari pada sisi
    2. Negatifnya, biasanya mereka disenangi dan diakui oleh teman-temannya sedikit dari mereka yang menyandang bintang sosiometris ini merasa terasingkan.
    3. Anak-anak yang biasa. Biasanya mereka tidak begitu populer dibandingkan dengan bintang sosiometris, tetapi mereka lebih banyak disebut sisi positifnya dan sedikit disebut sisi negatifnya.
    4. Anak-anak yang terisolir. Biasanya mereka tidak disebut sisi positifnya dan juga tidak disebut sisi negatifnya, sepertinya anak terisolir tersebut tidak terlihat oleh teman-temannya.
    5. Anak-anak yang terasingkan. Biasanya mereka oleh anak-anak yang lain diasingkan dan tidak diakui sebagai teman, mereka biasanya sedikit sekali disebut sisi positifnya dan lebih banyak disebut sisi negatifnya.
    Dari urutan-urutan di atas, kita sebagai orang tua harus cepat tanggap dan tidak ragu untuk bertanya kepada guru di sekolah, bagaimana perkembangan psikologi anak di lingkungan sekolah, hal tersebut dilakukan untuk membandingkan perkembangan psikologi anak di lingkungan rumah dan di lingkungan sekolah, supaya kita dapat secepatnya menelusuri dan mengetahui apakah anak kita mempunyai masalah dalam dirinya yang tidak berani diungkapkan kepada kita sebagai orang tuanya dan kita bisa dengan cepat menangani serta membantu memecahkan masalah si anak tersebut, sebelum masalah anak tersebut terlanjur merubah sifat dan karekter si anak.

    Sumber :

    Macam Gangguan Kepribadian


    Menurut PPDGJ III ( Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa di Indonesia III ). Pada Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III (Rusdi, 2000:102-105) Terdapat Yang di sebut dengan diagnosa Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa dewasa antara lain adalah sebagai berikut:

    1. Gangguan Kepribadian Paranoid 

    dengan ciri-ciri :
    • Kepekaan berlebihan terjadap kegagalan dan penolakan
    • Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam
    • Kecurigaan dan kecenderungan mendistorsikan pengalaman dengan menyalah artikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu sikap permusuhan dan penghinaan
    • Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi yang ada (actual situation)
    • Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar (justification) tentang kesetiaan seksual dari pasangannya
    • Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan yang bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri (self-referential attitude)
    • Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak substatantuf dari suatu peristiwa baik yang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada umumnya.
    Untuk mendiagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

    2. Gangguan Kepribadian Skizoid

    ditandai dengan deskripsi berikut :
    • Sedikitnya (bila ada) aktivitas yang memberikan kesenangan
    • Emosi dingin, efek mendatar, atau tak peduli (detachment)
    • Kurang mampu untuk mengekspresikan kehangatan, kelembutan atau kemarahan terhadap orang lain
    • Tampak nyata ketidak-pedulian baik terhadap pujian maupun kecaman
    • Kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain (perhitungkan usia penderita)
    • Hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri
    • Preokupasi dengan fantasi dan intropeksi yang berlebihan
    • Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau ada hanya satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu
    • Sangat sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial yang berlaku
    Untuk mendiagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

    3. Gangguan Kepribadian Dissosiala

    deskripsi berikut :
    • Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
    • Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus-menerus (persistent), serta tidak peduli terhadap norma, peraturan dan kewajiban sosial
    • Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya
    • Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan
    • Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya dari hukuman
    • Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat
    Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

    4. Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil
    • Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa mempertimbangkan konsekuensinya
    • Dua varian yang khas adalah berkaitan denga impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri.
    5. Gangguan Kepribadian Histrionik

    deskripsi sebagai berikut :
    • Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self dramatization) seperti bersandiwara (theariticality) yang dibesar-besarkan (exaggerated)
    • Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan
    • Keadaan afektif yang dangkal dan labil
    • Terus-menerus mencari kegairahan (excitement). Penghargaan (appreation) dari orang lain, dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat perhatian
    • Penampilan atau perilaku ”merangsang” (seductive) yang tidak memadai
    • Terlalu peduli dengan daya tarik fisik
    Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

    6. Gangguan Kepribadian Anankastik 

    ditandai dengan ciri-ciri :
    • Perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan;
    • Preokupasi dengan hal-hal yang rinci (detail), peraturan, daftar, urutan, organisasi, atau jadwal;
    • Perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas;
    • Ketelitian yang berlebihan, terlalu berhati-hati, dan keterikatan yang tidak semestinya pada produktifitas, sampai mengabaikan kepuasan dan hubungan interpersonal;
    • Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan sosial;
    • Kaku dan keras kepala;
    • Pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu atau keengganan yang tak beralasan untuk mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu;
    • Mencampur-adukan pikiran dan dorongan yang memaksa dan yang enggan.
    Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

    7. Gangguan Kepribadian Cemas ( Menghindar )

    dengan ciri ciri :
    • Perasaan tegang dan taku yang menetap dan pervasif
    • Merasa dirinya tidak mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain
    • Preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi social
    • Keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disukai
    • Pembatasan dalam gaya hidup karena alasan keamanan fisik
    • Menghindari aktivitas sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak.
    Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

    8. Gangguan Kepribadian Dependen 
    • Mendorong dan membiarkan orang lain untuk mengambil sebahagian besar keputusan penting untuk dirinya
    • Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain kepada siapa ia bergantung dan kepatuhan yang tidak semestinya terhadap keinginan mereka
    • Keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang dimana tempat ia bergantung
    • Perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian, karena ketakutan yang dibesar-besarkan tentang ketidak mampuan mengurus diri sendiri
    • Preokupasi dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengan nya dan dibiarkan untuk mengurus dirinya sendiri
    • Terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa mendapat nasehat yang berlebihan dan dukungan dari orang lain.
    Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas

    DAFTAR PUSTAKA


    Minggu, 15 April 2012

    Pendekatan Dan Bentuk Konseling Keluarga


    A. Pendekatan Konseling Keluarga

    Untuk memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah keluarga tersebut, berikut akan di deskripsikan secara singkat beberapa pendekatan konseling keluarga. Tiga pendekatan konseling keluarga yang akan di uraikan berikut ini, yaitu pendekatan sistem, conjoint, dan struktural.

    1. Pendekatan Sistem Keluarga

    Murray Bowen merupakan peletak dasar konseling keluarga pendekatan sistem. Menurutnya anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (disfunctining family). Keadaan ini terjadi karena anggota keluarga tidak dapat bmembebaskan dirinya dari peran dan harapan yang mengatur dalam hubungan mereka.

    Menurut Bowen, dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama dan kekuatan itu dapat pula membuat anggota keluarga melawan yang mengarah pada individualitas. Sebagaian anggota keluarga tidak dapat menghindari sistem keluarga yang emosional yaitu yang mengarahkan anggota keluarganya mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak menghindar dari keadaan yang tidak fungsional itu, dia harus memisahkan diri dari sistem keluarga. Dengan demikian dia harus membuat pilihan berdasarkan rasionalitasnya bukan emosionalnya.

    2. Pendekatan Conjoint

    Sedangkan menurut Satir (1967) masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga berhubungan dengan harga diri (Self – Esteem) dan komunikasi. Menurutnya, keluarga adalah fungsi penting bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental. Masalah terjadi jika slf-esteem yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi yang terjadi dikeluarga itu juga tidak baik. Satir m engemukakan pandangannya ini berangkat dari asumsi bahawa anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.

    3. Pendekatan Struktural

    Minuchin (1974) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat. Seringkali dalam membangun struktur dan transaksi ini batas-batasss antara subsitem dari sistem keluarga itu tideak jelas.

    Mengubah struktur dalam keluarga berarti menyusn kembali keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga yang bermasalah perlu di rumuskan kembali struktur keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.

    Berbagai pandangan para ahli tentang keluarga akan memperkaya pemahaman konselor untuk melihat masalah apa yang seang terjadi, apakah soal struktur, pola komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan sebagainya. Berangkat dari analisi terhadap masalah yang dialami oleh keluarga itu konselor dapat menetapkan strategi yang tepat untuk membantu keluarga..

    B. Bentuk Konseling Keluarga

    Kecendrungan pelaksanaan konseling keluarga adalah sebagai berikut :
    1. Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks sistem keluarga. Klien merupakan bagian dari sistem keluarga, sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak dapat mengesampingkan peran keluarga.
    2. Berfokus pada saat ini, yaitu apa yang diatasi dalam konseling keluarga adalah masalah-masalah yang dihadapi klien pada kehidupan saat ini, bukan kehidupan yang masa lampaunya. Oleh karena itu, masalah yang diselesaikan bukan pertumbuhan personal yang bersifat jangka panjang.
    Dalam kaitannya dengan bentuknya, konseling keluarag di kembangkan dalam berbagai bentuk sebagai pengembangan dari konseling kelompok. Bentuk konseling keluarga dapat terdiri dari ayah, ibu, dan anak sebagai bentuk konvensionalnya. Saat ini juga dikembangkan dalam bentuk lain, misalnya ayah dan anak laki-laki, ibu dan anak perempuan, ayah dan anak perempuan, ibu dan anak laki-laki, dan sebagainya (Ohlson, 19770.)

    Bentuk konseling keluarga ini disesuaikan dengan keperluannya. Namun banyak ahli yang mengajurkan agar anggota keluarga dapat ikut serta dalam konseling. Perubahan pada sistem keluarga dapat dengan muda di ubah jika seluruh anggota keluarga terlibat dalam konseling, karena mereka tidak hanya berbicara tentang keluarganya tetapi juga terlibat dalam penyusunan rencana perubahan dan tindakannya.

    DAFTAR PUSTAKA


    Faktor - Faktor Penting Yang Mempengaruhi Status Sosial Anak


    1. Cara orang tua mendidik dan membina anak

    Orang tua yang mendidik anak dengan cara bertahap dalam menjelaskan sesuatu hal, dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, biasanya anak-anak mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mereka akan mudah dalam mengembangkan hubungan sosialnya.

    Lain halnya dengan anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang secara penuh dan mereka dididik oleh orang tuanya dengan cara kasar serta mendapatkan peristiwa yang membuat anak tersebut trauma, maka kita bisa dengan jelas melihat perbedaan yang mencolok, biasanya anak tersebut sulit dikendalikan dan memiliki masalah, mereka tidak akan mudah membina hubungan sosial dan sulit membina persahabatan dengan anak lainnya.

    2. Urutan kelahiran

    Urutan kelahiran, mempengaruhi juga dalam status sosial anak, karena biasanya anak yang paling muda lebih populer dan terbiasa dengan negoisasi dari pada saudara-saudaranya.


    3. Kecakapan dan keterampilan mengambil peran

    Biasanya anak-anak populer memiliki kecakapan dan keterampilan dalam mengambil apa pun posisi peran dan posisi peran tersebut dapat berkembang menjadi lebih baik.

    Anak-anak populer biasanya memiliki intellegensi/kecerdasan yang baik.

    Dengan memiliki ciri-ciri tersebut, anak-anak populer lebih mudah menempatkan dirinya atau beradaptasi dilingkungan yang asing.

    4. Nama

    Ternyata di lingkungan anak-anak, nama dapat membawa pengaruh.

    Nama yang dapat diasosiasikan dengan sesuatu hal, dapat membawa pengaruh negatif terhadap perkembangan sosial psikologi anak. karena anak-anak masih sangat kongkrit dalam menyatakan sesuatu hal, akibatnya anak tersebut merasa rendah diri dan tersudut apabila anak-anak yang lain mencemoohkan karena namanya dapat diasosiasikan dengan sesuatu hal.

    5. Daya tarik

    Anak-anak yang memiliki daya tarik tersendiri, biasanya selalu populer daripada anak yang kurang memiliki daya tarik.

    Anak-anak yang berumur 3 tahun, sudah bisa membedakan mana anak-anak yang menarik dan mana anak-anak yang kurang menarik, reaksi ketertarikkannya hampir sama dengan orang dewasa.

    Pada anak usia 3 tahun, anak yang menarik dan anak tidak menarik tidak begitu kelihatan mencolok, tetapi pada anak usia 5 tahun, hal tersebut dapat terlihat sangat jelas, anak usia 5 tahun yang tidak menarik biasanya lebih agresif dan sering tidak jujur dalam bermain, sedangkan pada anak usia 5 tahun yang memiliki daya tarik, biasanya mereka sering diberi masukkan-masukkan yang positif dari sekitarnya sehingga tumbuh rasa percaya diri yang lebih tinggi, sabaliknya pada anak usia 5 tahun yang tidak menarik rasa percaya dirinya berkurang karena terpengaruh masukkan-masukkan yang negatif dari lingkungannya.

    6. Perilaku

    Tidak semua anak yang menarik menjadi populer karena masih banyak faktor lainnya yang bisa mempengaruhi katagori populer.

    Perilaku yang membuat anak populer, antara lain ; ramah tamah, mempunyai rasa simpati, tidak agresif, bisa berkerja sama, suka menolong, suka memberikan masukkan atau komentar yang positif, dan lain-lain.

    Secara umum faktor-faktor di atas terdapat pada anak-anak yang populer, dan factor-faktor tersebut dapat menentukan status sosial anak, tetapi tidak selamanya anak populer pada nantinya dapat menentukan status sosial, sebagian anak-anak yang tumbuh dari lingkungan yang selalu terjaga pendidikannya, intellegensinya, cakap dan terampil, mempunyai nama yang baik serta menarik tetapi tidak popular, sebagian lagi ada juga anak-anak yang tumbuh dari lingkungan yang bermasalah, kurang perhatian dari orang tua, mempunyai nama yang kurang bagus, dan tidak memiliki daya tarik, tetapi bisa juga menjadi populer.

    Lalu bagaimana dengan anak-anak yang kurang dihargai seperti ; Anak-anak yang terisolir dan Anak-anak yang terasingkan.

    Kelompok anak-anak tersebut memiliki nilai yang rendah dari anak-anak seumurnya, akan tetapi anak-anak yang terisolir lebih mudah diakui dari pada anak-anak yang terasingkan, namun lama kelamaan anak-anak yang terasingkan akan diakui juga.

    Anak-anak yang terasingkan memiliki resiko adaptasi lebih besar dalam usia menjelang dewasa, mereka menjadi terasingkan karena ada penyimpangan dari salah satu factor status sosial anak.

    Jika anak-anak ini lemah dalam menghadapi ejekkan-ejekkan atau godaan dari anak-anak lainnya, maka hal tersebut dapat membentuk perilaku dan proses belajarnya akan terganggu.

    Beberapa problem pada anak-anak yang terasingkan, antara lain ;

    • Secara terbuka mereka diasingkan
    • Sering terlibat dalam hal-hal kejadian interaksi yang negatif
    • Mempunyai masalah perilaku
    • Sering memperlihatkan perilaku agresif
    • Mempunyai status negatif yang stabil
    • Sering bermasalah di sekolah

    Secara umum anak-anak yang terasingkan, berreaksi dengan dua cara :

    1. Menarik diri

    Biasanya mereka menarik diri dari kontak dengan yang lain, mereka sebetulnya ingin main dengan anak-anak lainnya, tetapi mereka diacuhkan dan diabaikan keberadaannya, malahan mereka mengejeknya seperti dengan sebutan “professor” karena anak tersebut memakai kacamata, maka dari itu mereka selalu menhindar dari anak-anak lainnya, di rumah biasanya mereka juga pendiam dan selama mungkin tinggal di kamarnya dengan membaca komik atau mendengarkan musik, kepada orang tuanya mereka beralasan tidak suka main di luar.

    2. Perilaku anti sosial

    Biasanya mereka sulit untuk diatur, padahal anak-anak lainnya tidak suka dengan perilakunya, misalnya ;

    Pada saat anak-anak yang lain bermain bola, kemudian datang anak yang terasingkan, tetapi tidak untuk ikut bermain dengan anak-anak lainnya, anak tersebut datang hanya sekedar untuk mengganggu saja dengan mengambil bolanya, dan apabila ikut bermain bola pun anak itu akan tampil dengan kasar sehingga membuat anak-anak lainnya berhenti bermain, anak yang terasing itu akan marah-marah hingga akhirnya anak-anak yang lain terpaksa mengalah dan bermain bola kembali dengan aturan-aturan yang dikehendaki oleh anak yang terasing tadi.

    Untuk anak-anak yang terasing ini di negara-negara yang sudah maju, seperti di Belanda, para orang tua dari anak tersebut akan mendapat laporan dari pengajar atau guru, kemudian mereka diberikan penyuluhan dan konsultasi dari Psikolog Anak yang ada di bawah Departemen Urusan Anak-anak Bermasalah, kemudian akan dikirim ke Departemen Kesehatan untuk gangguan jiwa yang tidak stabil untuk diberi pengarahan dan keterampilan sosial dalam cara menyesuaikan diri atau cara beradaptasi di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah.

    Untuk orang yang lebih dewasa, mereka diajarkan semacam therapy untuk beradaptasi dalam lingkungan masyarakat supaya akhirnya mereka bisa mandiri.

    Sumber :
    Tags :  Faktor - Faktor Penting Yang Mempengaruhi Status Sosial Anak, Cara orang tua mendidik dan membina anak, Urutan kelahiran, Kecakapan dan keterampilan mengambil peran, Daya tarik

      Sabtu, 14 April 2012

      Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak Menurut Psikologi Dan Ajaran Rasullulah


      Oleh : Dr Liza (140.366.660) Dinkes Kab. Cirebon

      Perlakuan orangtua terhadap anak yang memberikan konstribusinya terhadap kompentensi sosial, emosional, dan intelektual anak. Pada penelitian oleh Diana Baumrind di bedakan adanya pola pengasuhan orang tua yang bersikap Authoritarian, permissive, authotaritative. Pada penelitian yang dilakukan oleh hurlock, shneiders dibedakan pola perilaku orang tua kedalam 7 kriteria yaitu: overprotective, permissive, rejection, acceptance, domination, submission, puniveness (overdisipline).

      (Syamsu Yusuf ,2005 :51)Becker, Deutsch, Kohn, sheldon, tentang kaitan antara pola asuh orang tua berdasar kelas sosial (Samsu Yusuf ,2005:53) sebagai berikut :
      • Kelas bawah cenderung lebih keras dan menggunakan hukuman fisik terjadap kelas menengah, anak dari kelas bawah bersikap lebih agresif, independen, lebih awal dalam pengalaman seksual.
      • Kelas menengah cenderung lebih memberikan pengawasan dan perhatian sebagai orang tua. Para ibunya merasa bertanggung jawab terhadap tingkah laku anak-anaknya dan menerapkan ambisi untuk meraih status tinggi, dan menekan anak untuk mengejar statusnya melalui pendidikan dan latihan profesional.
      • Kelas atas cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang reputasinya tinggi, dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya, anak-anaknya cenderung memiliki rasa percaya diri dan cenderung memanipulasi aspek realititas ; Tabel 2.5 Pola Asuh Orang tua terhadap Perilaku Anak (Syamsu Yusuf, 2005:50-51).
      Tags : Pola Asuh Orangtua Terhadap AnakPsikologi Dan Ajaran Rasulullah

        DAFTAR ISI Informasi Dunia Pendidikan


        1. Masa scholastik akhir
        2. Masa scholastik keemasan
        3. Masa scholastik awal
        4. Permulaan masa patristik
        5. Zaman keemasan patristik Yunani
        6. Pengertian contoh dan macam proses belajar
        7. Faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar
        8. Teori-teori belajar
        9. Tujuan mempelajari psikologi
        10. Sejarah singkat perkembangan psikologi
        11. Ruang lingkup psikologi
        12. Pola asuh orangtua terhadap anak menurut psikologi
        13. Pemikiran Islam modern
        14. Pengertian psikologi pendidikan
        15. Konsep psikososial
        16. Dasar dan faktor pendidikan Islam
        17. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi status sosial anak
        18. Pendekatan dan bentuk konseling keluarga
        19. Defenisi dan konsep filsafat dalam Islam
        20. Fungsi kurikulum
        21. Macam-macam gangguan kepribadian
        22. Peranan pengembangan kurikulum
        23. Konsep pendidikan berbasis masyarakat
        24. Perkembangan psiklogi anak dalam kehidupan sosial
        25. Kendala dalam mengimplementasikan pendidikan berbasis masyarakat
        26. Aliran dalam psikologi dan pandangan tentang karakter manusia
        27. Akhlak menurut pandangan Islam
        28. Pengertian dan kegunaan psikologi perkembangan
        29. Profil konselor
        30. Peranan konselor
        31. Pengertian tekhnologi pendidikan
        32. Sejarah teknologi pendidikan dan peningkatan profesi guru
        33. Kriteria kepribadian bagi seorang pembimbing
        34. Posisi dan fungsi profesi teknologi pendidikan
        35. Dasar pemikiran teknologi pendidikan
        36. Biografi Al-Ghazali
        37. Ajaran tasawuf Al-Ghazali
        38. Biografi Al-Qusyiairi
        39. Ajaran tasawuf A-Qusyiairi
        40. Tasawuf Al-Muhasibi
        41. Makalah hakekat pendidikan Islam
        42. Hakekat pendidikan Islam
        43. Karakteristik pendidik
        44. Biografi Harun Yahya
        45. Tugas dan kewajiban peserta didik
        46. Kurikulum pendidikan Islam
        47. Metode pendidikan Islam
        48. Materi pendidikan Islam menurut para ulama
        49. Evaluasi pendidikan
        50. Perbandingan tujuan pendidikan Islam di MI/SD
        51. Biografi Muhammad Abduh
        52. Jenis layanan bimbingan konseling
        53. Pendidikan menurut Muhammad Abduh
        54. Induksi dan deduksi
        55. Iluminasi
        56. Bimbingan konseling pada pendidikan formal
        57. Sekilas tentang mazhab-mazhab
        58. Mazhab Hanafi
        59. Mazhab Maliki
        60. Mazhab Syafi'i
        61. Mazhab Hambali
        62. Biografi Jamaludin Al-Afghani
        63. Jurnal perlawanan Jamaludin Al-Afghani
        64. Makalah pemetaan dan diskursus pemikiran Islam di Timur Tengah era modern 
        65. Tarekat Naqhsabandiyah
        66. Kriteria orang yang matang dan belum matang dalam beragama
        67. Tipologi pemikiran Islam di timur tengah
        68. Dampak kemajuan iptek terhadap pendidikan Islam
        69. Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu
        70. Pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah
        71. Pembentukan kepribadian muslim sebagai khalifah
        72. Cabang-cabang ilmu fiqh
        73. Sistem kelembagaan dalam pengelolaan zakat
        74. Dasar-dasar ilmu pendidikan
        75. Dasar-dasar filsafat ilmu pendidikan
        76. Konsep link and match dalam pendidikan
        77. Pengertian dan konsep sistem nilai
        78. Pendidikan dalam praktek memerlukan teori
        79. Landasan sosial dan individual pendidikan
        80. Teori pendidikan memadu jalinan antara ilmu dan seni
        81. Pengertian nilai dalam Islam
        82. Macam-macam nilai dalam Islam
        83. Pentingnya akhlak dalam kehidupan
        84. Biografi Jean Piaget
        85. Psikologi Lansia
        86. Pengertian psikologi menurut beberapa orang ahli
        87. Biografi Abdul Karim Soroush



        Jumat, 11 November 2011

        Sarana dalam Bimbingan dan Penyuluhan

        -
        a. Penyelenggaraan kartu pribadi
        Bimo Walgito mengemukakan tentang kartu pribadi yaitu :
        Kartu pribadi atau disebut juga daftar pribadi merupakan suatu daftar yang memuat semua aspek diri anak. Daftar pribadi ini memuat perseorangan sehingga masing-masing anak mempunyai daftar sendiri-sendiri. (Walgito, 1989:79)

        Kartu pribadi ini berfungsi sebagai langkah awal bila suatu saat akan membimbing, karena sesudah diketahui sebelumnya pangkal tolaknya.

        b. Penyelenggaraan papan bimbingan
        Penyelenggaraan papan bimbingan adalah merupakan suatu aspek untuk merealisasikan bimbingan penyuluhan di sekolah. Karena pada papan bimbingan anak-anak akan dapat melihat yang perlu diketahui oleh dirinya.
        Pada papan bimbingan ini bisa ditulis peraturan sekolah dan cara belajar yang baik.

        c. Penyelenggaraan kotak masalah
        Mengenai kotak masalah ini Bimo Walgito mengemukakan sebagai berikut :
        Kotak masalah sering pula disebut kotak tanya. Dasar pemikiran penyelenggaraan kotak masalah ini adalah untuk menampung masalah atau pertanyaan yang dihadapi oleh anak-anak yang lain dalam sekolah. (Walgito, 1989:79)

        Penyelenggaraan kotak masalah ini disamping bersifat kuratif juga bersifat prefentif serta bersifat korektif. Sehingga permasalahan yang timbul segera akan dapat dicarikan penyelesaiannya.

        d. Penyelenggaraan Kelompok Belajar
        Kelompok belajar adalah bahwa kegiatan-kegiatan digolongkan kedalam tiga golongan utama secara hakiki. Ialah kegiatan-kegiatan yang bersifat individual. Kegiatan yang bersifat sosial dan kegiatan yang bersifat Ketuhanan. (Walgito, 1989:143)

        Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa seseorang harus memiliki sosial yang baik, bekerja sama dengan lingkungannya serta mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi atau golongan.

        Secara spiikis dapat dikemukakan bahwa peranan dari bimbingan dan penyuluhan dalam lembaga pendidikan disekolah adalah memberika bantuan kepada siswa yang mempunyai permasalahan untuk dibimbing agar siswa yang bersangkutan mampu menyelesaikan kesulitan yang dihadapi baik pada saat sekarang maupun pada masa yang akan datang. Tugas tersebut tidaklah ringan dan segampang yang dibayangkan, apalagi jika dikaitkan dengan adanya gejala menurunnya aktivitas belajar siswa.

        Sifat Bimbingan dan Penyuluhan

        Masalah bimbingan dan penyuluhan mengacu pada situasi masa pemberian bantuan yang dilihat dari segi proses penampakan hal atau kesulitan yang dihadapi murid.

        Dengan kata lain pemberian bantuan dapat dilakukan sebelum ada kesulitan, selama ada kesulitan, dan setelah ada kesulitan yang dihadapi murid.

        Sifat bimbingan menurut Andi Mapiere dibagi menjadi empat yaitu :
        1. Sifat pencegahan (prefentif) yaitu pemberian bantuan (terutama) kepada murid, sebelum murid menghadapi kesulitan atau persoalan yang serius.
        2. Sifat pengembangan (development) yaitu usaha bantuan yang diberikan pada murid dengan mengiringi ‘perkembangan mentalnya ; yang dimaksudkan terutama untuk menetapkan jalan berfikir dan bertindaknya murid sehingga dapat berkembang secara optimal.
        3. Sifat penyembuhan (curatif) yaitu usaha bantuan yang diberikan pada murid selama atau setelah murid mengalami persoalan serius, dengan maksud agar murid agar terbebas dari kesulitan.
        4. Sifat pemeliharaan (Treatment) yaitu usaha bantuan yang dimaksudka terutama unuk memupuk dan mempertahankan kesehatan mental murid yang bersangkutan bertahan dalam kesembuhan, setelah menjalani proses penyembuhan.
        Dari keempat sifat bimbingan tersebut di atas, satu dengan yang lainnya sangat berbeda, dalam penggunaannya yang luas. Hafi Anshari membagi bimbingan menjadi dua bentuk bimbingan yaitu :
        a. Bimbingan yang bersifat prefentif
        1. Tata Tetib
        2. Menanamkan kedisiplinan
        3. Memberikan motivasi
        4. Memberikan nasehat
        b. Bimbingan yang bersifat kuratif
        1. Pemberitahuan
        2. Peringatan
        3. Hukuman
        4. Ganjaran (Mapiere, 1989:211)

        Followers

        Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

         
        Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes