Tampilkan postingan dengan label Guru (Guru Profesional). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru (Guru Profesional). Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2009

4 ALASAN MENGAPA SISWA BERPRILAKU MENYIMPANG


Seri Guru Profesional 1

Oleh Mudzakkir Hafidh
(Guru SDN Menanggal 601 Surabaya)

A..ha apaan tu…. Pembaca blog pendidikan yang berbahagia, begini ceritanya, pagi itu ketika saya dan guru yang lain berada di lapangan untuk apel apel pagi sebelum bel masuk sekolah, seperti biasa pada hari Rabu diawali dengan senam pagi 10 menit, kemudian dilanjutkan materi pembiasaan bahasa Jawa 10 menit dan di akhiri dengan do’a. nah.. pada saat setelah selesai berdo’a, ketika anak-anak siap masuk ke kelas masing –masing, tiba-tiba ada seorang guru di samping kanan saya memanggil tiga siswa kelas 5, siswa tersebut agak kaget ketika mendengar dirinya dipanggil. Sayapun menghampiri dan mendampingi si guru tersebut, ternyata si guru tersebut, Subhanallah, dengan lembutnya menasehati 3 siswa yang kebetulan semuanya laki-laki tersebut. Karena ada yang memakai gelang, yang satu memakai kalung dan yang lain rambutnya dimodel seperti anak pank.



Lalu saya berpikir, wah……..wah…kalau saja seluruh guru di Indonesia perhatiannya, ketelatenannya, dan kesabarannya seperti guru tersebut. Saya yakin 10 tahun lagi para generasi emas akan bermunculan di Indonesia ini, dan siap membangun bangsa dan negaranya.

Profesionalisme guru sekarang mengalami penciutan pemaknaan, banyak orang bilang profesionalisme guru itu berhubungan erat dengan kepandaian guru dalam membuat strategi pembelajaran, kepandaian guru dalam menggunakan IT yang ujung-ujungnya hanya pada 2 aspek saja yaitu aspek pedagogis dan aspek profesional, sementara aspek sosial dan kepribadian tidak dihiraukan. Beberapa guru sekarang banyak cuek atas perilaku murid-muridnya. Murid merokok di kantin sekolah, murid berpacaran di sekolah, murid berpakaian kurang rapi dan lainnya dibiarkan saja. Coba bayangkan….ketika menemukan siswa yang memakai asesoris yang kurang tepat, dalam berpakaian kurang rapi misalnya anak laki-laki memakai kalung, gelang dan lainnya, pakaiannya dikeluarkan, kukunya dipanjangkan, rambutnya di warna-warni, dimodel pank dan lainnya. Kemudian para guru diam saja. Jadi apa anak tersebut kelak. Ingatkan! Pakaian dan model pergaulan mencerminkan prilaku.

Karena itu saya salut dan bangga mempunyai teman guru yang masih perhatian pada hal-hal yang terjadi pada siswanya, meskipun banyak guru bilang, “itu kan mode jaman sekarang”, ada lagi yang bilang, “mengapa harus dilarang-larang, biarkan mereka (siswa) mengekspresikan diri mereka”, kalau anak SD berperilaku, berpakaian dan bertingkah pola seperti itu, kemudian sang guru diam saja karena alasan itu adalah ekspresi, maka jangan salahkan anak tersebut ketika SMP tidak cukup berkalung dan bergelang, saya yakin dia sudah menambahi asesoris tubuhnya dengan tato dan tindik, yang putri tidak cukup rambutnya di beri satu warna, saya yakin ketika SMP atau SMA si anak tersebut sudah mewarnai rambutnya dengan aneka ragam warna.

Kita sering lihat siswa SMP/SMA berprilaku yang tidak sesuai dengan budaya bangsa dan norma agama, misalnya bergaul lawan jenis berdua-duan, berboncengan dengan mesra (tangan si perempuan merangkul sang lelaki), merokok di sembarang tempat, bahkan di sekolah, suka tawuran, dalam berpakaian kurang sopan, misalnya celana di sobek-sobek, baju sampai pusar dan lainnya. Saya yakin agama manapun tidak memperkenankan perilaku seperti itu, mengapa mereka seperti itu, ini jawabannya :
(1)Karena para guru kurang care dan perhatian pada mereka sejak dini,
(2) Mengatasnamakan kebebasan berekspresi, sehingga para guru tidak peduli pada hal-hal kecil yang menyimpang,
(3)Kurangnya jalinan komunikasi yang akrab dengan siswa dan orang tua siswa,
(4)Guru tidak menganggap mereka adalah anak mereka sendiri, mereka dianggap seperti buruh, kalau salah ya di marahi. Karena itu banyak siswa yang juga acuh dan tidak hormat pada gurunya. Karena seringnya di marahi. Heee..hee. kasihan kamu ya…

Mari kita berusaha sedini mungkin untuk memberi perhatian kepada para anak didik kita, mereka adalah generasi penerus kita, karena itu mari kita bombing dengan kesabaran dan telaten, agar kelak mereka lebih hebat dari kita, Amin. Bagaimana pendapat anda?



Kamis, 21 Mei 2009

UNJUK RASA GURU, PANTASKAH?


Oleh Mudzakkir Hafidh

We…..we…..we….topik yang heboh, met ketemu lagi nich….hai pembaca blog pendidikan yang budiman, penulis doakan semoga para pembaca betul-betul menjadi orang yang budiman ya….berbudi dan beriman, amin.


Kali ini, saya akan menulis tentang unek-unek yang sudah lama terpendam, ceritanya begini, hari Kamis 7 Mei 2009, saya sengaja melihat berita sore di salah satu TV swasta, tiba-tiba ada 2 berita yang isi dan kontennya sama, tapi beda pelakunya, yaitu berita unjuk rasa yang pertama di bandung dan yang kedua di Goa Sulawesi selatan, bedanya yang pertama pelakunya adalah para buruh di sebuah pabrik tekstil dan yang kedua adalah para guru negeri. Dari segi tuntutan atau konten dari unjuk rasa itu adalah sama, sama-sama menuntut perbaikan kesyejahteraan, yaitu minta kenaikan gaji, karena gaji yang mereka terima selama ini tidak cukup untuk membiayai keperluan hidup mereka, dari segi waktu pelaksanaan sama, dua-duanya di saat jam kerja, para buruh meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan unjuk rasa ini, sedang para guru meninggalkan sekolah di saat jam mengajar untuk berdemo di depan kantor bupati Goa.

Kebebasan Bersuara

Dari segi pemenuhan hak untuk bersuara atau menyampaikan pendapat oleh setiap warga negara memang tidak salah alias betul, hal itu dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945. meskipun ada aturan-aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang harus diperhatikan. Selanjutnya kalau kita berfikir jernih, mereka juga tidak salah, bagaimana mungkin mereka sudah bekerja keras, namun atasan atau pemilik perusahaan tidak menghargai kerja keras mereka, jadi ya….wajar lah mereka bersuara menyampaikan aspirasinya. Apalagi gaji mereka tidak sesuai aturan, para buruh di Bandung tadi memang gaji yang mereka terima tidak sesuai dengan upah minimum regional di sana, sedang para guru PNS di goa, menuntut segera digaji sesuai dengan standar gaji guru PNS sesuai aturan terbaru yaitu naik 15 % mulai bulan Januari 2009.

Mana yang salah, pantaskan, mereka menuntut hak mereka. Apalagi kebebasan bersuara, kebebasan menyampaikan aspirasi di lindungi oleh undang-undang. Namun bagaimanapun perlu dipikirkan caranya, bagaimana cara yang cerdas dan cantik untuk melaksanakan kebebasan bersuara itu. Cara guru menyampaikan pendapat harus berbeda dengan buruh, apalagi dalam berita tersebut disampaikan para guru di goa yang unjuk rasa itu, sampai-sampai meninggalkan tugas utama mereka yaitu mengajar, mereka meninggalkan para siswa yang seharusnya mereka bimbing, karena satu alasan yaitu pemenuhan peningkatan kesyejahteraan dirinya.

Guru adalah Tauladan

Wah…wah…wah…kalau gurunya saja suka berdemo di jalan, kadang di selingi dengan bentrok dengan petugas keamanan, mengganggu jalan raya, terus bagaimana muridnya kelak, apalagi mereka meninggalkan tugas utama mereka yaitu mengajar. Walah..dalah…kok ngenes ya….pak guru…bu guru…ngono yo ngono…tapi ojo ngono.....ingatlah guru itu digugu dan ditiru, menjadi tauladan bagi muridnya. Kadang seringkali kita diwaduli/disambati orang tua, kalau anaknya itu lebih suka menuruti perintah guru dari orang tua, mereka bilang, “kalau saya yang beritahu pak, anak saya itu tidak langsung percaya, tapi herannya jika yang memberitahu atau memerintah itu gurunya, anak saya langsung mengerjakannya”. Kalimat seperti itu seringkan kita dengar dari orang tua. Nah karena itu, mari kita instrospeksi diri, pantaskah kita turun ke jalan untuk berdemo, sambil teriak-teriak berorasi di jalan yang rame itu, Sadarkah tempat orasi kita itu di depan kelas bukan di jalan raya. Pernahkah kita berfikir kalau seringnya para pelajar dan mahasiswa berunjuk rasa di sekolah dan kampus mereka, sambil sedikit-sedikit bakar ban, lempar kaca, dan berbuat onar itu sesungguhnya meniru dan meneladani kita. Mereka bilang, “Guru saja berdemo apalagi muridnya” ingat nggeh…sama pepatah…guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Mari kita kembangkan jalan musyawwarah dan diskusi terhadap setiap permasalahan. Allah berfirman “dan terhadap masalah-masalahmu maka bermusyawwarahlah” insya allah dengan bermusyawwarah yang dilandasi dengan rasa kekeluargaan dan semangat persatuan, maka akan ditemukan jalan keluarnya. Jangan sedikit sedikit berdemo, justru jika para guru berdemo dan berunjuk rasa di jalan, hal itu akan merendahkan martabat dan harga diri guru, harga diri korp guru, dan harga diri bangsa, Ingatlah bahwa guru adalah golongan orang yang terdidik dan tugasnya adalah mendidik siswa dan memberi tauladan siswa, maka mari kita gunakan hak bersuara kita dengan cara-cara yang mendidik dan cara-cara yang bijaksana, jangan justru sebaliknya. SUKSES GURU…., SUKSES SISWA….MAJULAH BANGSA. Bagaimana pendapat anda?





Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes