Jumat, 20 Maret 2009

Jangan Mau Jadi Pegawai

Mungkin sebagian besar anak SMA dan anak Kuliah ingin sekali kerja di tempat yang enak, dengan jabatan yang tinggi, serta gaji yang tinggi pula. Mereka juga pasti akan mencari jurusan yang berpeluang besar mendapatkan pekerjaan dengan kriteria di atas. Apakah benar semua orang ingin jadi pegawai? Terus yang mau bayar kita siapa dong? Makanya rubah pemikiran kita tentang pekerjaan.

Pekerjaan itu tidak selalu menjadi pegawai dan cara mencari pekerjaan pun tidak hanya melamar pekerjaan. Gue sering lihat nih banyak orang yang pontang panting nyari kerja, keliling jakarta, beli koran (buat ngelihat lowongan pekerjaan) tapi hasilnya seringkali kurang memuaskan. Menurut gue pribadi ada beberapa alasan yang bikin gue bahkan anda pembaca gak mau jadi pegawai:
1. Kesempatan kerja yang semakin lama semakin sedikit
2. Sulit untuk berkembang (palingan cuma naik jabatan, itu juga prosesnya lama)
3. Mematikan kreatifitas (Improvisasi kita sering dibatasi boss)
4. Gak tahan sama boss (apalagi kalo bossnya galak)
5. Bikin bosen (karena kita menjalani rutinitas yang hampir sama setiap harinya)

Gimana? Masih mau jadi pegawai? Ayolah sudah saatnya kita beralih menjadi wirausahawan. Come on Friend!!!

Selasa, 17 Maret 2009

Pendidikan Nasional VS Pendidikan Internasional

Sebagian dari kita masih rancu membedakan antara pendidikan internasional dan sekolah internasional. Di antara pendapat yang berkembang menyebut bahwa pendidikan internasional itu berciri khas seperti: Guru-gurunya adalah orang–orang asing, yang dalam kegiatan belajar-mengajarnya menggunakan bahasa Internasional. Lalu, kurikulumnya menggunakan kurikulum asing, seperti Singapore Curriculum, Australian Curriculum, dan yang semisal dengan itu. Sebenarnya, standar pendidikan internasional bukan sekadar pendidikan yang menggunakan tenaga pengajar asing dan harus berbahasa internasional. Itu, sekadar kulitnya. Pendidikan internasional harus dimaknai sebagai pendidikan yang menjadikan anak didik dapat berpikir secara terbuka, berwawasan luas, mengetahui dan memahami issue internasional (open and international minded). Maksud international minded adalah bahwa –sekarang dan kelak- para anak didik (akan) menjadi manusia yang 'berwarga-negara internasional' (dikenal dengan istilah global citizen), dimana kelak mereka mempunyai kemampuan berdaptasi untuk hidup bersama sebagai bagian warga dunia yang menjunjung tinggi nilai kedamaian dan kemanusiaan, saling menghormati terhadap berbagai perbedaan baik ras, suku. dan agama, serta mempunyai kesiapan baik keilmuan maupun pengalaman dalam mengarungi kehidupan global dengan landasan spiritual yang kuat. Jadi, pendidikan internasional bukan sekadar kulit belaka, namun lebih pada esensi yang terletak di dalamnya yaitu di aspek pembelajarannya.
Dalam pendidikan internasional, kurikulum yang diterapkan boleh-boleh saja kurikulum nasional, seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, tetapi di dalamnya disisipkan pendidikan untuk ber-internasional. Artinya, anak didik diberi pendidikan tentang hidup dalam suasana damai di dunia dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Dalam four pillars of education in UNESCO, ada empat dasar pendidikan, yakni: Learning to know (belajar untuk mengetahui); Learning to do (belajar untuk bertindak); Learning to be (belajar untuk menjadi seseorang yang bermanfaat); dan Learning to live together (belajar untuk hidup bersama dengan sesama dengan landasan saling menghormati dan saling menghargai). Pertanyaannya sekarang adalah apakah sistem pendidikan kita sudah mengacu ke sana? Apakah dengan dicanangkannya kurikulum baru yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, kelak akan muncul manusia Indonesia yang berbudi luhur dan berpikiran global? Semua ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama. Perguruan Islam Raudlatul Jannah, sebagai sebuah Lembaga Pendidikan, sadar akan adanya perubahan ini. Bahwa siswa perlu penambahan wawasan menyeluruh sedemikian rupa dasar keagamaannya yang kuat dapat lebih kukuh dengan diberikannya pengetahuan global dan ketrampilan hidup, sehingga mereka mampu menjadi bagian dan sekaligus mengambil sejumlah peranan dari komunitas dunia, dengan tetap memegang teguh nilai dan norma agama, hukum, dan moral. Intinya, di titik ideal, kemampuan belajar (learning skill) siswa yang dikembangkan dari setiap potensi dan kefitrahan yang mereka bawa sejak lahir tidak hanya bertumpu pada thinking skill (ketrampilan berfikir) saja -sebagaimana misi diadakannya Ujian Nasional (UNAS)-, namun seluruh potensi dan keunikan siswa harus terus dikembangkan melalui spiritual skill (kemampuan dalam menjalankan perintah agama), social skill (kemampuan berintraksi sosial), comunication skill (kemampuan berkomunikasi dengan baik), research skill (kemampuan mengadakan penelitian secara sederhana) dan problem solving skill ( kemampuan untuk dapat mencari sebuah solusi yang cerdas terhadap segala permasalahan sesuai dengan peran masing-masing).

Senin, 16 Maret 2009

Banyak guru yang salah memotivasi siswa dalam menghadapi UNAS (Ujian Nasional). Sampai-sampai “membinatangkan” siswa

Hidayatullah. com—Banyak orangtua dan guru salah memotivasi para siswa. Bahkan tidak memanusiakan mereka. Demikian peryataan trainer dan konsultan pendidikan, Muhammad Fauzil Adhim mengawali seminar merancang motivasi siswa di Gedung Diknas Surabaya.

There is no instant motivation (tidak ada motivasi yang cepat), yang dapat meng-install otak siswa, ujar Fauzil Adhim mengawali acara yang dihadiri sekitar 200 peserta itu.

Menurutnya perilaku instan hanya berlaku untuk mie atau makan siap saji, sedangkan memotivasi siswa diperlukan waktu yang kontinu dan trik khusus. Tidak asal memotivasi. Salah satunya, sinkronisasi isi dan gesture dalam memotivasi. Sebab, menurutnya komunikasi 80 persen dipengaruhi oleh gerak tubuh atau gesture.

“Bayangkan, jika Anda memotivasi, dengan suara rendah serta tanpa gesture, tentunya sangat membosankan bagi siswa” ujar Fauzil dengan suara lantang.

Dalam acara yang diselengarakan oleh Majalah Hidayatullah ini, penulis buku-buku parenting ini mengatakan bahwa banyak guru yang salah dalam memberi motivasi pada siswa. Sehingga yang terjadi bukannya murid berubah, malah sebaliknya siswa tidak mengalami perubahan signifikan. Dalam kasus UNAS, misalnya, guru sering memotivasi siswa dengan cara menjadikan UNAS sebagai “monster”.

UNAS dijadikan sebagai tolok ukur kesuksesan dan segalannya bagi siswa. Sehingga, guru mem-pressure siswa untuk belajar dengan sangat keras hanya untuk nilai. Hal ini, menurut Fauzil tidak akan membuat siswa semangat menghadapi ujian, justru akan takut.

Selain itu, waktu siswa hanya terporsir untuk belajar dan belajar tidak ada waktu untuk refresing. Beda halnya jika memotivasi dengan merubah paradigma siswa. “Jadikan UNAS sebagai ajang untuk berprestasi bukan untuk ditakuti,”tuturnya. Fauzil menyayangkan, banyak guru atau orang tua siswa yang mengkarantina siswanya , setiap waktu mendekati UNAS dengan menyuruhnya belajar dan belajar sehingga menyita waktu refresing dan lainnya.

“Bedakan, antara siswa dan binatang, jika hewan dikarantina, sedangkan siswa tidak,” ujarnya.

Selain masalah UNAS, menurut Fauzil, guru juga sering merusak motivasi intrinsik (intrinsic motivation) siswa. Guru sering memotivasi siswa dengan memuji. Atau menyuruh anak berprestasi karena bakal mendapat tepuk tangan dan pujian, memperoleh masa depan yang cerah atau menjadi orang hebat. Padahal, menurutnya bentuk motivasi itu hanya akan menjadikan siswa menjadi riya dan sum’ah. Selain merusak, motivasi itu tidak permanent dan berbahaya. Sebab, bisa merapuhkan mental siswa. [ans/www.hidayatullah. com]

Rabu, 11 Maret 2009

PAK GURU SIAPKAH BERSAING DENGAN INTERNET?

PESATNYA arus globalisasi serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)saat ini menuntut perubahan sikap dan pola pikir guru. Sebab, peran guru saat ini makin tersaingi dengan keberadaan internet dan televisi. Sekolah melalui gurunya harus bisa menjadi lembaga yang tidak sekadar transfer ilmu, tetapi juga nilai-nilai luhur.
Demikian benang merah imbauan yang disampaikan Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf saat menjadi pembicara keynote dalam Kuliah Umum yang diselenggarakan Majalah Guruku, Selasa (10/3) di Sabuga. Kegiatan yang diadakan cuma-cuma ini diikuti sekitar 1.500 guru se-Bandung Raya.
Menurutnya, internet dan televisi sebetulnya merupakan alternatif sumber belajar. Namun, pada kenyataannya, tidak jarang ini menggeser peran guru sebagai penyampai ilmu. "Saya terkejut anak saya yang baru berumur 8 tahun sudah pandai buka-buka website. Ditanya dia ikut les atau tidak, ternyata dia jawab tidak," tuturnya.
Dari pengalaman ini muncul pesan, internet dalam wadah TIK merupakan sumber yang luas untuk belajar. Jika guru tidak memutakhirkan dirinya terhadap perkembangan TIK, ucapnya, maka daya saing bangsa akan kian tertinggal. "Ke depan kan bakal banyak guru-guru asing mengajar di Indonesia, khususnya Jabar. Yang saya khawatirkan, justru mereka berasal dari Negara Jiran. Ini adalah tantangan."
Fenomena situs jaringan pencari kawan macam Friendster dan Facebook, ucapnya makin menegaskan fenomena masyarakat digital. Dalam konsep ini, masyarakat bagaikan sebuah keluarga besar yang melintasi batas wilayah dan saling aktif bertukar informasi. Sekolah, ucapnya, merupakan benteng untuk menyaring budaya global yang tidak sesuai budaya lokal. Di sinilah sekolah berperan sebagai lembaga transfer nilai.
Dalam kuliah umum, Kepala Subbidang Penghargaan dan Perlindungan Guru Direktorat Jenderal Depdiknas RI Dian Mahsnah mengatakan, guru sejatinya tetap kunci dalam proses pembelajaran. Namun, sebagai agen perubahan, guru dituntut harus mampu melakukan validasi-memperbaha rui kemampuannya, sesuai dengan tuntutan zaman agar tidak tertinggal.
Krisis guru idola
Menyinggung soal masih banyaknya guru yang gagap teknologi, menurutnya, hal ini lebih disebabkan karena faktor individu, enggan memperbaiki diri. Dengan adanya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), guru sebetulnya dituntut lebih memberdayakan TIK untuk proses pembelajaran bermutu. Demikian diucapkannya.
Hal yang tidak kalah penting adalah membiasakan mengajar dengan menyenangkan. Dengan demikian, pembelajaran menjadi semakin menarik bagi siswa. Berdasarkan survei yang disampaikannya, saat ini tengah terjadi krisis guru idola di Indonesia. Tingkat kepanutan guru di mata siswa hanya 58 persen. Kalah jauh dibandingkan tingkat panutan orangtua (90 persen), bahkan sesama teman sebaya (88 persen).
Menurut Pemimpin Redaksi Majalah Guruku Ismed Hasan Putro, guru merupakan penentu peradaban suatu bangsa, ujung tombak pendidikan. Selayaknya, anggaran 20 persen untuk pendidikan, 40 persennya diarahkan untuk perbaikan kesejahteraan guru. Demikian dikatakan Ketua Masyarakat Profesional Madani ini.

http://kesehatan. kompas.com/ read/xml/2009/ 03/10/20241954/ pak.guru.siapkah. bersaing. dengan.internet

Senin, 09 Maret 2009

DILARANG PROTES!

www.bam.gov

Trust! Kepercayaan adalah unsur paling penting yang harus ada dalam hubungan murid dengan guru. Jika murid tidak memiliki kepercayaan yang bulat dan mendalam kepada gurunya, maka sebaik apa pun kemampuan guru menguasai materi, tak akan berpengaruh banyak pada keberhasilan pendidikan. Murid mungkin menguasai mata pelajaran dengan baik, tetapi ia tidak berhasil membangun jiwanya. Kualitas pribadinya tidak berkembang dan ketaatannya pada nilai-nilai yang dibangun oleh guru hanya berlaku selama guru tersebut masih memiliki kekuatan. Ini berarti peserta didik –para murid—tidak berhasil mengembangkan sikap sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat), melainkan ketidakberdayaan. Sesungguhnya, ketundukan pada perintah itu ada bermacam-macam jenisnya. Pertama, taat karena percaya dan mengilmui apa-apa yang diperintahkan kepadanya. Mereka inilah yang mengambil sikap sami'na wa atha'na. Kedua, taat karena percaya penuh disertai pengabdian yang bulat tanpa mengilmui apa-apa yang dikerjakannya. Mereka inilah orang-orang yang taklid. Kedua, taat karena tidak berani melawan. Ilmu tak ada, kepercayaan rendah, pengabdian pun tak ada. Mereka inilah orang-orang yang tak berdaya. Dan sesungguhnya ketundukan yang timbul semata karena ketidakberdayaan merupakan ancaman yang sewaktu-waktu bisa meledak dan melemahkan setiap sendi kebaikan. Terlebih ketika orang tak bisa membedakan mana ketaatan yang diil-mui, mana taklid dan mana ketidakberdayaan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Karena itu, agar anak-anak yang mewarisi masa depan ini mampu menjadi pemimpin yang mendasarkan pada kebenaran, bertumpu pada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan keper-cayaan yang mutlak, mereka harus memperoleh pengalaman pendidikan yang di dalamnya terdapat iklim kepercayaan yang kuat terhadap guru. Mereka kita siapkan dalam lingkungan yang memiliki penghormatan dan adab yang tinggi terhadap guru.

Menancapnya kepercayaan yang kuat dalam dada setiap murid –bukan sekedar siswa— akan melahirkan dorongan untuk melihat, mendengar, meniru dan menghayati setiap tutur dan perilaku guru. Mereka memiliki sikap positif terhadap guru, mencintainya dan menjadi-kannya sebagai figur teladan. Jika guru mengembangkan hubungan yang hangat dan empatik, maka para murid akan mengarahkan diri mereka masing-masing untuk siap memperhatikan dan mematuhi setiap yang mereka dengar dari gurunya. Ini berarti, sekiranya guru tidak me-miliki keterampilan mengajar yang memadai, sementara kualitas pribadi sebagai figur yang layak diteladani dan dipercaya mampu menjalin kedekatan emosi dengan murid, maka pro-ses pembelajaran dan pendidikan akan tetap berlangsung efektif. Kata-kata guru akan tetap berpengaruh kuat pada diri murid meski suara mereka lemah dan cara penyampaiannya tidak atraktif.
Artinya, mengajar (ta'lim) sebagai proses transfer ilmu hanya bagian permukaan dari keseluruhan kegiatan mendidik di sekolah.

Jika ini terjadi, insyaAllah guru mampu mengelola para muridnya di kelas secara man-diri dan efektif. Tidak perlu dua orang guru untuk mengelola satu kelas yang terdiri dari 40-50 orang murid di dalamnya, sekalipun untuk SD kelas bawah yang rata-rata usia muridnya masih berada pada rentang 6-8 tahun.

Apa jumlah murid sebanyak itu tidak menciptakan keributan? Jawabnya sederhana. Jika kelas tidak efektif, 24 murid dengan 2 guru sekalipun tetap menghasilkan kegaduhan. Seba-liknya kelas besar yang efektif akan menciptakan iklim pembelajaran yang sangat kondusif dan dinamis. Chua Chu Kang, sebuah sekolah dasar di Singapura menerapkan pembelajaran kelas besar dan hasilnya... luar biasa, baik dari segi karakter maupun kompetensi.

Artinya, bukan rasio guru-murid yang menjadi faktor penentu utama keberhasilan kelas. Rasio guru-murid 1:10 tidak menunjukkan kualitas apa pun bagi sebuah sekolah jika guru ti-dak memiliki kemampuan dipercaya (trustworthiness) yang tinggi dan kualitas hubungan yang hangat. Sama seperti laboratorium bahasa atau komputer, kehadirannya tidak serta merta men-jadikan sekolah memiliki kualifikasi tinggi jika perubahan fisik tidak disertai dengan perubah-an paradigma dan cara berpikir.

Itu sebabnya, perlu kerjasama yang baik antara guru dan orangtua agar setiap murid me-miliki tingkat kepercayaan (trust) tinggi pada guru. Sebagaimana murid, para orangtua juga harus menjalani, menghormati dan menjaga adab sebagai orangtua murid terhadap guru se-laku murabbir ruh (pendidik dan penata jiwa) serta sekolah sebagai lembaga yang menyiapkan para murid untuk menjadi orang yang berilmu, gemar mencari ilmu, suka beramal shalih dan memiliki rasa tanggung-jawab untuk senantiasa mengingatkan saudaranya agar menetapi kebenaran. Apa pun yang dilakukan oleh guru dan sekolah, orangtua tidak boleh protes dan menunjukkan celaan di hadapan anaknya. Sebaliknya, orangtua justru harus menjadi pene-ngah yang membantu anak memahami guru dan sekolah, atau memberi perspektif positif pada diri anak dalam memandang guru maupun sekolah.

Ini bukan berarti tak ada jalan bagi orangtua untuk memperbaiki dan bahkan mengoreksi guru secara total –jika memang harus terjadi. Tetapi upaya untuk mengingatkan, menasehati dan memperbaiki guru maupun sekolah harus dilakukan dengan cara yang santun, menjaga kredibilitas guru dan sekolah, serta memperhatikan waktu dan tempat yang tepat. Dalam hal ini, sekolah bisa memfasilitasi dengan menyediakan majelis (forum) dan sarana bagi orangtua untuk menyampaikan kritik, teguran dan masukan.

Nah.

Jika orangtua harus menjaga tingkat kepercayaan anak terhadap guru, maka guru pun memiliki tugas untuk menumbuhkan kecintaan, kepercayaan, ketaatan dan penghormatan terhadap orangtua pada diri setiap murid. Upaya ini insyaAllah jauh lebih efektif dibanding jika masing-masing menyibukkan diri untuk mengingatkan murid agar menghormati diri. Perintah guru agar anak menghormati orangtua jauh lebih didengar daripada perintah untuk menghormati guru itu sendiri. Begitu pula sebaliknya, iklim penghormatan terhadap guru yang berkembang di rumah lebih mudah membangkitkan kepercayaan dan ketaatan.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Respect! Menghargai, menyambut dengan hangat ujaran dan nasehat, ber-gairah dan menghormati gagasan dan pendapat guru merupakan pilar kedua keberhasilan pendidikan di sekolah. Kita lebih mudah menerima, menyerap, mencerna dan memahami apa yang diajarkan kepada kita apabila ada rasa hormat yang amat dalam pada diri kita terhadap sang pengjar, yakni guru. Ini berarti, sebelum berbincang tentang kompetensi guru atas materi yang diajarkan serta keterampilan dalam mengajarkan di kelas, kita harus terlebih dulu membangun sikap hormat pada setiap diri murid. Jika iklim penghormatan terhadap guru muncul, insyaAllah akan mudah bagi se-kolah untuk menumbuhkan dua iklim berikutnya, yakni motivasi dan belajar. Artinya, moti-vasi sudah merupakan bagian dari iklim sekolah. Bukan hanya kegiatan yang dilakukan pada waktu tertentu.
Tumbuhnya iklim penghormatan (respect climate) di sekolah menjadikan pembelajaran di kelas maupun luar kelas sebagai proses yang menyenangkan. Ada keinginan yang kuat pada diri murid untuk secara terus menerus menemukan pengalaman belajar. Mereka juga belajar membangun kompetensi personal berupa kemampuan menghargai diri, menilai diri, mengendalikan diri, serta menghargai orang lain. Jika suasana ini berkembang secara berke-sinambungan, maka setiap murid dapat menjadi penguat bagi murid lain. Di sinilah gairah belajar yang sesungguhnya akan tercipta. Di sinilah pembelajaran mandiri akan terbangun.

Pada tingkat ini, keterampilan mengajar yang kurang memadai menjadi "tidak terlalu mengganggu". Tentu saja bukan berarti guru boleh mengabaikan aspek ini. Justru sebaliknya, guru harus terus menerus mengembangkan kemampuan mengajar agar lebih komunikatif. Ingat, salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah tabligh (komunikatif) .

Nah, aspek yang sangat menentukan bagi tumbuhnya sikap respect murid terhadap guru adalah kepercayaan yang bulat. Ini berarti, menumbuhkan rasa hormat murid terhadap guru harus berbarengan dengan upaya membangun kepercayaan. Secara terus menerus kita perlu membangun dan menjaganya, meski guru tersebut sudah tidak lagi mengajar anak-anak kita.

Terakhir tapi bukan berarti tak penting adalah ikatan emosi antara murid dan guru. Ruang kelas yang bisa kita sediakan bagi murid-murid kita mungkin tak begitu nyaman. Tapi bila terdapat hubungan emosi yang sangat hangat dan kuat, maka apa pun bentuk ruangan kelasnya, pembelajaran akan senantiasa terasa menyenangkan.

Wallahu a'lam bishawab.


By.M. Fauzil Adhim

Rabu, 18 Februari 2009

Pakta Kejujuran UNAS 2009

Unas 2009 sudah didepan mata, sekolah-sekolah di Indonesia mulai tingkat Sekolah Dasar sampai tingkat Sekolah Menengah Atas mulai mempersiapkan diri mengahadapi UNAS tersebut. Waktu belajarpun ditambah, sehingga jam kepulangan siswa pun tambah siang. Sebagian siswa setelah pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah, mereka langsung pergi ke tempat les semacam SSC, primagama, technos dan lainnya. Semuanya merasa jika gagal di UNAS maka gagal semuanya.

Anggapan bahwa UNAS adalah segalanya, menurut saya sangat membahayakan bagi ranah pendidikan di Indonesia. ini berakibat bahwa segala upaya dalam proses pembelajaran tujuannya adalah hanya untuk persiapan UNAS. Bahkan beberapa orang tua 'tidak percaya' dengan bimbingan di sekolah. Mereka lebih Pede mengikutkan putra-putrinya untuk mengikuti bimbingan belajar. mereka beranggapan bahwa pelajaran yang diajarkan disekolah hanya sebatas teori, tidak sampai ke tehnis artinya sekolah belum menemukan tehnik-tehnik jitu dalam menjawab soal-soal UNAS, tidak seperti lembaga bembel. hee.hee. wah bahaya ini.

Repotnya lagi kalau para guru tidak mempersiapkan siswanya secara serius dalam setiap pembelajaran. gara-gara siswa-siswanya sudah banyak mengikuti bimbel. atau sebaliknya para guru terlalu serius dan mati-matian untuk mempersiapkan siswanya agar lulus UNAS, sehingga kadang melupakan ranah pendidikan yang lain, psikomotor dan afektifnya di abaikan, kadang juga terlalu banyak memberikan tugas atau tryout, sampai hari minggu pun siswa harus masuk untuk belajar dan persiapan UNAS. luar biasa.......

Fenomena seperti di atas , saya pikir wajar. Sebagai usaha manusia untuk mencapai apa yang diinginkan. yang tidak wajar adalah kalau guru bertindak curang saat UNAS, mereka menghalalkan segala cara dengan berbagai trik agar siswa lulus UNAS dengan nilai baik dan bahkan terbaik, sehingga secara tidak langsung mengharumkan nama sekolah. waa...waah naif ya.

Karena itu usaha Bupati Bojonegoro (Bapak Soyoto) mengajak Kepala Diknas dan semua guru di wilayah Bojonegoro untuk berjanji bersama dalam sebuah Pakta Kejujuran, agar penyelenggaraan UNAS berjalan lancar dan jujur patut diacungi jempol, meskipun resiko sangat besar. (Drs Sapuwan. milis KGI). Usaha seperti ini layak mendapat apresiasi, tapi sayang pejabat seperti Soyoto tidak banyak.

Saya berkeyakinan jika semua Gubernur dan Bupati berani mengadakan pakta kejujuran di wilayah masing-masing, maka kualitas pendidikan Indonesia akan meningkat dan bermutu, karena seluruh komponen pendidikan sadar, bahwa untuk mencapai pembelajaran yang berkualitas harus disiapkan, diplanning dan dicontrol dengan baik, bukan dengan cara instan dan curang seperti selama ini.
Wallohu A'alam Bishhowab

Rabu, 04 Februari 2009

Tips Menaikkan Ranking di Kelas


Semua orang pasti pengen dapet nilai yang bagus dan rangking yang tinggi. Tapi hanya sebagian orang saja yang bisa mewujudkannya. Kira-kira caraya gimana yah? Nih, gue kasih sedikit tips buat temen-temen yang pengen rankingnya naik.
  1. Fokus saat guru menerangkan (mencatat adalah salah satu cara ampuh untuk semakin merangsang otak kita dalam mengingat pelajaran)

  2. Duduk di depan (80% dari temen gue yang duduk di depan rankingnya tinggi)
  3. Berpikir positif (sebagian besar temen gw yang bilang “belum belajar nih”, “aduh susah banget sih”, “gak bisa gue” gagal dalam ujian)
  4. Persiapkan diri kita sebelum pelajaran dimulai (pastikan otak kita tidak blank saat guru menerangkan)
  5. Yakin pada kemampuan diri kita (keyakinan pada diri sendiri akan menguatkan hati kita)
  6. Tidak mencontek (sebagian besar peringkat 1-3 diisi oleh orang-orang yang percaya akan kemampuan dirinya)

Tips-tips ini udah gue coba dan hasilnya lumayan memuaskan. Dulu gue peringkat 33, eh sekarang jadi peringkat 8. Alhamdulillah, Thanks Allah. Target selanjutnya adalah peringkat 4. Semoga tercapai, doain yah?

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes